Di hari Ahad ini, jam 5.00 WIB saya sudah mulai membereskan rumah karena jam 5.30 WIB adalah jadwal keluarga kami untuk belajar al-Quran bersama ustadz. Saat ustadz datang, putra kedua dan putri ketiga masih enggan membuka matanya, padahal saya dan suami sudah berupaya beberapa kali membangunkannya sejak shubuh. Selama ini keduanya memang yang paling besar tantangannya untuk bangun pagi. Akhirnya forum keluarga untuk belajar al-Quran tetap dimulai tanpa keikutsertaan putra kedua dan putri ketiga.
Di saat bagian Si sulung mengulang tahsin dan setoran tahfizh kepada ustadz, saya berusaha membangunkan kembali kedua putra dan putri saya. Dengan komunikasi produktif dan sistem reward, saya memotivasi putra kedua untuk bangun dan segera bergabung di forum keluarga. Alhamdulillah putra kedua akhirnya bangun, pergi ke kamar mandi untuk wudlu, lalu shalat shubuh sebelum akhirnya bergabung di forum keluarga. Khusus putra kedua ini, memang masih menjadi PR besar bagi saya dan suami untuk mendidik, membina dan mengasuhnya, termasuk membiasakannya shalat shubuh tepat waktu.
Hal yang sama saya lakukan kepada putri ketiga. Ia mau ikut belajar asalkan saya mau memenuhi permintaannya. "Ummi, aku mau berenang...!" demikian pintanya. Saya langsung menyetujuinya mengingat aktivitas berenang dan bermain air memiliki segudang manfaat buat anak-anak, ditambah sudah hampir sebulan anak-anak belum pergi ke kolam renang. Rencananya saya akan mengajak keempat putra-putri saya ke kolam renang, sedangkan sang ayah tidak bisa menemani karena ada agenda mengisi pengajian.
Selesai belajar al-Quran sekitar jam 7 pagi, putra pertama dan kedua langsung minta izin untuk bermain keluar rumah. Sedangkan putri ketiga dan keempat kedatangan dua temannya yang juga keponakan saya, kemudian mereka bermain di dalam rumah. Sejam kemudian, putri ketiga merengek-rengek menagih janji untuk pergi ke kolam renang. Dengan komunikasi produktif, saya sampaikan bahwa kita akan berangkat berenang jika semua anak-anak ikut. Akhirnya putri ketiga saya mencari kedua kakak laki-lakinya ke tempat mereka biasa bermain untuk mengajak mereka ke kolam renang. Tidak berapa lama ia datang dan mengabarkan bahwa kedua putra laki-laki saya tidak mau ikut. Sedangkan Si bungsu awalnya menolak pergi karena tetap ingin bermain di rumah bersama dua keponakan saya dan ia menawarkan minggu depan ke kolam renangnya. Setelah saya membujuknya dengan komunikasi produktif, akhirnya Si bungsu mau ikut berenang.
Dengan diantar oleh sang ayah, kami bertiga akhirnya berangkat ke kolam renang. Di kolam renang, kedua putri saya minta dibelikan makanan dan minuman, serta menyewa ban untuk berenang. Dengan komunikasi produktif saya mengarahkan mereka agar tidak perlu membeli makanan dan minuman karena saya sudah membawa bekal minum dari rumah, juga tidak perlu menyewa ban karena saya tidak mengizinkan mereka berenang di kolam yang dalam. Untuk makanan, karena kedua putri saya mengeluh lapar, padahal di rumah sudah sarapan, sedangkan saya tidak sempat membawa bekal makanan, akhirnya terpaksa saya membelikan satu pop mie untuk dimakan mereka berdua.

Di saat bagian Si sulung mengulang tahsin dan setoran tahfizh kepada ustadz, saya berusaha membangunkan kembali kedua putra dan putri saya. Dengan komunikasi produktif dan sistem reward, saya memotivasi putra kedua untuk bangun dan segera bergabung di forum keluarga. Alhamdulillah putra kedua akhirnya bangun, pergi ke kamar mandi untuk wudlu, lalu shalat shubuh sebelum akhirnya bergabung di forum keluarga. Khusus putra kedua ini, memang masih menjadi PR besar bagi saya dan suami untuk mendidik, membina dan mengasuhnya, termasuk membiasakannya shalat shubuh tepat waktu.
Hal yang sama saya lakukan kepada putri ketiga. Ia mau ikut belajar asalkan saya mau memenuhi permintaannya. "Ummi, aku mau berenang...!" demikian pintanya. Saya langsung menyetujuinya mengingat aktivitas berenang dan bermain air memiliki segudang manfaat buat anak-anak, ditambah sudah hampir sebulan anak-anak belum pergi ke kolam renang. Rencananya saya akan mengajak keempat putra-putri saya ke kolam renang, sedangkan sang ayah tidak bisa menemani karena ada agenda mengisi pengajian.
Selesai belajar al-Quran sekitar jam 7 pagi, putra pertama dan kedua langsung minta izin untuk bermain keluar rumah. Sedangkan putri ketiga dan keempat kedatangan dua temannya yang juga keponakan saya, kemudian mereka bermain di dalam rumah. Sejam kemudian, putri ketiga merengek-rengek menagih janji untuk pergi ke kolam renang. Dengan komunikasi produktif, saya sampaikan bahwa kita akan berangkat berenang jika semua anak-anak ikut. Akhirnya putri ketiga saya mencari kedua kakak laki-lakinya ke tempat mereka biasa bermain untuk mengajak mereka ke kolam renang. Tidak berapa lama ia datang dan mengabarkan bahwa kedua putra laki-laki saya tidak mau ikut. Sedangkan Si bungsu awalnya menolak pergi karena tetap ingin bermain di rumah bersama dua keponakan saya dan ia menawarkan minggu depan ke kolam renangnya. Setelah saya membujuknya dengan komunikasi produktif, akhirnya Si bungsu mau ikut berenang.
Dengan diantar oleh sang ayah, kami bertiga akhirnya berangkat ke kolam renang. Di kolam renang, kedua putri saya minta dibelikan makanan dan minuman, serta menyewa ban untuk berenang. Dengan komunikasi produktif saya mengarahkan mereka agar tidak perlu membeli makanan dan minuman karena saya sudah membawa bekal minum dari rumah, juga tidak perlu menyewa ban karena saya tidak mengizinkan mereka berenang di kolam yang dalam. Untuk makanan, karena kedua putri saya mengeluh lapar, padahal di rumah sudah sarapan, sedangkan saya tidak sempat membawa bekal makanan, akhirnya terpaksa saya membelikan satu pop mie untuk dimakan mereka berdua.
Selama tiga jam kedua putri saya asyik berenang sambil bermain. Sebenarnya saya sudah mengajak mereka pulang sejak sejam sebelumnya, tapi mereka belum mau pulang. Akhirnya dengan komunikasi produktif, menjelang dhuhur, saya kembali mengajak mereka pulang. Alhamdulillah mereka setuju mengingat kondisi mereka sudah kedinginan karena terlalu lama bermain dalam air, ditambah cuaca yang mendung sejak pagi. Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian di kamar ganti pakaian, kami akhirnya pulang ke rumah dengan dijemput sang ayah setelah menghubunginya lewat telpon. Semoga aktivitas berenang dan bermain air kedua putri kecilku hari ini semakin memperkuat ikatan emosi di antara kami, memperkenalkan kepada mereka tentang pola hidup sehat yang terbukti baik bagi kesehatan jantung dan paru-paru, juga mengasah kemandirian serta melatih rasa percaya diri dan keberanian mereka sejak dini. Di samping itu, renang bermanfaat membantu pertumbuhan otot si kecil karena berenang membutuhkan gerak seluruh otot motoriknya juga merangsang pertumbuhan saraf otaknya yang akan meningkatkan kecerdasan IQ-nya. Aamiin Ya Mujiib ad-Du’a.
Bumi Salamodin
Ahad, 29 Januari 2017
#Hari4
#GameLevel1
#KuliahBunSayIIP
#KomunikasiProduktif
Komentar
Posting Komentar