Langsung ke konten utama

CHALLENGE #8; LEVEL #1; FAMILY TIME: MAKAN SIANG PENUH MAKNA

Ahad yang cerah. Agenda liburan akhir pekan kali ini seperti biasa keempat putra-putriku sejak pagi bermain bersama teman-temannya, yang masih keponakan saya. Saya dan suami menghadiri acara kajian bulanan di sebuah mesjid yang sama meskipun forum ikhwan dan akhwat berbeda. Dhuhur barulah saya dan suami pulang, kemudian mampir ke dua rumah saudara, menjemput pulang keempat putra-putri kami yang sedang bermain di sana.

Saatnya saya menyiapkan makan siang, namun putra keduaku meminta kami makan siang di luar. Saya dan suami menyetujuinya. Bagi kami acara makan siang bersama keluarga di luar sudah menjadi kegiatan rutin 1-2 kali sebulan.
Sebuah family time, meskipun sederhana hanya dengan makan mie ayam bakso dengan segelas jus jeruk, namun memiliki segudang manfaat. Di sinilah kami bisa membangun komunikasi yang baik dan produktif, mendekatkan hubungan emosional dan komunikasi dalam keluarga, menciptakan waktu berkualitas, menciptakan kenangan yang indah, membuat anak lebih terbuka, memecahkan masalah bersama, dan mengatasi sulit makan si bungsu.

Alhamdulillah di sela-sela kami makan bersama, kami membangun komunikasi produktif, menyampaikan harapan-harapan kami sebagai orang tua kepada anak-anak, juga menerima masukan dari anak-anak. Tentu saja harapan-harapan kami tersebut, baik terkait kondisi anak-anak maupun kondisi keluarga tidak akan langsung terwujud dalam waktu singkat. Namun jelas membutuhkan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, kekuatan dan keistiqomahan dalam menempuh proses tersebut. Dan sudah pasti kami sebagai orang tua memiliki kewajiban untuk mengawal dan menjalankan proses itu. Sekecil apapun proses tersebut dilakukan,  namun proses tersebut begitu berharga di mata saya. Tidak akan terwujud 1000 langkah kalau tidak pernah diawali oleh satu langkah.

Sore harinya, seperti biasa jadwal rutin halqah anak-anak. Sayangnya, yang bersedia ikut halqah hanya si sulung. Kedua putri kecil saya kembali bermain keluar rumah, sedangkan putra kedua sedikit ngambek karena ingin menonton televisi. Halqah kali ini saya mah menyampaikan materi tentang aqidah, yakni kisah Ashabul Kahfi yang diabadikan dalam QS. Al Kahfi ayat 9-26. Sebuah kisah benar tentang tujuh orang pemuda yang melarikan diri ke dalam sebuah gua dari kekejaman Raja Kufur Diqyanus yang ingin mengembalikan keimanan mereka kepada agama Kafir nenek moyang. Lalu Allah SWT menidurkan ketujuh pemuda tersebut selama 309 tahun. Suatu kisah keimanan yang sangat sarat dengan hikmah dan pelajaran bagi pembentukan aqidah yang kokoh pada diri anak-anak. Semoga Allah SWT mengabulkan. Aamiin Ya Mujiib ad-Du’a.

Kota Angin
Ahad, 5 Februari 2017

#Hari8
#GameLevel1
#KuliahBunSayIIP
#KomunikasiProduktif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...