Langsung ke konten utama

CHALLENGE #1, LEVEL #5; "YUK KITA MEMBACA BUKU...!"

Alhamdulillah hari ini adzan maghrib berkumandang. Kami sekeluarga pun ta’jil berbuka puasa. Kebetulan suami bersama teman-temannya ada jadwal pengajian rutin di rumah, sehingga ikut berbuka puasa di rumah. Selesai ta’jil berbuka puasa, saya dan anak-anak menunaikan shalat maghrib di rumah, sedangkan suami beserta teman-temannya shalat maghrib di masjid persis depan rumah.

Sepulang dari masjid, suami menawarkan untuk beli makan malam di luar, padahal saya sudah menyiapkan nasi, lauk dan sayurnya untuk makan malam ini. Anak-anak senang dengan tawaran itu. Demi menyenangkan anak-anak, akhirnya saya setuju dengan tawaran itu, ya sudah ga apa-apa, makanan di rumah buat nanti sahur. Dan ternyata anak-anak minta dibelikan nasi goreng, tapi dibawa ke rumah. Sambil menunggu suami persiapan membeli nasi goreng, saya mengajak kedua putriku, Zahwa (7,5 tahun) dan Shafa (5 tahun) ke kamar tidur keduanya sambil membawa 4 buku bacaan anak-anak. Saya pun berkata kepada keduanya, “Yuk kita membaca buku…!”


Zahwa dan Shafa merespon dengan senang hati tawaran saya tersebut. Dan mulailah Zahwa dan Shafa memilih buku bacaan yang saya bawa. Zahwa tertarik mengambil sebuah buku cerita sahabat Rasul berjudul “Sa’ad bin Abi Waqqash, Panglima Perang Qodisiyah”. Lalu ia pun membacanya dengan suara nyaring. Sedangkan Shafa tertarik mengambil buku cerita mini berjudul “Manfaat Amal Saleh.” Karena Shafa belum bisa membaca sendiri, maka saya yang membacakan isi buku cerita tersebut di sisi Shafa. Shafa memperhatikan dengan khusyu' sambil mengamati gambar-gambar yang ada di dalam buku.

Setelah buku cerita mini tersebut selesai saya bacakan, Shafa segera mencari sang ayah yang mau pergi membeli nasi goreng. Rupanya Shafa ingin ikut bersama sang ayah. Sementara itu Zahwa tetap melanjutkan membaca buku. Tidak berapa lama, Zahwa pun selesai membaca buku cerita sahabat Rasul tersebut. Setelah membaca satu buku, ternyata Zahwa tertarik membaca buku cerita lainnya. Ia pun mengambil buku cerita mini yang berjudul “Tergoda Rayuan Iblis.” Kemudian ia pun kembali membacanya dengan suara nyaring.

Setelah Shafa ikut sang ayah keluar rumah, saya memanggil Sa’ad (11,5 tahun), dan mendapatinya di ruang keluarga. Saya ajak Sa’ad ke kamar dan mengajaknya untuk membaca buku bersama. Saya pilihkan sebuah buku cerita sahabat Rasul berjudul “Usamah bin Zaid, Panglima Muda Belia.” Awalnya Sa’ad sedikit enggan membacanya, namun saya membujuknya dan menawarkan diri untuk membacakannya. Akhirnya Sa’ad terdiam mendengarkan suara nyaring saya membacakan isi cerita sahabat Rasul tersebut. Namun demikian, dalam pengamatan saya, pandangan Sa’ad mengikuti tulisan isi cerita yang saya bacakan. Rupanya ia pun ikut membaca tulisan itu meski tanpa suara sampai akhir cerita. Di halaman terakhir ada lembar pertanyaan terkait isi cerita yang dibaca. Ternyata Sa’ad bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan benar. Alhamdulillah, ternyata Sa'ad bisa memahami isi cerita dengan baik.
Saat saya kembali mengamati Zahwa, ternyata buku cerita kedua sudah selesai ia baca. Dan saat itu Zahwa sudah beralih membaca buku cerita yang ketiga berjudul “Manfaat Amal Saleh” yang awal tadi saya bacakan untuk si bungsu Shafa. Rupanya Zahwa senang sekali membaca buku cerita dan mampu menyelesaikan membacanya dengan cepat. Tak berapa lama, Zahwa pun selesai membaca buku cerita ketiga. Lalu ia mengambil buku terakhir yang tadi dibaca Sa’ad berjudul “Usamah bin Zaid, Panglima Muda Belia.” Namun buku terakhir ini baru sedikit dibacanya karena saya mengajak Zahwa belajar matematika untuk UAS besok pagi di sekolah. Akhirnya buku keempat pun disimpannya, in syaa Allah bisa dilanjutkan esok hari membacanya.

Saat ketiga adiknya asyik membaca, dimanakah putra sulungku, Mush’ab (14 tahun)? Hmm, ternyata ia sedang di kamarnya menyiapkan buku pelajaran untuk UAS besok di sekolah. Saya menawarkannya membaca satu buku cerita sahabat Rasul. Mush’ab menolak dengan alasan semua buku cerita koleksinya sejak kecil sudah dibaca semua. Lalu saya teringat pernah mengajak Mush’ab ke bazzar buku dan ia membeli beberapa buku, di antaranya sebuah buku cerita remaja. Saya coba mencari buku tersebut di rak buku bagian cerita anak. Alhamdulillah ketemu, sebuah buku cerita misteri remaja berjudul “Relic Sembilan Milenia.” Saat saya memberikan buku itu pada Mush’ab, mata si kakak berbinar dan senyumannya pun terkembang. Mush'ab lalu berkata, “...baru dibaca sebagian, mau dilanjutkan bacanya.” Saya biarkan si kakak membuka lembaran halaman buku tersebut, mungkin mencari halaman terakhir dulu membacanya. Tak lama ia pun terlihat asyik membaca buku tersebut. Namun belum lama membaca, nasi goreng pun datang. Anak-anak gembira dan segera menghentikan aktivitasnya, mengambil nasi goreng, lalu nikmat menyantapnya. Lezat...! 😊

Alhamdulillah, menyenangkan rasanya mendampingi keempat putra dan putriku membaca buku meskipun dalam waktu sebentar. Dan ternyata anak-anak meniru kebiasaan buruk saya, yakni membaca sambil tiduran. Sebuah kebiasaan yang harus segera dihilangkan agar kesehatan mata bisa terjaga. Semoga hari ini menjadi awal yang baik untuk menstimulus mereka senang membaca, aamiin Ya Mujiib ad-Du'a. Wah, meskipun baru hari pertama tantangan menstimulus anak untuk membaca buku ini berjalan, pohon literasi Zahwa langsung berdaun besar tiga, nyaris empat helai...😍😍  


Bumi Salamodin
Kamis, 8 Juni 2017

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...