Langsung ke konten utama

CHALLENGE #3; LEVEL #1; SI SULUNG YANG SENSITIF DAN HIPERAKTIF

Di hari libur imlek ini, keempat putra-putri saya sejak pagi sudah keluar rumah untuk bermain bersama teman-temannya. Saya pun telah mempunyai dua agenda untuk mengisi pengajian. Otomatis sejak jam 9 pagi sampai jam 15 sore saya tidak banyak berinteraksi dengan keempat putra-putri saya.  Sampai ba'da ashar, saya,  suami dan keempat putra-putri saya baru bisa berkumpul bersama di rumah.  

Menjelang maghrib ini saya menargetkan untuk membangun komunikasi dengan Si sulung. Di usianya yang ke-13 tahun, perkembangan kecerdasan emosinya saya rasakan tidak secepat teman-teman seusianya, meskipun dari sisi kognitif, saya nilai ia tergolong anak yang cerdas. Saya menyadari kondisi Si sulung yang dilahirkan dalam keadaan memiliki riwayat alergi pencernaan dan tergolong anak hiperaktif tipe 1, membuatnya memiliki kebiasaan dan karakter yang unik. Ia sangat sensitif,  mudah tersinggung, sangat mudah tertekan, bicaranya sangat banyak, mengulang-ulang gerakan yang tidak perlu, serta tangan dan kakinya tidak pernah bisa diam untuk tidak mengusili adik-adiknya. Walhasil adik-adiknya yang awalnya tenang bermain ataupun sedang tidur, tiba-tiba menangis ataupun marah-marah karena diusili dan diganggu Si sulung.  

Dalam komunikasi selama ini, saya seringkali berselisih dengannya hanya karena masalah sepele. Kekecewaannya karena pernah tinggal terpisah dari saya saat ia mondok selama 4 tahun di pesantren dan saat saya sakit lama, membuatnya merasa kurang mendapatkan kasih sayang dari saya sebagai ibunya. Ditambah dengan kondisi Si sulung yang hiperaktif, menjadi tantangan luar biasa bagi saya dan suami saat mengasuh, mendidik dan membesarkannya sejak usia bayi sampai usia pra baligh sekarang. Meskipun saya sudah mendapatkan arahan dan petunjuk bagaimana cara berkomunikasi dengan Si sulung dari psikolog tempat keluarga kami konsultasi dan terapi anak-anak selama ini, namun saya belum mampu mempraktikannya dengan baik. Maka komunikasi tidak produktif dan selisih paham akhirnya yang sering terjadi antara saya dengan Si sulung.

Tidak banyak perubahan perilaku yang ingin saya targetkan maghrib ini dari Si sulung. Saya memilki harapan Si sulung sudah mulai membiasakan diri shalat fardhu berjamaah di mesjid atas dasar kesadarannya sendiri, bukan atas dasar paksaan kami (saya dan suami) sebagai orangtuanya. Tentunya agar saat baligh nanti Si sulung sudah terbiasa shalat fardhu berjamaah di mesjid sehingga ia bisa mendapatkan pahala keutamaan shalat berjamaah di mesjid bagi laki-laki muslim. Maka saya pun mulai berkomunikasi produktif dengan Si sulung dengan sistem reward. Hanya dengan sekali kalimat motivasi dan reward,  alhamdulillah Si sulung langsung setuju dan tersenyum cerah, lalu lari ke kamar mandi untuk berwudlu, dan selanjutnya pergi ke mesjid yang ada di seberang rumah dengan berlari kecil. Ah ternyata dengan komunikasi produktif, tidak sulit untuk menggerakkan Si sulung, alhamdulillah.

Ba'da maghrib saya lebih banyak istirahat berbaring di atas kasur putri bungsu saya di kamarnya, melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Putra-putri saya masih senang bermain, tentunya saya arahkan untuk bermainnya di dalam rumah karena hari sudah malam, meski awalnya keempat putra-putri kami sempat bermain keluar rumah, bahkan putra kedua sempat berkeliling lingkungan tempat tinggal kami dengan sepedanya. Memasuki jam 20 malam, 3 putra-putri kami menonton televisi ditemani sang ayah yang masih sibuk di meja kerjanya melanjutkan menulis sebuah buku. Sedangkan putri ketiga sudah tertidur pulas kelelahan di ruang keluarga. Malam ini saya tidak meminta mereka belajar karena besok hari Ahad masih libur sekolah.

Sekitar jam 21 saya membangun komunikasi lagi dengan Si sulung. Target saya kali ini adalah memotivasi Si sulung agar besok pagi jam 5.30 bisa mengikuti jadwal belajar al-Quran di forum keluarga kami dengan serius, tidak bermain-main & tidak mengusili adik-adiknya, serta bisa menaati adab belajar dengan baik. Dengan komunikasi produktif, saya sampaikan harapan saya kepadanya, berikut alasannya. Si sulung alhamdulillah mendengarkan dengan seksama, tidak banyak berkomentar ataupun menyampaikan penolakan seperti biasanya. Alhamdulillah, saya bersyukur, semoga langkah-langkah kecil ini yang diawali dengan komunikasi yang selalu produktif, maka kedekatan saya bisa terbangun kembali dengan Si sulung tanpa harus diwarnai emosi dan selisih paham. Dan semoga Si sulung pun bisa terus berproses sedikit demi sedikit untuk memiliki kepribadian Islam yang mulia, termasuk memiliki kebiasaan dan adab yang baik,  sesuai dengan standar syariat Islam. In syaa Allah sebagai ibu, saya akan terus berupaya menjadi sahabat untuknya dan akan selalu mendoakan untuk kebaikan dan kebahagiaannya. Aamiin Ya Mujiib ad-Du'a.  



Bumi Salamodin
Sabtu, 28 Januari 2017

#Hari3
#GameLevel1
#KuliahBunSayIIP
#KomunikasiProduktif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...