Langsung ke konten utama

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya. 

Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya.

Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua putra saya tersebut, saya membangun komunikasi produktif dengan keduanya untuk membuat kesepakatan tentang list kegiatan harian yang akan dilakukan sebagai hasil pilihannya sendiri. Walhasil kesepakatannya adalah putra pertama saya (Mush'ab, berusia 13 tahun) membantu saya membereskan tempat tidur sendiri, mencuci pakaian dengan mesin cuci, dan mengeluarkan motor dari garasi setiap hari. Adapun kesepakatan untuk putra kedua saya (Sa'ad, berusia 11 tahun) adalah membantu saya membereskan tempat tidur sendiri, serta membuka dan menutup jendela-jendela rumah setiap hari.

Di samping untuk melatih kemandirian pada anak, kegiatan-kegiatan tersebut adalah salah satu cara sederhana saya untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab pada anak. Hal ini mungkin terlihat sepele, namun akan berdampak besar terhadap pembentukan karakter anak di masa mendatang. Saya tidak mempersoalkan tingkat kerapihan ataupun tingkat keberhasilan setiap kegiatan tersebut. Yang terpenting bagi saya adalah kemauan anak untuk melakukan kegiatan tersebut dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani.

Alhamdulillah pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, putra pertama saya mulai melakukan kegiatannya, yakni mencuci pakaian dengan mesin cuci, juga mengeluarkan motor dari garasi. Adapun membereskan tempat tidur sendiri, ia belum sempat melakukannya sebelum berangkat sekolah tadi. Sedangkan putra kedua saya, hari ini berhasil melakukan kegiatannya untuk membereskan tempat tidur sendiri, sekaligus membereskan tempat tidur kakaknya yang belum sempat dibereskan, juga membuka dan menutup jendela-jendela rumah. Semoga melalui kegiatan-kegiatan sederhana ini akan terbentuk kemandirian, kepercayaan diri serta tanggung jawab pada kedua putra saya sebagaimana yang diharapkan. Aamiin.


Bumi Salamodin
22 Februari 2017


#Hari1
#GameLevel2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...