Family project hari ini adalah musyawarah keluarga untuk membangun komunikasi produktif dengan keempat putra-putri saya. Musyawarah kali ini bertujuan untuk membangun komitmen putra-putri saya, khususnya Mush’ab, Sa’ad dan Zahwa untuk BERLATIH MEMANAH. Rencana ini sebenarnya sudah hampir setahun lalu tercetus, namun tertunda dengan adanya berbagai faktor. Diantaranya, sarana berlatih memanah yang kami temukan di daerah kami saat itu adalah berlatih memanah yang disiapkan untuk berbagai kejuaraan nasional, semacam PORDA maupun PON. So, latihannya membutuhkan keseriusan dan komitmen yang tinggi. Saat itu, saya meminta keseriusan dan komitmen kedua putra saya akan hal ini, namun ternyata mereka saya nilai belum siap. Ini saya nilai dari latihan karate yang telah mereka ikuti sebelumnya, ternyata tidak bertahan lama. Dengan berbagai alasan yang dikemukakan, mereka berhenti latihan karate sejak enam bulan lalu. Sayabtidak ingin hal ini terjadi pula pada latihan memanah. Maka saya putuskan, mereka tidak saya ikutkan dulu mengingat biaya untuk latihan memanah untuk kejuaraan ini tidak kecil. Harga alat panahan yang harus dibeli untuk standar kejuaraan ini minimal 4 juta rupiah.
Pada musyawarah keluarga kali ini yang dilaksanakan sekitar jam delapan malam tadi dihadiri kami berlima, minus putri bungsu karena ia sudah tertidur pulas sejak sebelum maghrib saat main di rumah tetangga depan rumah. Ba’da maghrib tadi kami menjemputnya pulang dalam kondisi ia tidur. Namun ketidakhadiran putri bungsuku Shafa yang berusia lima tahun dalam musyawarah keluarga ini tidak mengurangi esensi dari musyawarah keluarga ini dibuat. Rencananya in syaa Allah saya akan menyampaikan hasil musyawarah kepada Shafa di luar forum ini besok.
Dalam musyawarah kali ini, saya dan suami sepakat untuk melaksanakan rencana kami yang sudah lama tertunda yakni mulai Ahad ini kami akan mengikutkan ketiga putra-putri saya untuk berlatih memanah. Adapun Shafa karena masih terlalu kecil, kali ini belum diikutkan dulu. Kesepakatan ini muncul setelah seminggu lalu, teman kami menyampaikan informasi tentang adanya latihan memanah untuk pemula, di luar tujuan kejuaraan. Pelatihnya atlet panahan daerah kami, namun berbeda dengan pelatih yang latihan memanah untuk kejuaraan. Alat panahannya pun bisa memakai alat panahan untuk pemula yang bukan standar kejuaraan. Harganya lebih murah sekitar 500 ribu rupiah. Dengan melihat kesiapan mental dan komitmen putra-putri kami, maka kami putuskan mereka lebih cocok diikutkan berlatih memanah untuk pemula ini sambil terus diproses tingkat keseriusan dan komitmennya.
Kesepakatan tentang berlatih memanah ini kami sampaikan di musyawarah keluarga kepada ketiga putra-putri kami. Zahwa langsung setuju. Sedangkan dua putra saya masih mempertimbangkan. Saya coba motivasi kembali putra-putri saya tentang kehidupan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup. Tidak lupa saya sampaikan bahwa profesi terbaik dalam hidup ini adalah sebagai da’i (orang yang berdakwah). Sebagai da’i, saya sampaikan kepada mereka bekal yangbharus dimiliki, diantaranya menguasai ilmu al Quran, termasuk hafal al Quran, menguasai tsaqofah Islam, menguasai bahasa Arab dan Inggris, menguasai ilmu komunikasi, juga menguasai ilmu bela diri. Untuk bela diri ini saya memberikan pilihan kepada mereka, bisa ikut latihan karate kembali atau ikut latihan memanah. Mereka lebih memilih latihan memanah asalkan saya mendampingi mereka saat latihan. Saya pun sepakat dan semangat ingin ikut latihan juga kalau emak-emak boleh ikutan latihan juga. Semoga bisa terlaksana sesuai rencana, in syaa Allah. Aamiin.
Bumi Salamodin
Jumat, 7 April 2017
#TantanganHari16
#GameLevel3
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKecerdasanAnak
#MyFamilyMyTeam
Komentar
Posting Komentar