Langsung ke konten utama

CHALLENGE #10; LEVEL #1; ALLAH MENILAI USAHA & DOA KITA, SEKECIL APAPUN...!

Hari baru, semangat baru. Di hari penuh tantangan ini, saya kembali bertekad bisa menjalani 24 jam pada hari ini dengan menerapkan komunikasi produktif kepada suami dan keempat putra-putri saya. Tentu bukan hal yang mudah, akan banyak tantangan sebagaimana hari-hari sebelumnya. Namun kesuksesan tidak akan pernah bisa kita raih tatkala kita tidak istiqomah dalam menjalani proses ini. Ya sebuah proses, untuk terus melatih diri menerapkan komunikasi produktif. 

Alhamdulillah dalam menjalani proses hari ini, beberapa item komunikasi produktif berhasil saya terapkan kepada anak-anak. Item itu diantaranya adalah saya memberikan pujian yang jelas kepada putri ketiga saya, Zahwa.
"Zahwa hebat, pintar, shalihah, bisa bangun paling pagi dan sekarang sudah siap berangkat sekolah..," demikian apresiasi saya.

Adapun saat menggerakkan si sulung untuk segera mandi agar tidak terlambat pergi ke sekolah, saya terapkan item "keep information short & simple (KISS), mengendalikan intonasi suara yang lembut dan ramah dengan rumus 7-38-55, juga item "mengatakan apa yang saya inginkan, bukan yang tidak saya inginkan."
Mush’ab, ummi pingin kakak segera mandi supaya tidak terlambat ke sekolah," harap saya.
Saat Si sulung tidak bergerak juga untuk mandi, saya katakan padanya, "Mush’ab mau mandi jam berapa?"
"Ini sebentar lagi, Mi..," jawab Si sulung. Dan tidak berapa lama ia pun akhirnya mandi.

Begitu pula item ini saya terapkan pada Zahwa, saat menggerakkannya agar segera shalat shubuh saat saya melihatnya berleha-leha selepas mandi pagi.
"Zahwa, ummi ingin Zahwa shalat shubuh tepat waktu. Ayo shalihah, shalat dulu, sebentar lagi waktunya habis..," pinta saya dengan nada lembut dan ramah. Akhirnya Zahwa pun menunaikan shalat shubuh meski belum sempurna.

Setelah ketiga putra-putri saya berangkat sekolah, sekitar jam 8 pagi saya membangun komunikasi produktif dengan putra kedua, Sa'ad. Pendidikannya tiga tahun ini ditempuh dengan metode homeschooling di bawah bimbingan saya langsung.
"Sa'ad mau belajar jam berapa hari ini?" tanya saya.
"Jam 6 sore ya, Mi," jawab Sa'ad.
"Wah, kalau jam 6 sore, ba'da shalat maghrib kita kan ada jadwal belajar al-Quran dengan ustadz. Bagaimana kalau pagi ini?" ujar saya.
"Malam saja ya, Mi, dua jam..!" tawar Sa'ad.
"Kalau malam, ummi biasanya sibuk mengurus macam-macam dan sudah kecapaian. Nanti kita khawatir tidak jadi belajarnya," ungkap saya.
"Ya sudah siang aja ya, Mi..!" kata Sa'ad.
"Ya boleh, in syaa Allah," jawab saya.
Demikianlah kesepakatan saya dengan Sa'ad untuk jadwal belajar Sa’ad hari ini. Meskipun sampai siang hari Sa’ad belum juga belajar karena asyik bermain. Pulang sebentar untuk meminta uang jajan, terus pergi lagi bermain. Saya hanya bisa bersabar dan tidak ingin memaksanya belajar, mengingat psikis Sa’ad pasca trauma dan fobia sekolah yang masih membekas kuat di hatinya.

Komunikasi produktif saya terapkan pula pada si bungsu, Shafa, saat menjemputnya pulang dari sekolah. Saya mengganti kalimat interogasi dengan pernyataan observasi.
"Shafa, katanya Ibu Iis (-wali kelasnya Shafa) masih di rumah sakit Mitra, Cirebon," cerita saya.
"Iya Ummi, kemarin suami ibu Iis belum jadi dioperasi. Hari ini mau dioperasinya," cerita Shafa.
“Apanya yang mau dioperasi, neng?” tanya saya.
Tangannya yang sebelah kanan, ummi, kan ketabrak sama motor anak sekolah, jadi kebuka bagian dalamnya, mau dioperasi…,” lanjut Shafa.
Obrolan pun terus berlanjut selama di atas kendaraan motor yang saya kemudikan dalam perjalanan pulang menuju rumah. Putri bungsu saya ini memang paling senang dan pandai bercerita pengalaman dan informasi apapun yang diterimanya. Meskipun usianya baru lima tahun, saat kita ngobrol dengannya, seakan kita ngobrol dengan sesama orang dewasa karena pandainya Shafa berkomunikasi dan selalu nyambung diajak ngobrol apapun.

Alhamdulillah sampai sore, saya berusaha terus menerapkan item-item dalam berkomunikasi produktif dengan suami dan anak-anak. Meskipun ba’da maghrib, tantangan kembali saya temukan saat  menggerakkan anak-anak agar mengikuti forum keluarga belajar al-Quran dan bisa mematuhi adab belajar. Meskipun hasilnya belum sepenuhnya sesuai harapan, namun tidak melemahkan semangat kita untuj terus berusaha lebih baik lagi di hari-hari berikutnya. Saya sangat menyadari bahwa setiap anak dilahirkan unik dan setiap keluarga pun memiliki karakteristik dan keunikan sendiri-sendiri. Walhasil tantangan pada setiap anak dan setiap keluarga berbeda-beda, tidak bisa digeneralisasi sama. Saya pun menyadari dalam kehidupan ini, dalam setiap perbuatan apapun, kita hanya diwajibkan berikhtiar dengan segenap kemampuan kita, diiringi dengan berdoa dan bertawakal kepada Allah SWT atas setiap proses yang kita jalani. Adapun hasilnya adalah hak prerogatif Allah SWT. Dan Allah SWT pun tidak pernah menilai hasil yang kita capai, namun Allah menilai usaha dan doa kita, sekecil apapun. Semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan dan bimbingan-Nya selalu kepada kita dalam menjalani peran kita sebagai hamba Allah di muka bumi ini. Aamiin Ya Mujiib ad-Du'a.



Bumi Salamodin
Kamis, 9 Februari 2017

#Hari10
#GameLevel1
#KuliahBunSayIIP
#KomunikasiProduktif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...