Alhamdulillah sampai di hari ke sepuluh tantangan melatih kecerdasan anak di Kelas Bunda Sayang IIP. Di hari ke sepuluh ini, family project yang kami sepakati adalah melanjutkan BELAJAR MENYETIR MOBIL. Hari ini saya dan suami membuat kesepakatan untuk belajar bergantian sebelum dhuhur. Seperti sebelumnya, kami meminjam mobil kijang putih Bapak yang sudah tua untuk belajar mobil. Adik laki-laki saya tidak menyarankan menggunakan mobil kami yang relatif masih bagus untuk dipakai latihan menyetir mobil ini karena beresiko. Bapak pun berpikir demikian.
Akhirnya saya dan suami bisa melaksanakan latihan menyetir mobil sekitar jam 14 dibimbing kakak sepupu sekaligus kakak ipar saya. Kedua putri saya, Zahwa dan Shafa turut serta mendampingi di dalam mobil saat latihan menyetir mobil ini. Demikian pula dua keponakan saya. Kami sepakat latihan menyetir mobil di jalan baru arah Baribis-Panyingkiran yang relatif masih sepi. Untuk tahap awal suami yang berlatih menyetir mobil. Entah kenapa, saat suami mulai mengemudikan mobil, rasa khawatir saya kecelakaan mobil muncul. Wah, rupanya rasa trauma kecelakaan mobil yang pernah dialami berupa ditabrak bis besar dari depan, juga mengalami mobil mundur kembali menabrak pepohonan dan got saat menanjak saat menuju bukit wisata paralayang, muncul saat suami yang mengemudikan mobil. Apalagi saat suami terlambat menginjak kopling untuk memindahkan perseneleng ke nomor dua untuk menaiki jalanan yang menanjak, membuat mobil menderum dan berhenti mendadak dengan guncangan keras di awal jalanan menanjak. Saya pun segera turun dari mobil ketakutan. Rasa ini rupanya menular kepada dua putri saya, Zahwa dan Shafa yang turut dalam mobil, begitu pula dua keponakan saya. Kakak sepupu mengambil alih dulu kemudi di jalanan menanjak itu. Setelag melewati jalan tanjakan, suami kembali yang mengemudikan mobil. Saya dan dua putri serta dua keponakan saya kembali menaiki mobil. Namun, rasa khawatir masih menguasai hati dan pikiran saya. Dan ternyata rasa yang sama menguasai Zahwa. Akhirnya selama dua kali bolak-balik suami berlatih mengemudikan mobil, saya dan Zahwa terus diliputi kekhawatiran sambil terus berdoa dan berpegangan tangan… Ih baper banget deh. Saya membujuk Zahwa agar tidur hingga tidak merasa khawatir selama dalam mobil tersebut. Sementara Shafa sudah tertidur di jok mobil paling belakang karena kecapaian.
Rasa khawatir ini membuat saya meminta mengakhiri berlatih menyetir mobil setelah dua kali bolak-balik suami melewati jalan Baribis-Panyingkiran. Saya sendiri memutuskan tidak jadi bergantian berlatih menyetir mobil. Saya pikir di hari latihan berikutnya semoga saya bisa mulai berlatihnya. Setelah sampai rumah, suami menyarankan saya berlatih menyetir mobilnya via lembaga kursus saja supaya lebih save. Pasalnya mobil kursus menyetir didesain memiliki kopling dan rem double yang dipasang di depan pelatih di samping posisi yang aslinya. So, lebih aman jika ada kesalahan peserta kursus saat mengemudi, visa langsung dikendalikan sang pelatih. Saya setuju usulan itu. Semoga bisa segera terealisasi mengingat kebutuhan saya untuk bisa menyetir mobil sangat dibutuhkan. Aamiin.
Ada satu pelajaran yang bisa saya ambil dari proses latihan hari ini. Kecerdasan emosional anak sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosional orang tua, apalagi ibu. Saat saya merasa khawatir dan takut di hadapan kedua putri saya saat suami belajar mengemudikan mobil, menular dan menjadikan kedua putri saya pun merasakan hal yang sama. So, dalam kondisi apa pun, saya harus mampu belajar mengendalikan diri dan emosi di hadapan putra dan putri saya untuk bisa meningkatkan kecerdasan emosional putra dan putri saya.
Bumi Salamodin
Sabtu, 1 April 2017
#TantanganHari10
#GameLevel3
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKecerdasanAnak
#MyFamilyMyTeam
Komentar
Posting Komentar