Langsung ke konten utama

CHALLENGE #13, LEVEL #3; TA'LIM AL-QURAN KELUARGA

Family project hari ini adalah meneguhkan komitmen TA’LIM AL-QURAN KELUARGA. Family project ini sudah berjalan selama tiga bulan, tepatnya dimulai awal Januari 2017. Sebuah proyek keluarga untuk meningkatkan kemampuan memahami ilmu Al-Quran, yang terdiri dari tahsin, tahfizh dan tajwid dengan mengundang ustadz/guru private ke rumah.

Alhamdulillah selama tiga bulan family project keluarga ini bisa dilaksanakan sebanyak 11-12 kali setiap bulan. Ustadz pengajar menyediakan waktu tiga kali seminggu untuk mengajarkan ilmu al-Quran kepada kami sekeluarga. Sayangnya selama tiga bulan belajar ilmu al-Quran ini masih muncul tantangan-tantangan yang datang dari internal keluarga kami. Di antaranya, kesadaran yang masih lemah di hati dan pikiran putra-putri saya untuk belajar ilmu al-Quran ini, sehingga harus selalu dimotivasi dan digerakkan terus untuk ikut. Selain itu, adab belajar yang belum dipatuhi putra-putri saya, sehingga mereka sering ribut dan mengganggu yang lainnya saat belajar. Tantangan lainnya, putra-putri saya sering berebut antrian untuk menjadi yang paling duluan sehingga sering berantem untuk menjadi nomor urut pertama. Kalau tidak ada yang mau mengalah, akhirnya ngambek dan tidak ikut belajar.

Sore ini seperti biasa ustadz datang sekitar jam 16 lebih dikit. Saya masih di luar belanja dua pohon pinus untuk ditanam di halaman rumah ketika suami telpon mengabari kalau ustadz sudah datang. Si bungsu ikut dengan saya. Adapun dua putra dan satu putri saya sedang bermain. Suami menjemput mereka segera dan saat saya sampai ke rumah, ternyata belajar al-Quran sudah dimulai. Saya segera bergabung setelah mengeluarkan dua pohon pinus dari bagasi mobil. Saat giliran belajar satu per satu dengan ustadz, saya segera menjemput Ibu saya untuk menemani belajar al-Quran karena suami mau pergi ke Cirebon. Sedangkan bapak saya pergi kembali dengan mobilnya untuk mendata ulang kelengkapan pembuatan pasport untuk jamaah haji yang mau berangkat.

Alhamdulillah sore ini keempat putra-putri saya mau belajar al-Quran dengan bergiliran, mulai dari Sa’ad, Mush’ab, Zahwa dan Shafa. Saya sendiri kebagian terakhir setelah ibu. Meskipun demikian, masih menjadi tantangan saat selesai putra-putri saya belajar bergiliran, mereka langsung oerfi beemain kembali. Saya kembali mengingatkan untuk tetap di majelis, jangan bermain lagi karena ta’lim belum selesai. Namun upaya ini belum berhasil. Bahkan ta’lim ditutup hanya dihadiri kami bertiga, sedangkan keempat putra-putri saya sudah bermain. Semoga untuk ta’lim berikutnya, putra-putri saya bisa mematuhi adab belajar dengan baik. Aamiin Ya Mujiib ad-Du’a.

Bumi Salamodin
Selasa, 4 April 2017

#TantanganHari13
#GameLevel3
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKecerdasanAnak
#MyFamilyMyTeam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...