Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Komunikasi Produktif

CHALLENGE #10; LEVEL #1; ALLAH MENILAI USAHA & DOA KITA, SEKECIL APAPUN...!

Hari baru, semangat baru. Di hari penuh tantangan ini, saya kembali bertekad bisa menjalani 24 jam pada hari ini dengan menerapkan komunikasi produktif kepada suami dan keempat putra-putri saya. Tentu bukan hal yang mudah, akan banyak tantangan sebagaimana hari-hari sebelumnya. Namun kesuksesan tidak akan pernah bisa kita raih tatkala kita tidak istiqomah dalam menjalani proses ini. Ya sebuah proses, untuk terus melatih diri menerapkan komunikasi produktif.  Alhamdulillah dalam menjalani proses hari ini, beberapa item komunikasi produktif berhasil saya terapkan kepada anak-anak. Item itu diantaranya adalah saya memberikan pujian yang jelas kepada putri ketiga saya, Zahwa. "Zahwa hebat, pintar, shalihah, bisa bangun paling pagi dan sekarang sudah siap berangkat sekolah..," demikian apresiasi saya. Adapun saat menggerakkan si sulung untuk segera mandi agar tidak terlambat pergi ke sekolah, saya terapkan item " keep information short & simple (KISS) , mengendalika...

CHALLENGE #9; LEVEL #1; HAMASAH, ISTIQOMAH TERUS MENJALANI PROSES...!

Seperti biasa kesibukan sejak pagi jam 4.30 telah dimulai di hari Selasa ini. Putri ketigaku, Zahwa tidak seperti biasanya, ia bangun lebih cepat. Setelah minum susu, ia segera mandi,  memakai baju seragam, kemudian shalat shubuh. Karena hari masih jam 5.30 pagi, Zahwa memutuskan ikut saya belanja ke warung. Saat keluar rumah menuju warung, saya tidak lupa mengapresiasi perubahan sikapnya yang luar biasa, "Wah, Zahwa hebat, masih pagi sudah siap berangkat sekolah!" Sepulang dari warung, saya siapkan sarapan buat Si sulung dan Zahwa. Mereka makan berdua karena si bungsu belum bangun. Jam 6 pagi, keduanya sudah siap berangkat sekolah diantar sang ayah. Tidak lupa, saat berangkat keduanya salam dan saya sampaikan harapan kepada Si sulung agar di sekolah bersikap baik, shalih, dan bicara yang baik saja. Saya pun berjanji kepada Zahwa akan menjemputnya pulang sekolah nanti. Alhamdulillah saya bersyukur pagi ini berhasil menyiapkan Si sulung dan Zahwa sampai keduanya berangkat se...

CHALLENGE #8; LEVEL #1; FAMILY TIME: MAKAN SIANG PENUH MAKNA

Ahad yang cerah. Agenda liburan akhir pekan kali ini seperti biasa keempat putra-putriku sejak pagi bermain bersama teman-temannya, yang masih keponakan saya. Saya dan suami menghadiri acara kajian bulanan di sebuah mesjid yang sama meskipun forum ikhwan dan akhwat berbeda. Dhuhur barulah saya dan suami pulang, kemudian mampir ke dua rumah saudara, menjemput pulang keempat putra-putri kami yang sedang bermain di sana. Saatnya saya menyiapkan makan siang, namun putra keduaku meminta kami makan siang di luar. Saya dan suami menyetujuinya. Bagi kami acara makan siang bersama keluarga di luar sudah menjadi kegiatan rutin 1-2 kali sebulan. Sebuah family time , meskipun sederhana hanya dengan makan mie ayam bakso dengan segelas jus jeruk, namun memiliki segudang manfaat. Di sinilah kami bisa membangun komunikasi yang baik dan produktif, mendekatkan hubungan emosional dan komunikasi dalam keluarga, menciptakan waktu berkualitas, menciptakan kenangan yang indah, membuat anak lebih terbuka, me...

CHALLENGE #7; LEVEL #1; TAK ADA BEBAN TANPA PUNDAK

Sungguh tantangan luar biasa menjalankan peran sebagai ibu dari 4 putra-putri dengan jarak usia berdekatan, dimana kondisi putra pertama terkategori hiperaktif tipe 1 dan mempunyai riwayat alergi pencernaan, putra kedua yang mengalami trauma psikis, kedua putri yang superaktif serta perseteruan berkepanjangan akibat sibling rivalry antara dua putriku, si bungsu dengan kakak perempuannya. Ditambah kewajiban mengelola rumah tangga tanpa asisten serta menjalankan program homeshooling bagi putra keduaku, dimana aku sebagai pengajar tunggalnya, terasa dibutuhkan energi yang jauh lebih besar dari biasanya. Padahal pasca sakit serius sejak April 2012 hingga kini masih dalam proses recovery, stamina tubuh jauh dari prima. Pikiran pun tidak mampu lagi dibebani berbagai persoalan berat dalam waktu bersamaan, apalagi disertai adanya tekanan dan ancaman fisik maupun psikis, hanya akan mendatangkan psikosomatis. Dalam hal komunikasi dengan keempat putra-putriku yang luar biasa ini, merupakan tanta...

CHALLENGE #6; LEVEL #1; "MILIKILAH ILMU, NAK, JIKA KAU INGIN SUKSES DUNIA & AKHIRAT

Sa'ad Ali Abdullah, itulah nama putra keduaku. Usianya saat ini 11 tahun. Anak yang baik hati, cerdas dan sangat peduli sesama. Sudah lebih dari tiga tahun, Sa'ad tidak sekolah formal. Ada kondisi depresi dan trauma mendalam yang dialami Sa'ad yang menyebabkannya phobi belajar di sekolah formal. Lima kali saya dan suami mencoba mendaftarkannya lagi ke sekolah yang berbeda, namun hanya bertahan 2 minggu, itu pun dengan perjuangan luar biasa untuk memotivasinya mau berangkat ke sekolah sampai saya harus menemaninya di dalam kelas. Selanjutnya Sa'ad kembali mogok tidak mau sekolah. Terapi ke therapis, psikolog dan psikiater, sudah dilakukan, namun belum ada perubahan yang sesuai harapan. Akhirnya saya dan suami sejak 2013  Sudah 5 kali, kami coba mengupayakan agar Sa'ad bisa sekolah formal dengan mendaftarkannya ke 5 sekolah. Maka sejak 2013, saya dan suami memutuskan Sa'ad  belajar di rumah atau homeschooling menginduk ke sekolah yang dikelola adik kandung saya d...

CHALLENGE #5; LEVEL #1; MEMBANGUN KEPRIBADIAN ANAK MENEPATI JANJI

Pagi yang sibuk, itulah yang saya rasakan setiap Senin pagi setelah sehari sebelumnya anak-anak libur sekolah. Pagi jam 4.00 WIB saya bangun, lalu melaksanakan aktivitas pribadi. Dilanjutkan sekitar jam 5.00 pagi, saya mulai menyetrika seragam sekolah anak-anak, mengecek dan menyiapkan perlengkapan sekolah mereka, juga menyiapkan sarapan buat mereka. Sambil menyiapkan sarapan,  saya selingi dengan mencuci piring dan gelas yang kotor, juga memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci.   Hari ini saya menargetkan putra-putri saya bisa berangkat sekolah tepat waktu. Pasalnya kedua putri perempuan saya,  masih sering terlambat datang ke sekolah. Banyak hal yang menyebabkan keterlambatan mereka, mulai dari tantangan bangun pagi, tantangan mandi dan sarapan, juga hal-hal sepele yang terkadang membuat kedua putri saya bermalas-malasan untuk bersiap berangkat ke sekolah. Tidak jarang keduanya masih sempat bermain-main ataupun saling bercanda, bahkan berselisih paham di pagi hari han...

CHALLENGE #4; LEVEL #1; "UMMI, AKU MAU BERENANG....!"

Di hari Ahad ini,  jam 5.00 WIB saya sudah mulai membereskan rumah karena jam 5.30 WIB adalah jadwal keluarga kami untuk belajar al-Quran bersama ustadz. Saat ustadz datang, putra kedua dan putri ketiga masih enggan membuka matanya, padahal saya dan suami sudah berupaya beberapa kali membangunkannya sejak shubuh. Selama ini keduanya memang yang paling besar tantangannya untuk bangun pagi. Akhirnya forum keluarga untuk belajar al-Quran tetap dimulai tanpa keikutsertaan putra kedua dan putri ketiga. Di saat bagian Si sulung mengulang tahsin dan setoran tahfizh kepada ustadz, saya berusaha membangunkan kembali kedua putra dan putri saya. Dengan komunikasi produktif dan sistem reward, saya memotivasi putra kedua untuk bangun dan segera bergabung di forum keluarga. Alhamdulillah putra kedua akhirnya bangun, pergi ke kamar mandi untuk wudlu, lalu shalat shubuh sebelum akhirnya bergabung di forum keluarga. Khusus putra kedua ini, memang masih menjadi PR besar bagi saya dan suami untuk me...

CHALLENGE #3; LEVEL #1; SI SULUNG YANG SENSITIF DAN HIPERAKTIF

Di hari libur imlek ini, keempat putra-putri saya sejak pagi sudah keluar rumah untuk bermain bersama teman-temannya. Saya pun telah mempunyai dua agenda untuk mengisi pengajian. Otomatis sejak jam 9 pagi sampai jam 15 sore saya tidak banyak berinteraksi dengan keempat putra-putri saya.  Sampai ba'da ashar, saya,  suami dan keempat putra-putri saya baru bisa berkumpul bersama di rumah.   Menjelang maghrib ini saya menargetkan untuk membangun komunikasi dengan Si sulung. Di usianya yang ke-13 tahun, perkembangan kecerdasan emosinya saya rasakan tidak secepat teman-teman seusianya, meskipun dari sisi kognitif, saya nilai ia tergolong anak yang cerdas. Saya menyadari kondisi Si sulung yang dilahirkan dalam keadaan memiliki riwayat alergi pencernaan dan tergolong anak hiperaktif tipe 1, membuatnya memiliki kebiasaan dan karakter yang unik. Ia sangat sensitif,  mudah tersinggung, sangat mudah tertekan, bicaranya sangat banyak, mengulang-ulang gerakan yang tidak perlu, ...

CHALLENGE #2; LEVEL #1; MENGHIDUPKAN HALQAH SANG BUAH HATI

Sudah lebih dari tiga pekan kegiatan halqah tsaqofah Islam keempat putra-putriku bersama keenam kawan bermainnya yang juga keponakanku vakum berjalan. Kondisi cuaca di musim penghujan ini seringkali menjadi tantangan dan daya tarik tersendiri buat anak-anak, khususnya saat hujan turun. Anak-anak lebih senang bermain hujan-hujanan dibandingkan mengikuti halqah yang rutin diadakan di rumah setiap Jumat dan Ahad sore. Walhasil selama lebih dari tiga pekan kegiatan halqah tsaqofah Islam anak-anak vakum berjalan. Hari ini saya membulatkan tekad untuk menghidupkan kembali halqah tsaqofah Islam anak-anak di rumah. Alhamdulillah kalau kawan-kawannya ikut serta juga. Saya bangun komunikasi produktif dengan suami untuk menyampaikan niat ini. Alhamdulillah suami setuju saja, namun beliau belum bersedia menjadi pemateri pada halqah perdana ini. Akhirnya kami sepakat, saya yang menjadi pemateri. Saya coba mencari kisah inspiratif untuk menghidupkan halqah perdana ini. Untuk mendukung niat baik say...

CHALLENGE #1; LEVEL #1; MEMBANGUN KELUARGA MENCINTAI AL QURAN

Hari ini adalah moment spesial bagi saya karena ini adalah kali pertama saya mulai mempraktikan materi sesi#1 di “Kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional (IIP)” tentang "Komunikasi Produktif". Dengan meluruskan niat dan membulatkan tekad, saya memulai aktivitas rutin hari ini sebagai ummun wa robbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga) sejak bangun pagi hari tadi hingga malam ini dengan berusaha menerapkan komunikasi produktif kepada suami dan keempat putra-putri saya, meskipun tentu saja saya masih menemukan berbagai macam tantangan mengingat kondisi komunikasi keluarga kami selama ini dirasa kurang produktif. Pagi hari jam 7.30 WIB setelah suami pulang dari mengantar anak-anak ke sekolah, saya mulai membangun komunikasi khusus dengan suami dalam rangka menjelaskan keikutsertaan saya di “Kelas Bunda Sayang IIP”. Saya pun berbagi tentang materi “Komunikasi Produktif”, juga tentang “Game Kelas Bunda Sayang - Level 1” berupa *TANTANGAN 10 HARI BERKOMUNIKASI PRODUKTIF* y...

ALIRAN RASA KOMUNIKASI PRODUKTIF

Sungguh perjuangan yang menantang saat saya harus menyelesaikan tantangan 10 hari berkomunikasi produktif di tengah keluarga saya yang istimewa. Bagaimana tidak menantang, sebuah bekal pemahaman tentang bagaimana cara berkomunikasi produktif dihadapkan pada kondisi keistimewaan dan keunikan masing-masing pribadi di dalam keluarga saya. Suami dengan gaya parenthogenic-nya, putra pertama dengan hiperaktif tipe 1-nya, putra kedua dengan trauma psikis-nya, putri ketiga dan keempat yang superaktif dengan disertai adanya perseteruan panjang akibat sibling rivalry di antara keduanya, menjadikan upaya berkomunikasi produktif menjadi penuh warna dan rasa. Meskipun teori komunikasi produktif telah dipelajari, praktiknya saat menghadapi perilaku keempat putra-putri saya yang istimewa dengan segala tantangannya dalam waktu bersamaan, tak jarang gaya komunikasi parenthogenic akhirnya meluncur dari lisan saya. Alih-alih tantangan berhasil ditaklukkan, yang terjadi menambah tantangan baru yang kian ...