Langsung ke konten utama

CHALLENGE #4, LEVEL #8, MENDIDIK ANAK CERDAS FINANSIAL SEJAK DINI: "TAWARAN BUAT MUSH'AB BERJUALAN BUKU"

Pada hari keempat mendidik anak cerdas finansial sejak dini ini, saya mengamati komunikasi Mush’ab, putra pertama saya berusia 14 tahun dengan sang ayah. Mush’ab menyampaikan kesulitannya berkomunikasi dengan kawan-kawan sekolahnya bila di rumah karena ia tidak memiliki hp. Akhirnya Mush’ab biasa meminuam hp saya dan berkomunikasi via massenger facebook ke teman-teman. Soal kepemilikan hp untuk anak-anak, bukan kami tidak mampu membelikan, namun sang ayah memiliki komitmen tegas hanya akan memberikan hp kalau anak-anaknya sudah besar nanti, mungkin saya menduga maksud sang ayah adalah saat anak-anak sudah duduk di bangku SMU.

Dari percakapan Mush’ab dengan sang ayah tertangkap bahwa sang ayah menawarkan kalau Mush’ab ingin membeli hp lebih cepat, maka Mush’ab mencari uang sensiri untuk membwli hpnya. Sang ayah menawarkan Mush’ab menjual buku-buku remaja Islami kepada teman-temannya di sekolah, seperti buku Ustadz Iwan Januar, Ustadz Felix Siauw dan lain-lain. Namun Mush’ab menduga kemungkinan teman-temannya tidak terlalu tertarik untuk membeli buku. Tapi memang belum pernah dicoba. dan Mush’ab belum memutuskan menerima tawaran itu sampai malam ini saya mengulangi tawaran itu kembali. Semoga berproses untuk belajar berjualan ya nak, aamiin

Bumi Salamodin
19 September 2017

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...