Langsung ke konten utama

CHALLENGE #9, LEVEL #5; "ISLAM TELAH MENJADIKAN SEORANG MUKMIN LEBIH MENCINTAI ALLAH DI ATAS SEGALANYA"

Hari ini seperti biasa, kegiatan membaca cerita dilakukan malam hari sekitar jam 8 malam. Saya membacakan tiga judul cerita dari buku “100 Kisah Keteladanan Tokoh Besar” untuk didengarkan Sa’ad, Zahwa dan Shafa. Ketiga judul cerita itu adalah:
  1. Agama Yang Benar.
  2. Sang Juru Selamat.
  3. Hakim Syuraih dan Putranya.



Cerita “Agama Yang Benar” mengisahkan bagaimana agama selain Islam membedakan perlakuan di antara manusia yang kaya dengan yang miskin, antara tuan tanah dengan pendeta dan rahib dan sebagainya. Berbeda dengan Islam sebagai agama yang benar, tidak membedakan perlakuan di antara manusia, yang kaya dengan yang miskin, semua diperlakukan sama.

Adapun cerita “Sang Juru Selamat” mengisahkan seseorang yang berhasil menyelamatkan manusia dari kepungan musuh di dalan benteng. Namun orang tersebut tidak mau diketahui asal-usulnya karena ia berbuat hanya karena Allah.

Sedangkan cerita “Hakim Syuraih dan Putranya” mengisahkan bagaimana keadilan perlakuan Hakim Syuraih kepada semua orang, termasuk anaknya di hadapan hukum. Ia telah memutuskan perkara anaknya bersalah semata-mata karena lebih mencintai Allah daripada anaknya. Demikianlah Islam telah menjadikan seorang mukmin lebih mencintai Allah di atas segalanya.


Bumi Salamodin
Jumat, 16 Juni 2017

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...