Hari baru, semangat baru. Di hari penuh tantangan ini, saya kembali bertekad bisa menjalani 24 jam pada hari ini dengan menerapkan komunikasi produktif kepada suami dan keempat putra-putri saya. Tentu bukan hal yang mudah, akan banyak tantangan sebagaimana hari-hari sebelumnya. Namun kesuksesan tidak akan pernah bisa kita raih tatkala kita tidak istiqomah dalam menjalani proses ini. Ya sebuah proses, untuk terus melatih diri menerapkan komunikasi produktif.
Alhamdulillah dalam menjalani proses hari ini, beberapa item komunikasi produktif berhasil saya terapkan kepada anak-anak. Item itu diantaranya adalah saya memberikan pujian yang jelas kepada putri ketiga saya, Zahwa.
"Zahwa hebat, pintar, shalihah, bisa bangun paling pagi dan sekarang sudah siap berangkat sekolah..," demikian apresiasi saya.
Adapun saat menggerakkan si sulung untuk segera mandi agar tidak terlambat pergi ke sekolah, saya terapkan item "keep information short & simple (KISS), mengendalikan intonasi suara yang lembut dan ramah dengan rumus 7-38-55, juga item "mengatakan apa yang saya inginkan, bukan yang tidak saya inginkan."
Adapun saat menggerakkan si sulung untuk segera mandi agar tidak terlambat pergi ke sekolah, saya terapkan item "keep information short & simple (KISS), mengendalikan intonasi suara yang lembut dan ramah dengan rumus 7-38-55, juga item "mengatakan apa yang saya inginkan, bukan yang tidak saya inginkan."
“Mush’ab, ummi pingin kakak segera mandi supaya tidak terlambat ke sekolah," harap saya.
Saat Si sulung tidak bergerak juga untuk mandi, saya katakan padanya, "Mush’ab mau mandi jam berapa?"
"Ini sebentar lagi, Mi..," jawab Si sulung. Dan tidak berapa lama ia pun akhirnya mandi.
Begitu pula item ini saya terapkan pada Zahwa, saat menggerakkannya agar segera shalat shubuh saat saya melihatnya berleha-leha selepas mandi pagi.
"Zahwa, ummi ingin Zahwa shalat shubuh tepat waktu. Ayo shalihah, shalat dulu, sebentar lagi waktunya habis..," pinta saya dengan nada lembut dan ramah. Akhirnya Zahwa pun menunaikan shalat shubuh meski belum sempurna.
Setelah ketiga putra-putri saya berangkat sekolah, sekitar jam 8 pagi saya membangun komunikasi produktif dengan putra kedua, Sa'ad. Pendidikannya tiga tahun ini ditempuh dengan metode homeschooling di bawah bimbingan saya langsung.
"Sa'ad mau belajar jam berapa hari ini?" tanya saya.
"Jam 6 sore ya, Mi," jawab Sa'ad.
"Wah, kalau jam 6 sore, ba'da shalat maghrib kita kan ada jadwal belajar al-Quran dengan ustadz. Bagaimana kalau pagi ini?" ujar saya.
"Malam saja ya, Mi, dua jam..!" tawar Sa'ad.
"Kalau malam, ummi biasanya sibuk mengurus macam-macam dan sudah kecapaian. Nanti kita khawatir tidak jadi belajarnya," ungkap saya.
"Ya sudah siang aja ya, Mi..!" kata Sa'ad.
"Ya boleh, in syaa Allah," jawab saya.
Demikianlah kesepakatan saya dengan Sa'ad untuk jadwal belajar Sa’ad hari ini. Meskipun sampai siang hari Sa’ad belum juga belajar karena asyik bermain. Pulang sebentar untuk meminta uang jajan, terus pergi lagi bermain. Saya hanya bisa bersabar dan tidak ingin memaksanya belajar, mengingat psikis Sa’ad pasca trauma dan fobia sekolah yang masih membekas kuat di hatinya.
Komunikasi produktif saya terapkan pula pada si bungsu, Shafa, saat menjemputnya pulang dari sekolah. Saya mengganti kalimat interogasi dengan pernyataan observasi.
Setelah ketiga putra-putri saya berangkat sekolah, sekitar jam 8 pagi saya membangun komunikasi produktif dengan putra kedua, Sa'ad. Pendidikannya tiga tahun ini ditempuh dengan metode homeschooling di bawah bimbingan saya langsung.
"Sa'ad mau belajar jam berapa hari ini?" tanya saya.
"Jam 6 sore ya, Mi," jawab Sa'ad.
"Wah, kalau jam 6 sore, ba'da shalat maghrib kita kan ada jadwal belajar al-Quran dengan ustadz. Bagaimana kalau pagi ini?" ujar saya.
"Malam saja ya, Mi, dua jam..!" tawar Sa'ad.
"Kalau malam, ummi biasanya sibuk mengurus macam-macam dan sudah kecapaian. Nanti kita khawatir tidak jadi belajarnya," ungkap saya.
"Ya sudah siang aja ya, Mi..!" kata Sa'ad.
"Ya boleh, in syaa Allah," jawab saya.
Demikianlah kesepakatan saya dengan Sa'ad untuk jadwal belajar Sa’ad hari ini. Meskipun sampai siang hari Sa’ad belum juga belajar karena asyik bermain. Pulang sebentar untuk meminta uang jajan, terus pergi lagi bermain. Saya hanya bisa bersabar dan tidak ingin memaksanya belajar, mengingat psikis Sa’ad pasca trauma dan fobia sekolah yang masih membekas kuat di hatinya.
Komunikasi produktif saya terapkan pula pada si bungsu, Shafa, saat menjemputnya pulang dari sekolah. Saya mengganti kalimat interogasi dengan pernyataan observasi.
"Shafa, katanya Ibu Iis (-wali kelasnya Shafa) masih di rumah sakit Mitra, Cirebon," cerita saya.
"Iya Ummi, kemarin suami ibu Iis belum jadi dioperasi. Hari ini mau dioperasinya," cerita Shafa.
"Iya Ummi, kemarin suami ibu Iis belum jadi dioperasi. Hari ini mau dioperasinya," cerita Shafa.
“Apanya yang mau dioperasi, neng?” tanya saya.
“Tangannya yang sebelah kanan, ummi, kan ketabrak sama motor anak sekolah, jadi kebuka bagian dalamnya, mau dioperasi…,” lanjut Shafa.
Obrolan pun terus berlanjut selama di atas kendaraan motor yang saya kemudikan dalam perjalanan pulang menuju rumah. Putri bungsu saya ini memang paling senang dan pandai bercerita pengalaman dan informasi apapun yang diterimanya. Meskipun usianya baru lima tahun, saat kita ngobrol dengannya, seakan kita ngobrol dengan sesama orang dewasa karena pandainya Shafa berkomunikasi dan selalu nyambung diajak ngobrol apapun.
Alhamdulillah sampai sore, saya berusaha terus menerapkan item-item dalam berkomunikasi produktif dengan suami dan anak-anak. Meskipun ba’da maghrib, tantangan kembali saya temukan saat menggerakkan anak-anak agar mengikuti forum keluarga belajar al-Quran dan bisa mematuhi adab belajar. Meskipun hasilnya belum sepenuhnya sesuai harapan, namun tidak melemahkan semangat kita untuj terus berusaha lebih baik lagi di hari-hari berikutnya. Saya sangat menyadari bahwa setiap anak dilahirkan unik dan setiap keluarga pun memiliki karakteristik dan keunikan sendiri-sendiri. Walhasil tantangan pada setiap anak dan setiap keluarga berbeda-beda, tidak bisa digeneralisasi sama. Saya pun menyadari dalam kehidupan ini, dalam setiap perbuatan apapun, kita hanya diwajibkan berikhtiar dengan segenap kemampuan kita, diiringi dengan berdoa dan bertawakal kepada Allah SWT atas setiap proses yang kita jalani. Adapun hasilnya adalah hak prerogatif Allah SWT. Dan Allah SWT pun tidak pernah menilai hasil yang kita capai, namun Allah menilai usaha dan doa kita, sekecil apapun. Semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan dan bimbingan-Nya selalu kepada kita dalam menjalani peran kita sebagai hamba Allah di muka bumi ini. Aamiin Ya Mujiib ad-Du'a.
Obrolan pun terus berlanjut selama di atas kendaraan motor yang saya kemudikan dalam perjalanan pulang menuju rumah. Putri bungsu saya ini memang paling senang dan pandai bercerita pengalaman dan informasi apapun yang diterimanya. Meskipun usianya baru lima tahun, saat kita ngobrol dengannya, seakan kita ngobrol dengan sesama orang dewasa karena pandainya Shafa berkomunikasi dan selalu nyambung diajak ngobrol apapun.
Alhamdulillah sampai sore, saya berusaha terus menerapkan item-item dalam berkomunikasi produktif dengan suami dan anak-anak. Meskipun ba’da maghrib, tantangan kembali saya temukan saat menggerakkan anak-anak agar mengikuti forum keluarga belajar al-Quran dan bisa mematuhi adab belajar. Meskipun hasilnya belum sepenuhnya sesuai harapan, namun tidak melemahkan semangat kita untuj terus berusaha lebih baik lagi di hari-hari berikutnya. Saya sangat menyadari bahwa setiap anak dilahirkan unik dan setiap keluarga pun memiliki karakteristik dan keunikan sendiri-sendiri. Walhasil tantangan pada setiap anak dan setiap keluarga berbeda-beda, tidak bisa digeneralisasi sama. Saya pun menyadari dalam kehidupan ini, dalam setiap perbuatan apapun, kita hanya diwajibkan berikhtiar dengan segenap kemampuan kita, diiringi dengan berdoa dan bertawakal kepada Allah SWT atas setiap proses yang kita jalani. Adapun hasilnya adalah hak prerogatif Allah SWT. Dan Allah SWT pun tidak pernah menilai hasil yang kita capai, namun Allah menilai usaha dan doa kita, sekecil apapun. Semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan dan bimbingan-Nya selalu kepada kita dalam menjalani peran kita sebagai hamba Allah di muka bumi ini. Aamiin Ya Mujiib ad-Du'a.
Bumi Salamodin
Kamis, 9 Februari 2017
#Hari10
#GameLevel1
#KuliahBunSayIIP
#KomunikasiProduktif
Komentar
Posting Komentar