Sa'ad Ali Abdullah, itulah nama putra keduaku. Usianya saat ini 11 tahun. Anak yang baik hati, cerdas dan sangat peduli sesama. Sudah lebih dari tiga tahun, Sa'ad tidak sekolah formal. Ada kondisi depresi dan trauma mendalam yang dialami Sa'ad yang menyebabkannya phobi belajar di sekolah formal. Lima kali saya dan suami mencoba mendaftarkannya lagi ke sekolah yang berbeda, namun hanya bertahan 2 minggu, itu pun dengan perjuangan luar biasa untuk memotivasinya mau berangkat ke sekolah sampai saya harus menemaninya di dalam kelas. Selanjutnya Sa'ad kembali mogok tidak mau sekolah. Terapi ke therapis, psikolog dan psikiater, sudah dilakukan, namun belum ada perubahan yang sesuai harapan. Akhirnya saya dan suami sejak 2013 Sudah 5 kali, kami coba mengupayakan agar Sa'ad bisa sekolah formal dengan mendaftarkannya ke 5 sekolah. Maka sejak 2013, saya dan suami memutuskan Sa'ad belajar di rumah atau homeschooling menginduk ke sekolah yang dikelola adik kandung saya di Bekasi. Jadi, setiap jadwal UTS dan UAS, Sa'ad melaksanakan ujian di rumah dengan soal ujian yang dikirim adik kandung saya via email. Hasil ujian belajar diserahkan ke sekolah adik untuk dikoreksi dan sebagai bahan untuk mengisi nilai raport.
Tahun ini Sa'ad terhitung masuk tahun ke-6 sekolah dasar. Saya menargetkan tahun ini atau tahun depan, Sa'ad bisa mengikuti ujian kejar paket A. Sa'ad tidak bisa ikut ujian akhir Sekolah Dasar menginduk ke sekolah adik karena sekolah menargetkan untuk tahun ke-6 ini, anak didik bisa langsung hadir belajar formal di kelas. Sedangkan Sa'ad tentu saja phobia sekolah formalnya masih belum hilang. Maka pilihan saya untu Sa'ad agar bisa masuk sekolah formal tingkat sekolahenengah nanti adalah ikut ujian kejar paket A.
Hanyasaja, ada tantangan yang saya hadapi selama tiga tahun melaksanakan Homeshooling untuk Sa'ad ini. Phobia sekolahnya mempengaruhi motivasi belajar Sa'ad juga menurunkan rentang konsentrasi belajar Sa'ad. Saya belum bisa menerapkan pola belajar dengan jadwal yang tetap dan teratur untuk Sa'ad. Dan saya tidak memaksakan Sa'ad untuk belajar saat ia tidak siap belajar karena paksaan justru hanya menambah gangguan psikis Sa'ad, ia menjadi tertekan dan akibatnya fatal, sifat impulsif dan agresif Sa'ad akan muncul, dan tak jarang menyerang saya atau adik-adiknya secara fisik. Jadi aktivitas Sa'ad lebih banyak bermain di luar rumah dengan tetap di bawah pantauan saya dan suami, di samping belajar al-Quran 3x seminggu dan halqah tsaqofah Islam 2x seminggu.
Awal Februari ini saya menargetkan Saad bisa mulai belajar teratur untuk persiapan mengikuti ujian kejar paket A bulan Juni nanti. Ba'da maghrib setelah kami sekeluarga selesai melaksanakan forum belajar al-Quran dan ibadah shalat maghrib, saya mulai membangun komunikasi produktif dengan Saad, memotivasinya agar mulai belajar teratur. Saya pun memotivasi Sa'ad agar mau mengikuti ujian kejar paket A sehingga bisa memiliki ijazah SD dan ke depan Sa'ad bisa sekolah formal tingkat menengah.
Saya pun sering memotivasinya dengan menyampaikan tentang kewajiban menuntut ilmu berikut dalilnya, juga perkataan Imam Syafi’i sebagai berikut:
Tahun ini Sa'ad terhitung masuk tahun ke-6 sekolah dasar. Saya menargetkan tahun ini atau tahun depan, Sa'ad bisa mengikuti ujian kejar paket A. Sa'ad tidak bisa ikut ujian akhir Sekolah Dasar menginduk ke sekolah adik karena sekolah menargetkan untuk tahun ke-6 ini, anak didik bisa langsung hadir belajar formal di kelas. Sedangkan Sa'ad tentu saja phobia sekolah formalnya masih belum hilang. Maka pilihan saya untu Sa'ad agar bisa masuk sekolah formal tingkat sekolahenengah nanti adalah ikut ujian kejar paket A.
Hanyasaja, ada tantangan yang saya hadapi selama tiga tahun melaksanakan Homeshooling untuk Sa'ad ini. Phobia sekolahnya mempengaruhi motivasi belajar Sa'ad juga menurunkan rentang konsentrasi belajar Sa'ad. Saya belum bisa menerapkan pola belajar dengan jadwal yang tetap dan teratur untuk Sa'ad. Dan saya tidak memaksakan Sa'ad untuk belajar saat ia tidak siap belajar karena paksaan justru hanya menambah gangguan psikis Sa'ad, ia menjadi tertekan dan akibatnya fatal, sifat impulsif dan agresif Sa'ad akan muncul, dan tak jarang menyerang saya atau adik-adiknya secara fisik. Jadi aktivitas Sa'ad lebih banyak bermain di luar rumah dengan tetap di bawah pantauan saya dan suami, di samping belajar al-Quran 3x seminggu dan halqah tsaqofah Islam 2x seminggu.
Awal Februari ini saya menargetkan Saad bisa mulai belajar teratur untuk persiapan mengikuti ujian kejar paket A bulan Juni nanti. Ba'da maghrib setelah kami sekeluarga selesai melaksanakan forum belajar al-Quran dan ibadah shalat maghrib, saya mulai membangun komunikasi produktif dengan Saad, memotivasinya agar mulai belajar teratur. Saya pun memotivasi Sa'ad agar mau mengikuti ujian kejar paket A sehingga bisa memiliki ijazah SD dan ke depan Sa'ad bisa sekolah formal tingkat menengah.
Saya pun sering memotivasinya dengan menyampaikan tentang kewajiban menuntut ilmu berikut dalilnya, juga perkataan Imam Syafi’i sebagai berikut:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ
“Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.”
“Milikilah ilmu, nak, jika kau ingin sukses dunia dan akhirat..!” itulah ungkapan yang sering saya tanamkan pada diri Sa’ad. Alhamdulillah, dari komunikasi produktif tersebut, dihasilkan kesepakatan atas dasar keridhaan Sa’ad, mulai hari Kamis 2 Februari 2017, Sa’ad akan belajar rutin satu jam di pagi hari dan dua jam di malam hari. Bagi saya, ini adalah modal awal untuk menumbuhkan motivasi dan kecintaannya belajar ilmu sains dan teknologi di samping belajar al-Quran dan tsaqofah Islam. Semoga engkau menjadi anak shalih, cerdas, berkepribadian Islam, beejiwa pemimpin, pejuang Islam, mujahid dan mujtahid sebagaimana harapan dan doa kami selama ini meskipun jalan untuk mewujudkan itu semua, tentu masih sangat panjang. Namun tidak ada sesuatu yang tidak mungkin jika kita selalu berjuang dan berdoa. Semoga Allah SWT selalu membimbing dan memudahkan langkah kami. Aamiin Ya Mujiib ad-Du’a… :’(
Rabu, 1 Februari 2017
#Hari6
#GameLevel1
#KuliahBunSayIIP
#Komunikasi Produktif
Komentar
Posting Komentar