Langsung ke konten utama

ALIRAN RASA KOMUNIKASI PRODUKTIF

Sungguh perjuangan yang menantang saat saya harus menyelesaikan tantangan 10 hari berkomunikasi produktif di tengah keluarga saya yang istimewa. Bagaimana tidak menantang, sebuah bekal pemahaman tentang bagaimana cara berkomunikasi produktif dihadapkan pada kondisi keistimewaan dan keunikan masing-masing pribadi di dalam keluarga saya. Suami dengan gaya parenthogenic-nya, putra pertama dengan hiperaktif tipe 1-nya, putra kedua dengan trauma psikis-nya, putri ketiga dan keempat yang superaktif dengan disertai adanya perseteruan panjang akibat sibling rivalry di antara keduanya, menjadikan upaya berkomunikasi produktif menjadi penuh warna dan rasa. Meskipun teori komunikasi produktif telah dipelajari, praktiknya saat menghadapi perilaku keempat putra-putri saya yang istimewa dengan segala tantangannya dalam waktu bersamaan, tak jarang gaya komunikasi parenthogenic akhirnya meluncur dari lisan saya. Alih-alih tantangan berhasil ditaklukkan, yang terjadi menambah tantangan baru yang kian istimewa. Sedih rasanya saat belum mampu menjaga kekonsistenan membangun komunikasi produktif kepada keempat putra-putri saya saat dihadapkan pada kondisi tekanan yang istimewa.

Adapun pola komunikasi saya dengan pasangan selama ini, dalam praktiknya lebih dipengaruhi faktor arkeopsikis (ego sebagai anak-anak), gabungan antara natural child (NC) dengan adapted child (AC). Suatu status ego anak yang berisi perasaan, tingkah laku dan bagaimana berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman semasa kanak-kanak. Walhasil yang nampak pada diri saya saat berkomunikasi dengan pasangan lebih diwarnai dengan kepribadian yang tidak stabil, reaktif, berubah-ubah, memberontak, mengeluh, ngambek dan bermanja diri. Faktor arkeopsikis ini mengantarkan pola  komunikasi saya dengan pasangan termasuk kategori model transaksi silang.
Suatu transaksi komunikasi yang terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator tidak mendapat respons sewajarnya dari komunikan akibat dari kondisi saat pasangan mengajak komunikasi berdasarkan ego dewasa, saya seringkali menanggapinya dengan ego anak-anak. Ditambah kondisi pasangan yang masih terbiasa dengan gaya parenthogenic-nya, akhirnya tak jarang terjadi kesalahpahaman yang menyulut respon emosi di antara saya dan pasangan.



Dari semua fakta di atas, setelah mengamati dan menuliskan tantangan 10 hari komunikasi produktif dengan sadar, saya akhirnya memahami titik permasalahan inti dari pola komunikasi saya dengan diri sendiri maupun keluarga saya. Akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa pola komunikasi saya masuk kategori tahap sosionomi, yakni tahapan dengan limit terendah dari sebuah proses untuk mempermudah tercapainya tujuan komunikasi produktif. Pada tahapan ini, dibangun kesadaran dan penguatan dari lingkungan terdekat, saya mulai melakukan perilaku yang dinyatakan dalam indikator, dan sudah mulai konsisten menjalankan tantangan tepat 10 hari. Adapun di luar tantangan 10 hari itu, dalam kondisi tekanan keadaan yang istimewa, seringkali saya masih terkungkung oleh rantai gajah pola komunikasi parenthogenic.

Tentu saja hal ini tidak boleh saya pertahankan tanpa upaya perbaikan. Saya termotivasi untuk bisa terus mengupgrade limit tersebut karena saya menyadari bahwa limit kita adalah unlimited. Tidak ada yang mampu membatasi kita kecuali diri kita sendiri. Dengan konsep tersebut maka tidak ada yang tidak mungkin. Maka saya harus menentukan limit setinggi mungkin untuk diraih dan selalu diperbarui. Kuncinya adalah komunikasi produktif dengan diri sendiri.

_The greater danger of most of us is not that our aim is too high and we miss it, but it is too low and we reach it_ – Bahaya besar bukan karena kita mempunyai target tapi tak mampu mencapainya. Akan jauh lebih berbahaya jika kita mempunyai target yang terlalu rendah dan kita berhasil mencapainya – Michael angelo

Semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan, bimbingan dan petunjuk-Nya selalu kepada kita dalam membangun komunikasi produktif dengan diri sendiri, keluarga maupun sesama sebagai salah satu sarana untuk mewujudkan kehidupan komunikasi yang didambakan. Aamiin Ya Mujiib ad-Du'a.


Bumi Salamodin
18 Februari 2017

#AliranRasa
#KomunikasiProduktif
#InstitutIbuProfesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...