Langsung ke konten utama

CHALLENGE #16, LEVEL #3; BERLATIH MEMANAH

Family project hari ini adalah musyawarah keluarga untuk membangun komunikasi produktif dengan keempat putra-putri saya. Musyawarah kali ini bertujuan untuk membangun komitmen putra-putri saya, khususnya Mush’ab, Sa’ad dan Zahwa untuk BERLATIH MEMANAH. Rencana ini sebenarnya sudah hampir setahun lalu tercetus, namun tertunda dengan adanya berbagai faktor. Diantaranya, sarana berlatih memanah yang kami temukan di daerah kami saat itu adalah berlatih memanah yang disiapkan untuk berbagai kejuaraan nasional, semacam PORDA maupun PON. So, latihannya membutuhkan keseriusan dan komitmen yang tinggi. Saat itu, saya meminta keseriusan dan komitmen kedua putra saya akan hal ini, namun ternyata mereka saya nilai belum siap. Ini saya nilai dari latihan karate yang telah mereka ikuti sebelumnya, ternyata tidak bertahan lama. Dengan berbagai alasan yang dikemukakan, mereka berhenti latihan karate sejak enam bulan lalu. Sayabtidak ingin hal ini terjadi pula pada latihan memanah. Maka saya putuskan, mereka tidak saya ikutkan dulu mengingat biaya untuk latihan memanah untuk kejuaraan ini tidak kecil. Harga alat panahan yang harus dibeli untuk standar kejuaraan ini minimal 4 juta rupiah.

Pada musyawarah keluarga kali ini yang dilaksanakan sekitar jam delapan malam tadi dihadiri kami berlima, minus putri bungsu karena ia sudah tertidur pulas sejak sebelum maghrib saat main di rumah tetangga depan rumah. Ba’da maghrib tadi kami menjemputnya pulang dalam kondisi ia tidur. Namun ketidakhadiran putri bungsuku Shafa yang berusia lima tahun dalam musyawarah keluarga ini tidak mengurangi esensi dari musyawarah keluarga ini dibuat. Rencananya in syaa Allah saya akan menyampaikan hasil musyawarah kepada Shafa di luar forum ini besok.

Dalam musyawarah kali ini, saya dan suami sepakat untuk melaksanakan rencana kami yang sudah lama tertunda yakni mulai Ahad ini kami akan mengikutkan ketiga putra-putri saya untuk berlatih memanah. Adapun Shafa karena masih terlalu kecil, kali ini belum diikutkan dulu. Kesepakatan ini muncul setelah seminggu lalu, teman kami menyampaikan informasi tentang adanya latihan memanah untuk pemula, di luar tujuan kejuaraan. Pelatihnya atlet panahan daerah kami, namun berbeda dengan pelatih yang latihan memanah untuk kejuaraan. Alat panahannya pun bisa memakai alat panahan untuk pemula yang bukan standar kejuaraan. Harganya lebih murah sekitar 500 ribu rupiah. Dengan melihat kesiapan mental dan komitmen putra-putri kami, maka kami putuskan mereka lebih cocok diikutkan berlatih memanah untuk pemula ini sambil terus diproses tingkat keseriusan dan komitmennya.

Kesepakatan tentang berlatih memanah ini kami sampaikan di musyawarah keluarga kepada ketiga putra-putri kami. Zahwa langsung setuju. Sedangkan dua putra saya masih mempertimbangkan. Saya coba motivasi kembali putra-putri saya tentang kehidupan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup. Tidak lupa saya sampaikan bahwa profesi terbaik dalam hidup ini adalah sebagai da’i (orang yang berdakwah). Sebagai da’i, saya sampaikan kepada mereka bekal yangbharus dimiliki, diantaranya menguasai ilmu al Quran, termasuk hafal al Quran, menguasai tsaqofah Islam, menguasai bahasa Arab dan Inggris, menguasai ilmu komunikasi, juga menguasai ilmu bela diri. Untuk bela diri ini saya memberikan pilihan kepada mereka, bisa ikut latihan karate kembali atau ikut latihan memanah. Mereka lebih memilih latihan memanah asalkan saya mendampingi mereka saat latihan. Saya pun sepakat dan semangat ingin ikut latihan juga kalau emak-emak boleh ikutan latihan juga. Semoga bisa terlaksana sesuai rencana, in syaa Allah. Aamiin.



Bumi Salamodin
Jumat, 7 April 2017

#TantanganHari16
#GameLevel3
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKecerdasanAnak
#MyFamilyMyTeam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...