Sungguh tantangan luar biasa menjalankan peran sebagai ibu dari 4 putra-putri dengan jarak usia berdekatan, dimana kondisi putra pertama terkategori hiperaktif tipe 1 dan mempunyai riwayat alergi pencernaan, putra kedua yang mengalami trauma psikis, kedua putri yang superaktif serta perseteruan berkepanjangan akibat sibling rivalry antara dua putriku, si bungsu dengan kakak perempuannya. Ditambah kewajiban mengelola rumah tangga tanpa asisten serta menjalankan program homeshooling bagi putra keduaku, dimana aku sebagai pengajar tunggalnya, terasa dibutuhkan energi yang jauh lebih besar dari biasanya. Padahal pasca sakit serius sejak April 2012 hingga kini masih dalam proses recovery, stamina tubuh jauh dari prima. Pikiran pun tidak mampu lagi dibebani berbagai persoalan berat dalam waktu bersamaan, apalagi disertai adanya tekanan dan ancaman fisik maupun psikis, hanya akan mendatangkan psikosomatis.
Dalam hal komunikasi dengan keempat putra-putriku yang luar biasa ini, merupakan tantangan tersendiri bagiku, khususnya dengan si sulung yang hiperaktif. Meskipun sekian teori dipelajari, praktiknya saat menghadapi perilaku keempat putra-putriku dengan segala tantangannya dalam waktu bersamaan, tak jarang gaya komunikasi parenthogenic muncul untuk menghadapinya. Alih-alih tantangan berhasil ditaklukkan, yang terjadi menambah tantangan baru yang kian berat. Sedih memang rasanya saat belum mampu menjaga kekonsistenan berkomunikasi produktif di bawah tekanan keadaan yang luar biasa.
Di hari ketujuh tantangan berkomunikasi produktif, aku membulatkan tekad untuk mampu menjaga konsistensi komunikasi produktif 24 jam penuh di tengah keluargaku. Sekuat mungkin menghindari gaya komunikasi parenthogenic dalam kondisi seberat apapun tantangan yang dihadapi. Alhamdulillah mengawali pagi hingga ketiga putra-putriku berangkat sekolah formal, tantangan berhasil ditaklukkan tanpa komunikasi parenthogenic. Situasi dan kondisi pun aman terkendali. Demikian pula saat putra-putriku pulang dari sekolah hingga maghrib menjelang, komunikasi produktif bisa tetap kuterapkan pada keempat putra-putriku. Tentu saja bukan tanpa godaan. Beberapa kali perilaku putra-putriku hampir-hampir mengantarkanku untuk mengeluarkan jurus andalan, komunikasi parenthogenic. Namun segera mengurungkannya saat ku tersadar, hal itu tidak akan menyelesaikan persoalan, hanya akan memunculkan tantangan baru yang lebih berat.
Ba'da maghrib saat akan dilaksanakan program keluarga untuk belajar al-Quran, tantangan baru muncul. Putra keduaku ngambek tidak mau ikut belajar akibat gaya komunikasi parenthogenic sang ayah yang memintanya segera mematikan televisi karena ustadz pengajar sudah datang. Padahal menyiapkan mental belajar putra keduaku ini bukan hal yang mudah, mengingat ia mengalami trauma psikis dalam hal sekolah dan belajar. Ada rasa sesal dan sedih saat sang ayah belum mengubah status quo gaya parenthogenic-nya dalam berkomunikasi di tengah keluarga karena hanya akan mengikis tabungan positifnya di hati kami. Dengan komunikasi produktif, aku berusaha membujuk putra keduaku agar mau ikut belajar al-Quran. Namun hingga menjelang proses belajar berakhir, ia masih ngambek. Tidak putus asa, kembali kubujuk putra keduaku agar mau menyusul belajar sebelum ustadz pulang. Alhamdulillah ternyata berhasil, putra keduaku akhirnya mau menyusul belajar dengan ustadz sebelum proses belajar ditutup dengan doa. Bahagia rasanya saat sukses membujuknya untuk belajar. Sebuah proses dan langkah kecil yang sungguh berharga di mataku.
Dalam hal komunikasi dengan keempat putra-putriku yang luar biasa ini, merupakan tantangan tersendiri bagiku, khususnya dengan si sulung yang hiperaktif. Meskipun sekian teori dipelajari, praktiknya saat menghadapi perilaku keempat putra-putriku dengan segala tantangannya dalam waktu bersamaan, tak jarang gaya komunikasi parenthogenic muncul untuk menghadapinya. Alih-alih tantangan berhasil ditaklukkan, yang terjadi menambah tantangan baru yang kian berat. Sedih memang rasanya saat belum mampu menjaga kekonsistenan berkomunikasi produktif di bawah tekanan keadaan yang luar biasa.
Di hari ketujuh tantangan berkomunikasi produktif, aku membulatkan tekad untuk mampu menjaga konsistensi komunikasi produktif 24 jam penuh di tengah keluargaku. Sekuat mungkin menghindari gaya komunikasi parenthogenic dalam kondisi seberat apapun tantangan yang dihadapi. Alhamdulillah mengawali pagi hingga ketiga putra-putriku berangkat sekolah formal, tantangan berhasil ditaklukkan tanpa komunikasi parenthogenic. Situasi dan kondisi pun aman terkendali. Demikian pula saat putra-putriku pulang dari sekolah hingga maghrib menjelang, komunikasi produktif bisa tetap kuterapkan pada keempat putra-putriku. Tentu saja bukan tanpa godaan. Beberapa kali perilaku putra-putriku hampir-hampir mengantarkanku untuk mengeluarkan jurus andalan, komunikasi parenthogenic. Namun segera mengurungkannya saat ku tersadar, hal itu tidak akan menyelesaikan persoalan, hanya akan memunculkan tantangan baru yang lebih berat.
Ba'da maghrib saat akan dilaksanakan program keluarga untuk belajar al-Quran, tantangan baru muncul. Putra keduaku ngambek tidak mau ikut belajar akibat gaya komunikasi parenthogenic sang ayah yang memintanya segera mematikan televisi karena ustadz pengajar sudah datang. Padahal menyiapkan mental belajar putra keduaku ini bukan hal yang mudah, mengingat ia mengalami trauma psikis dalam hal sekolah dan belajar. Ada rasa sesal dan sedih saat sang ayah belum mengubah status quo gaya parenthogenic-nya dalam berkomunikasi di tengah keluarga karena hanya akan mengikis tabungan positifnya di hati kami. Dengan komunikasi produktif, aku berusaha membujuk putra keduaku agar mau ikut belajar al-Quran. Namun hingga menjelang proses belajar berakhir, ia masih ngambek. Tidak putus asa, kembali kubujuk putra keduaku agar mau menyusul belajar sebelum ustadz pulang. Alhamdulillah ternyata berhasil, putra keduaku akhirnya mau menyusul belajar dengan ustadz sebelum proses belajar ditutup dengan doa. Bahagia rasanya saat sukses membujuknya untuk belajar. Sebuah proses dan langkah kecil yang sungguh berharga di mataku.
Seusai belajar dan membereskan ruang keluarga yang dipakai untuk tempat belajar, sekitar jam 8.30 malam, aku pun mulai beristirahat akibat fisik yang sudah demikian lelah. Dua putriku pun sudah terlelap tidur kelelahan, sedangkan dua putra laki-lakiku masih menonton televisi ditemani sang ayah. Belum lama beristirahat, tantangan baru kembali muncul, sekitar pukul 9.30 malam putri bungsuku tiba-tiba menangis keras… Hemm…. rupanya ia mengompol. Tadi ia tertidur kelelahan di lantai ruang keluarga tanpa sempat pipis dulu ke kamar mandi. Karena menangis lama, meski sudah coba ditangani sang ayah, akhirnya aku pun bangun dan berusaha menanganinya. Di kamar mandi si bungsu menangis makin meraung-raung dan tempertantrumnya muncul. Di tengah kondisi fisik saya yang lelah, dihadapkan pada tempertantrum si bungsu yang tangisan kerasnya mengganggu keheningan malam, pengendalian diri saya mulai goyah. Kalimat parenthogenik pun akhirnya meluncur dari lisanku mengiringi suasana hati dan pikiran yang mulai tak nyaman. Sang ayah mencoba kembali menangani sambil memintaku menyamankan dulu hati dan pikiran. Bukannya berhenti, si bungsu kian bertambah tempertantrumnya. Setelah lebih setengah jam si bungsu tempertantrum, akhirnya ia bisa tenang di bawah pelukan dan pangkuanku.
Duh.. maafkan ummu, nak, belum mampu menjadi ummu yang baik dan ideal bagimu. Begitu banyak kekurangan dan kelemahan diri ummu yang harus diperbaiki. Mengurus, mendidik dan mengasuhmu juga ketiga kakak-kakakmu dengan segala kelebihan dan tantangannya, setelah sebelumnya kita pernah hidup terpisah-pisah akibat sakit paniang yang ummu alami adalah ujian luar biasa bagi ummu. Betapa pun beratnya ujian, namun ummu tetap yakin; “TIADA BEBAN TANPA PUNDAK.” Allah SWT tidak akan membebankan kewajiban dan ujian di luar kesanggupan manusia. Sekecil apapun langkah-langkah perbaikan yang kita jalani, merupakan proses yang sangat berharga bagi ummu. Bagi ummu, kesuksesan tidaklah diukur dari seberapa besar hasil yang kita capai, namun dari ketangguhan kita menjalani proses dalam kondisi seberat dan sesulit apapun dengan tetap berpegang teguh kepada hukum Allah SWT. Doa ummu bagimu wahai putra-putriku, “Semoga Allah SWT menjadikan kalian sebagai putra-putri yang shalih/shalihah, cerdas, berkepribadian Islam, berjiwa pemimpin, generasi pejuang Islam, pengemban al-Quran, mujahid/mujahidah, dan mujtahid/mujtahidah. Aamiin Ya Mujiib ad-Du’a. Maafkan Ummu yang faqir dan dha’if ini….!!
Bumi Salamodin
Kamis, 2 Februari 2017
#Hari7
#GameLevel1
#KuliahBunSayIIP
#KomunikasiProduktif
Komentar
Posting Komentar