Sahabat, alhamdulillah akhirnya saya bisa mengikuti program "Matrikulasi Ibu Profesional Batch #2" yang diselenggarakan oleh Institut Ibu Profesional (IIP). Materi pertama yang saya dapatkan di program ini adalah "ADAB MENUNTUT ILMU". Setelah kuliah online materi pertama ini dilaksanakan, saya ditantang untuk mengerjakan "Nice Homework #1" sebagai berikut :
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini!
2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?
3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
*Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia*
3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
*Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia*
Jawaban Nice Homework #1
1. Berpijak pada pemahaman dasar dalam syariat Islam tentang peran dan kewajiban utama seorang perempuan dalam Islam adalah:
- di ranah domestik sebagai ummun wa robbatul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga),
- di ranah publik sebagai pembangun peradaban mulia (pengemban dakwah Islam),
maka ilmu yang wajib saya pelajari dan tekuni di universitas kehidupan ini adalah ilmu yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas dalam menjalankan kedua peran dan kewajiban utama perempuan tersebut di atas. Tentu saja akan begitu banyak bekal ilmu yang wajib dipelajari dan ditekuni terkait hal tersebut.
Dari sekian banyak ilmu yang wajib saya pelajari dan tekuni, maka skala prioritas yang sangat saya butuhkan saat ini untuk meningkatkan kualitas saya sebagai ummun wa robbatul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga) dan pengemban dakwah Islam adalah:
- ilmu mendidik anak (positive parenting dan Islamic parenting),
- ilmu Al-Qur’an (tajwid, tahsin, tahfizh, tafsir, ‘ulumul Qur’an dan sebagainya).
2. Alasan terkuat untuk mempelajari dan menekuni kedua ilmu tersebut di atas adalah:
- Ilmu mendidik anak.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ
وَالْحِجَارَةُ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim : 6).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما نحل والد ولده أفضل من أدب حسن
“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al-Hakim: 7679).
ما نحل والد ولده أفضل من أدب حسن
“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al-Hakim: 7679).
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,
أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك
“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.” (Tuhfah al Maudud hal. 123).
أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك
“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.” (Tuhfah al Maudud hal. 123).
Mengenai tanggung jawab pendidikan anak terdapat perkataan berharga dari al-Imam Abu al-Hamid al-Ghazali rahimahullah.
Beliau berkata, “Perlu diketahui bahwa metode untuk melatih/mendidik anak-anak termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari urusan yang lainnya. Anak merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya dan qalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga dan murni yang belum dibentuk dan diukir. Dia menerima apa pun yang diukirkan padanya dan menyerap apa pun yang ditanamkan padanya. Jika dia dibiasakan dan dididik untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Dan setiap orang yang mendidiknya, baik itu orang tua maupun para pendidiknya yang lain akan turut memperoleh pahala sebagaimana sang anak memperoleh pahala atas amalan kebaikan yang dilakukannya. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan serta ditelantarkan seperti hewan ternak, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa serta dosa yang diperbuatnya turut ditanggung oleh orang-orang yang berkewajiban mendidiknya.” (Ihya Ulum al-Din 3/72).
Perkataan al-Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah, “Siapa saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya, lalu dia membiarkan begitu saja, berarti dia telah berbuat kesalahan yang fatal. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua mengabaikan mereka, serta tidak mengajarkan berbagai kewajiban dan ajaran agama. Orang tua yang menelantarkan anak-anaknya ketika mereka kecil telah membuat mereka tidak berfaedah bagi diri sendiri dan bagi orang tua ketika mereka telah dewasa. Ada orang tua yang mencela anaknya yang durjana, lalu anaknya berkata, “Ayah, engkau durjana kepadaku ketika kecil, maka aku pun durjana kepadamu setelah aku besar. Engkau menelantarkanku ketika kecil, maka aku pun menelantarkanmu ketika engkau tua renta.” (Tuhfah al-Maudud hal. 125).
b. Ilmu Al-Quran
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنِِّيْ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا : كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ.
“Sesungguhnya aku telah meninggalkan di antara kalian sesuatu yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Hakim I/71, No. 319).
إِنِِّيْ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا : كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ.
“Sesungguhnya aku telah meninggalkan di antara kalian sesuatu yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Hakim I/71, No. 319).
إِنَّ أَفْضَلَكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Dalam sebuah atsar dari Imam Syafi’i:
مَنْ تَعَلمََّ الْقُرْآنَ عَظُمَتْ قِيْمَتُهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي الْفِقْهِ نَبُلَ قَدْرُهُ، وَمَنْ كَتَبَ الْحَدِيْثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي اللُّغَةِ رَقَّ طَبْعُهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي الْحِسَابِ جَزُلَ رَأْيُهُ، وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ، لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ.
“Barangsiapa yang mempelajari al-Qur`an maka kedudukannya menjadi agung, barangsiapa yang belajar fiqih maka kehormatannya menjadi mulia, barangsiapa yang menulis hadits maka hujjahnya menjadi kuat, barangsiapa yang belajar bahasa maka tabiatnya menjadi lembut, barangsiapa yang belajar berhitung maka pendapatnya menjadi kuat, barangsiapa yang tidak menjaga dirinya maka ilmunya tidak dapat memberi manfaat kepadanya.” (Tawaali at-Ta`siis bi Ma’ali Ibnu Idris, karya al-Hafidz Ibnu Hajar, hal. 136).
مَنْ تَعَلمََّ الْقُرْآنَ عَظُمَتْ قِيْمَتُهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي الْفِقْهِ نَبُلَ قَدْرُهُ، وَمَنْ كَتَبَ الْحَدِيْثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي اللُّغَةِ رَقَّ طَبْعُهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي الْحِسَابِ جَزُلَ رَأْيُهُ، وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ، لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ.
“Barangsiapa yang mempelajari al-Qur`an maka kedudukannya menjadi agung, barangsiapa yang belajar fiqih maka kehormatannya menjadi mulia, barangsiapa yang menulis hadits maka hujjahnya menjadi kuat, barangsiapa yang belajar bahasa maka tabiatnya menjadi lembut, barangsiapa yang belajar berhitung maka pendapatnya menjadi kuat, barangsiapa yang tidak menjaga dirinya maka ilmunya tidak dapat memberi manfaat kepadanya.” (Tawaali at-Ta`siis bi Ma’ali Ibnu Idris, karya al-Hafidz Ibnu Hajar, hal. 136).
3. Strategi saya untuk menuntut ilmu di bidang tersebut adalah:
- Belajar kepada para guru yang memiliki sanad (untuk ilmu al-Qur’an) dan kapabilitas (untuk ilmu parenting dan ilmu al-Qur’an) di bidang tersebut dengan menggunakan metode talqiyan fikriyan (tergambarkan dalam benak/pemikiran sehingga menjadi paham). Pendapat ulama:
وَلاَبُدَ فِى سُلُوْكِ طَرِيْقِ الْحَقِّ مِنْ اِرْشَادِ اُسْتَاذٍ حَاذِقٍ وَتَسْلِيْكِ شَيْخٍ كَامِلٍ مُكَمَّلٍ حَتَّى تَظْهَرُ حَقِيْقَةِ التَّوْحِيْدِ بِتَغْلِيْبِ الْقَوِى الرُّحَانِيَةِ عَلَى اْلقَوِىِّ الْجِسْمَانِيَّةِ
“Diwajibkan bagi orang yang mencari jalan yang benar (belajar agama) untuk mencari seorang guru yang benar, dan di bawah arahan guru yang sempurna dan bisa menyempurnakan sehingga bisa menghantarkan kepada hakikatnya keyakinan dengan mengedepankan kekuatan ruhani mengalahkan kekuatan jasmani (akal pikiran).” (Tafsir haqqi, juz 15, hal: 13).
فَعَلَى قَارِئَ اْلقُرآنِ اَنْ يَأْخُذَ قِرَائَتُهُ عَلَى طَرِيْقِ التَّلَقِّى وَ اْلإِسْنَادِ عَنِ الشُّيُوْخِ اْلآخِذِيْنَ عَنْ شُيُوْخِهِمْ كَى يَصِلَ اِلَى تَأْكِدٍ مِنْ أَنَّ تِلاَوَتَهُ تُطَابِقُ مَا جَاءَ عَنِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه و سلم
“Bagi orang yang belajar membaca al-Qur’an di(syaratkan) untuk belajar cara membaca dari (guru) yang guru tersebut mendapat ajaran dari gurunya, agar kebenaran dari bacaan tersebut sesuai dengan apa
yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.”
(Haqqu al-Tilawaah, hal: 46).
- Menggunakan berbagai media dan sarana untuk menuntut ilmu, baik secara offline maupun online.
- Menambah berbagai pengetahuan di bidang tersebut dengan dirosah fardiah (belajar mandiri), merujuk kepada berbagai macam kitab penunjang.
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap yang harus saya perbaiki dalam proses mencari kedua ilmu tersebut adalah:
- Ikhlas semata-mata mempelajari ilmu untuk menjalankan kewajiban dari Allah SWT serta mengharap pahala dan ridha dari-Nya.
- Menjauhi perbuatan dosa dan maksiat serta senantiasa berdzikir dan beristighfar sehingga cahaya kebenaran dan ilmu tidak akan terhalang untuk masuk serta bisa dipahami oleh akal dan hati.
- Memegang prinsip belajar dalam Islam adalah “dirosah lil ‘amal” (belajar untuk diamalkan) dalam kehidupan, bukan untuk sekedar kepuasan intelektual dan prestise.
- Open minded (membuka pikiran -dan hati) untuk menerima ilmu apa pun, dari mana pun, dan dari siapa pun selama bermanfaat dan tidak bertentangan dengan hukum Allah SWT.
- Mengamalkan 6 wasiat menuntut ilmu dari al-Imam Syafi’i rahimahullah. Beliau berkata,
اخي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ
“Saudaraku, kamu tidak akan mendapatkan ilmu, kecuali dengan enam perkara: kecerdasan, semangat (antusias), kesungguhan, bekal, bergaul dengan guru, waktu yang lama.” (Diwaan asy-Syafi’i hal. 15).
Semoga Allah SWT meridhai semua rencana saya ini dan memberikan saya kemudahan, petunjuk, hidayah serta bimbingan dalam merealisasikannya. Aamiin Ya Mujiib ad-Du’a.
Bumi Salamodin
Kamis 20 Oktober 2016
Kamis 20 Oktober 2016
#NHW1
Komentar
Posting Komentar