Langsung ke konten utama

CHALLENGE #10, LEVEL #3; BELAJAR MENYETIR MOBIL (Part 2)

Alhamdulillah sampai di hari ke sepuluh tantangan melatih kecerdasan anak di Kelas Bunda Sayang IIP. Di hari ke sepuluh ini, family project yang kami sepakati adalah melanjutkan BELAJAR MENYETIR MOBIL. Hari ini saya dan suami membuat kesepakatan untuk belajar bergantian sebelum dhuhur. Seperti sebelumnya, kami meminjam mobil kijang putih Bapak yang sudah tua untuk belajar mobil. Adik laki-laki saya tidak menyarankan menggunakan mobil kami yang relatif masih bagus untuk dipakai latihan menyetir mobil ini karena beresiko. Bapak pun berpikir demikian.

Akhirnya saya dan suami bisa melaksanakan latihan menyetir mobil sekitar jam 14 dibimbing kakak sepupu sekaligus kakak ipar saya. Kedua putri saya, Zahwa dan Shafa turut serta mendampingi di dalam mobil saat latihan menyetir mobil ini. Demikian pula dua keponakan saya. Kami sepakat latihan menyetir mobil di jalan baru arah Baribis-Panyingkiran yang relatif masih sepi. Untuk tahap awal suami yang berlatih menyetir mobil. Entah kenapa, saat suami mulai mengemudikan mobil, rasa khawatir saya kecelakaan mobil muncul. Wah, rupanya rasa trauma kecelakaan mobil yang pernah dialami berupa ditabrak bis besar dari depan, juga mengalami mobil mundur kembali menabrak pepohonan dan got saat menanjak saat menuju bukit wisata paralayang, muncul saat suami yang mengemudikan mobil. Apalagi saat suami terlambat menginjak kopling untuk memindahkan perseneleng ke nomor dua untuk menaiki jalanan yang menanjak, membuat mobil menderum dan berhenti mendadak dengan guncangan keras di awal jalanan menanjak. Saya pun segera turun dari mobil ketakutan. Rasa ini rupanya menular kepada dua putri saya, Zahwa dan Shafa yang turut dalam mobil, begitu pula dua keponakan saya. Kakak sepupu mengambil alih dulu kemudi di jalanan menanjak itu. Setelag melewati jalan tanjakan, suami kembali yang mengemudikan mobil. Saya dan dua putri serta dua keponakan saya kembali menaiki mobil. Namun, rasa khawatir masih menguasai hati dan pikiran saya. Dan ternyata rasa yang sama menguasai Zahwa. Akhirnya selama dua kali bolak-balik suami berlatih mengemudikan mobil, saya dan Zahwa terus diliputi kekhawatiran sambil terus berdoa dan berpegangan tangan… Ih baper banget deh. Saya membujuk Zahwa agar tidur hingga tidak merasa khawatir selama dalam mobil tersebut. Sementara Shafa sudah tertidur di jok mobil paling belakang karena kecapaian.

Rasa khawatir ini membuat saya meminta mengakhiri berlatih menyetir mobil setelah dua kali bolak-balik suami melewati jalan Baribis-Panyingkiran. Saya sendiri memutuskan tidak jadi bergantian berlatih menyetir mobil. Saya pikir di hari latihan berikutnya semoga saya bisa mulai berlatihnya. Setelah sampai rumah, suami menyarankan saya berlatih menyetir mobilnya via lembaga kursus saja supaya lebih save. Pasalnya mobil kursus menyetir didesain memiliki kopling dan rem double yang dipasang di depan pelatih di samping posisi yang aslinya. So, lebih aman jika ada kesalahan peserta kursus saat mengemudi, visa langsung dikendalikan sang pelatih. Saya setuju usulan itu. Semoga bisa segera terealisasi mengingat kebutuhan saya untuk bisa menyetir mobil sangat dibutuhkan. Aamiin.


Ada satu pelajaran yang bisa saya ambil dari proses latihan hari ini. Kecerdasan emosional anak sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosional orang tua, apalagi ibu. Saat saya merasa khawatir dan takut di hadapan kedua putri saya saat suami belajar mengemudikan mobil, menular dan menjadikan kedua putri saya pun merasakan hal yang sama. So, dalam kondisi apa pun, saya harus mampu belajar mengendalikan diri dan emosi di hadapan putra dan putri saya untuk bisa meningkatkan kecerdasan emosional putra dan putri saya.

Bumi Salamodin
Sabtu, 1 April 2017

#TantanganHari10
#GameLevel3
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKecerdasanAnak
#MyFamilyMyTeam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...