Langsung ke konten utama

CHALLENGE #3, LEVEL #10, MEMBANGUN KARAKTER ANAK LEWAT DONGENG: "KANCIL, ANJING & BUAYA"

Pada tantangan hari ketiga membangun karakter anak lewat dongeng, putri bungsu saya Shafa meminta saya melanjutkan cerita dongeng untuknya, terkait cerita kancil. Maka saya pun mulai bercerita kembali tentang "KANCIL, ANJING & BUAYA".

Inti ceritanya adalah kancil terkena jebakan memedi sawah Pak Tani. Lalu kancil ditangkap Pak Tani dan dimasukkan kurungan. Tiba-tiba anjing mendekatinya. Dikatakan kepada anjing bahwa ia akan diajak ke tempat pesta oleh Pak Tani. Karena iri, anjing menggantikan kancil di dalam kurungan. Apa yang terjadi keesokan harinya? Anjing dipukuli Pak Tani yang jengkel.

Kancil pergi jauh untuk menghindari serangan kemarahan anjing. Perjalanannya harus menyeberangi sungai besar. Padahal, tidak ada jembatan dan tidak ada perahu. Lalu, dengan apa kancil menyeberang? Ternyata, kancil dapat memanfaatkan buaya untuk menyeberangi sungai.

Adapun pelajaran yang bisa diambil dari dongeng di atas antara lain, pertama, kita hendaknya waspada, jangan mudah percaya omongan orang. Jika tidak, kita bisa tertipu seperti anjing. Kedua, dalam menghadapi bahaya, kita harus berusaha menyelamatkan diri. Hal itu dicontohkan oleh kancil yang mampu keluar dari kurungan. Ketiga, kita hendaknya rajin belajar agar tidak bodoh seperti buaya yang dengan gampang ditipu kancil.

Bumi Salamodin
9 Desember 2017

#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...