Langsung ke konten utama

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak.

Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keempat putra-putriku. Bahkan keempatnya terpaksa menjalani hidup terpisah di bawah asuhan orang tua dan saudara kami di empat kota berbeda (Bogor, Bekasi, Solo dan Majalengka) selama aku menjalani perawatan sakit. Semua ini sungguh telah meninggalkan luka dan trauma yang mendalam di hati keempat putra-putriku. Demikian pula meninggalkan luka, trauma, keterpurukan dan rasa bersalah pada jiwaku yang merasa tak mampu menjalankan peran sebagai ibu yang tangguh bagi keempat buah hatiku. Wajar jika saat ini keempatnya menagih begitu banyak curahan kasih sayang, perhatian, pikiran, perasaan, tenaga dan waktuku sebagai ibu yang melahirkannya. Terkadang semua itu terlampiaskan dalam berbagai bentuk perilaku mereka yang luar biasa istimewa dan menuntutku harus ekstra sabar menghadapinya.

Hadirnya tantangan family project ini memotivasiku untuk mulai mengoptimalkan kembali peranku sebagai ibu, pendidik pertama dan utama bagi keempat putra-putriku. Meskipun family project yang kubuat bersama keempat putra-putriku mungkin sangat sederhana, namun bagiku memiliki nilai yang sangat berharga. Sebuah kebersamaan, kerjasama, kecerdasan, kemandirian, kepercayaan diri dan begitu banyak manfaat lainnya yang tinggi nilainya dan tak mampu tergantikan uang sebesar apapun.

Tentu saja bukan hal yang mudah untuk menjalankan family project ini. Ada berbagai tantangan yang hadir mewarnai, mulai dari tantangan berkomunikasi produktif dengan keempat putra-putriku untuk menyepakati ide family project apa yang akan dijalankan hari ini. Ditambah sang ayah yang tidak bisa terlibat langsung karena kesibukannya dan tuntutan kerja yang mengharuskannya kerap keluar kota. Juga jadwal kumpul keluarga kami yang baru bisa terwujud setiap maghrib menjelang. Konsekuensinya, family project pun seringkali dilaksanakan pada malam hari dalam kondisi sisa-sisa tenaga dan pikiran. Namun demi membangun kepribadian Islam dan upaya meningkatkan kecerdasan keempat putra-putriku, aku tetap menjalaninya dengan semangat dan senang hati. Tantangan lainnya datang dari kedua putraku yang tidak suka aktivitasnya didokumentasikan. So, kegiatan dokumentasi dengan kamera pun dilakukan secara diam-diam. Sayangnya beberapa kali ketahuan kedua putraku sehingga membuat keduanya marah, lalu menghapus foto-foto yang kubuat saat menjalankan family project.

Semua itu tidak membuatku patah semangat. Setiap hari kumaknai dan kuisi kegiatan di sela-sela kesibukanku sebagai ummun wa robbatul bait dengan family project bersama keempat putra-putriku. Meskipun pelaksanaannya pernah beberapa kali tidak bisa melibatkan keempatnya. Namun demikian, aku berharap langkah ini menjadi proses berkesinambungan untuk terus membangun kepribadian Islam, mengasah dan meningkatkan kecerdasan keempat putra-putriku hingga mereka menjadi manusia dewasa yang bertakwa, berkepribadian Islam, cerdas, mandiri, berjiwa pemimpin dan bermanfaat bagi manusia lainnya, serta tentunya menjadi pejuang agama Allah. Di sisi lain, aku pun mulai menikmati kembali peranku sebagai ibu, pendidik pertama dan utama bagi putra-putriku. Sebuah peran mulia yang hanya mampu disandang oleh para wanita mulia yang bercita-cita mulia; “Mencetak Generasi Mulia, Pembangun Peradaban Mulia”. Semoga… Aamiin Ya Mujiib ad-Du’a.

Terima kasih kelas Bunda Sayang IIP yang telah membangkitkan kembali peranku sebagai ibu, pendidk pertama dan utama bagi keempat putra-putriku. Semoga Allah SWT membalas semua jasamu dengan pahala yang berlipat. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.


Bumi Salamodin
Sabtu, 15 April 2017

#AliranRasa
#GameLevel3
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKecerdasanAnak
#MyFamilyMyTeam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...