Ahad yang cerah. Agenda liburan akhir pekan kali ini seperti biasa keempat putra-putriku sejak pagi bermain bersama teman-temannya, yang masih keponakan saya. Saya dan suami menghadiri acara kajian bulanan di sebuah mesjid yang sama meskipun forum ikhwan dan akhwat berbeda. Dhuhur barulah saya dan suami pulang, kemudian mampir ke dua rumah saudara, menjemput pulang keempat putra-putri kami yang sedang bermain di sana.
Saatnya saya menyiapkan makan siang, namun putra keduaku meminta kami makan siang di luar. Saya dan suami menyetujuinya. Bagi kami acara makan siang bersama keluarga di luar sudah menjadi kegiatan rutin 1-2 kali sebulan.
Sebuah family time, meskipun sederhana hanya dengan makan mie ayam bakso dengan segelas jus jeruk, namun memiliki segudang manfaat. Di sinilah kami bisa membangun komunikasi yang baik dan produktif, mendekatkan hubungan emosional dan komunikasi dalam keluarga, menciptakan waktu berkualitas, menciptakan kenangan yang indah, membuat anak lebih terbuka, memecahkan masalah bersama, dan mengatasi sulit makan si bungsu.
Alhamdulillah di sela-sela kami makan bersama, kami membangun komunikasi produktif, menyampaikan harapan-harapan kami sebagai orang tua kepada anak-anak, juga menerima masukan dari anak-anak. Tentu saja harapan-harapan kami tersebut, baik terkait kondisi anak-anak maupun kondisi keluarga tidak akan langsung terwujud dalam waktu singkat. Namun jelas membutuhkan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, kekuatan dan keistiqomahan dalam menempuh proses tersebut. Dan sudah pasti kami sebagai orang tua memiliki kewajiban untuk mengawal dan menjalankan proses itu. Sekecil apapun proses tersebut dilakukan, namun proses tersebut begitu berharga di mata saya. Tidak akan terwujud 1000 langkah kalau tidak pernah diawali oleh satu langkah.
Sore harinya, seperti biasa jadwal rutin halqah anak-anak. Sayangnya, yang bersedia ikut halqah hanya si sulung. Kedua putri kecil saya kembali bermain keluar rumah, sedangkan putra kedua sedikit ngambek karena ingin menonton televisi. Halqah kali ini saya mah menyampaikan materi tentang aqidah, yakni kisah Ashabul Kahfi yang diabadikan dalam QS. Al Kahfi ayat 9-26. Sebuah kisah benar tentang tujuh orang pemuda yang melarikan diri ke dalam sebuah gua dari kekejaman Raja Kufur Diqyanus yang ingin mengembalikan keimanan mereka kepada agama Kafir nenek moyang. Lalu Allah SWT menidurkan ketujuh pemuda tersebut selama 309 tahun. Suatu kisah keimanan yang sangat sarat dengan hikmah dan pelajaran bagi pembentukan aqidah yang kokoh pada diri anak-anak. Semoga Allah SWT mengabulkan. Aamiin Ya Mujiib ad-Du’a.
Saatnya saya menyiapkan makan siang, namun putra keduaku meminta kami makan siang di luar. Saya dan suami menyetujuinya. Bagi kami acara makan siang bersama keluarga di luar sudah menjadi kegiatan rutin 1-2 kali sebulan.
Sebuah family time, meskipun sederhana hanya dengan makan mie ayam bakso dengan segelas jus jeruk, namun memiliki segudang manfaat. Di sinilah kami bisa membangun komunikasi yang baik dan produktif, mendekatkan hubungan emosional dan komunikasi dalam keluarga, menciptakan waktu berkualitas, menciptakan kenangan yang indah, membuat anak lebih terbuka, memecahkan masalah bersama, dan mengatasi sulit makan si bungsu.
Alhamdulillah di sela-sela kami makan bersama, kami membangun komunikasi produktif, menyampaikan harapan-harapan kami sebagai orang tua kepada anak-anak, juga menerima masukan dari anak-anak. Tentu saja harapan-harapan kami tersebut, baik terkait kondisi anak-anak maupun kondisi keluarga tidak akan langsung terwujud dalam waktu singkat. Namun jelas membutuhkan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, kekuatan dan keistiqomahan dalam menempuh proses tersebut. Dan sudah pasti kami sebagai orang tua memiliki kewajiban untuk mengawal dan menjalankan proses itu. Sekecil apapun proses tersebut dilakukan, namun proses tersebut begitu berharga di mata saya. Tidak akan terwujud 1000 langkah kalau tidak pernah diawali oleh satu langkah.
Sore harinya, seperti biasa jadwal rutin halqah anak-anak. Sayangnya, yang bersedia ikut halqah hanya si sulung. Kedua putri kecil saya kembali bermain keluar rumah, sedangkan putra kedua sedikit ngambek karena ingin menonton televisi. Halqah kali ini saya mah menyampaikan materi tentang aqidah, yakni kisah Ashabul Kahfi yang diabadikan dalam QS. Al Kahfi ayat 9-26. Sebuah kisah benar tentang tujuh orang pemuda yang melarikan diri ke dalam sebuah gua dari kekejaman Raja Kufur Diqyanus yang ingin mengembalikan keimanan mereka kepada agama Kafir nenek moyang. Lalu Allah SWT menidurkan ketujuh pemuda tersebut selama 309 tahun. Suatu kisah keimanan yang sangat sarat dengan hikmah dan pelajaran bagi pembentukan aqidah yang kokoh pada diri anak-anak. Semoga Allah SWT mengabulkan. Aamiin Ya Mujiib ad-Du’a.
Ahad, 5 Februari 2017
#Hari8
#GameLevel1
#KuliahBunSayIIP
#KomunikasiProduktif
Komentar
Posting Komentar