Family project hari ini adalah meneguhkan komitmen TA’LIM AL-QURAN KELUARGA. Family project ini sudah berjalan selama tiga bulan, tepatnya dimulai awal Januari 2017. Sebuah proyek keluarga untuk meningkatkan kemampuan memahami ilmu Al-Quran, yang terdiri dari tahsin, tahfizh dan tajwid dengan mengundang ustadz/guru private ke rumah.
Alhamdulillah selama tiga bulan family project keluarga ini bisa dilaksanakan sebanyak 11-12 kali setiap bulan. Ustadz pengajar menyediakan waktu tiga kali seminggu untuk mengajarkan ilmu al-Quran kepada kami sekeluarga. Sayangnya selama tiga bulan belajar ilmu al-Quran ini masih muncul tantangan-tantangan yang datang dari internal keluarga kami. Di antaranya, kesadaran yang masih lemah di hati dan pikiran putra-putri saya untuk belajar ilmu al-Quran ini, sehingga harus selalu dimotivasi dan digerakkan terus untuk ikut. Selain itu, adab belajar yang belum dipatuhi putra-putri saya, sehingga mereka sering ribut dan mengganggu yang lainnya saat belajar. Tantangan lainnya, putra-putri saya sering berebut antrian untuk menjadi yang paling duluan sehingga sering berantem untuk menjadi nomor urut pertama. Kalau tidak ada yang mau mengalah, akhirnya ngambek dan tidak ikut belajar.
Sore ini seperti biasa ustadz datang sekitar jam 16 lebih dikit. Saya masih di luar belanja dua pohon pinus untuk ditanam di halaman rumah ketika suami telpon mengabari kalau ustadz sudah datang. Si bungsu ikut dengan saya. Adapun dua putra dan satu putri saya sedang bermain. Suami menjemput mereka segera dan saat saya sampai ke rumah, ternyata belajar al-Quran sudah dimulai. Saya segera bergabung setelah mengeluarkan dua pohon pinus dari bagasi mobil. Saat giliran belajar satu per satu dengan ustadz, saya segera menjemput Ibu saya untuk menemani belajar al-Quran karena suami mau pergi ke Cirebon. Sedangkan bapak saya pergi kembali dengan mobilnya untuk mendata ulang kelengkapan pembuatan pasport untuk jamaah haji yang mau berangkat.
Alhamdulillah sore ini keempat putra-putri saya mau belajar al-Quran dengan bergiliran, mulai dari Sa’ad, Mush’ab, Zahwa dan Shafa. Saya sendiri kebagian terakhir setelah ibu. Meskipun demikian, masih menjadi tantangan saat selesai putra-putri saya belajar bergiliran, mereka langsung oerfi beemain kembali. Saya kembali mengingatkan untuk tetap di majelis, jangan bermain lagi karena ta’lim belum selesai. Namun upaya ini belum berhasil. Bahkan ta’lim ditutup hanya dihadiri kami bertiga, sedangkan keempat putra-putri saya sudah bermain. Semoga untuk ta’lim berikutnya, putra-putri saya bisa mematuhi adab belajar dengan baik. Aamiin Ya Mujiib ad-Du’a.
Bumi Salamodin
Selasa, 4 April 2017
#TantanganHari13
#GameLevel3
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKecerdasanAnak
#MyFamilyMyTeam
Komentar
Posting Komentar