Langsung ke konten utama

CHALLENGE #5; LEVEL #1; MEMBANGUN KEPRIBADIAN ANAK MENEPATI JANJI

Pagi yang sibuk, itulah yang saya rasakan setiap Senin pagi setelah sehari sebelumnya anak-anak libur sekolah. Pagi jam 4.00 WIB saya bangun, lalu melaksanakan aktivitas pribadi. Dilanjutkan sekitar jam 5.00 pagi, saya mulai menyetrika seragam sekolah anak-anak, mengecek dan menyiapkan perlengkapan sekolah mereka, juga menyiapkan sarapan buat mereka. Sambil menyiapkan sarapan,  saya selingi dengan mencuci piring dan gelas yang kotor, juga memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci.  

Hari ini saya menargetkan putra-putri saya bisa berangkat sekolah tepat waktu. Pasalnya kedua putri perempuan saya,  masih sering terlambat datang ke sekolah. Banyak hal yang menyebabkan keterlambatan mereka, mulai dari tantangan bangun pagi, tantangan mandi dan sarapan, juga hal-hal sepele yang terkadang membuat kedua putri saya bermalas-malasan untuk bersiap berangkat ke sekolah. Tidak jarang keduanya masih sempat bermain-main ataupun saling bercanda, bahkan berselisih paham di pagi hari hanya karena saling cemburu dan hal remeh lainnya.

Adapun Si sulung sebenarnya sudah terbiasa bangun shubuh sehingga bisa berangkat ke sekolah lebih pagi. Namun karena aktivitas di sekolahnya sudah dimulai sejak jam 6.30 WIB untuk melaksanakan shalat dhuha dan dzikir bersama setiap harinya, maka terkadang ia terlambat mengikuti kegiatan shalat dhuha dan dzikir bersama ini. Apalagi kalau ia berleha-leha atau sempat membuka hp android saya setelah bangun pagi, tidak terasa akhirnya persiapan ke sekolah sudah mepet dan ujung-ujungnya emosi Si sulung akan muncul karena khawatir terlambat.

Agar hari ini Si sulung bisa sampai di sekolah maksimal jam 6.30 pagi, sejak shubuh saya mulai membangun komunikasi produktif dengannya agar bisa segera mandi, sarapan dan persiapan berangkat ke sekolah, sehingga tidak terlambat. Alhamdulillah Si sulung tanpa banyak komentar mengikuti harapan saya. Ia segera mandi, sarapan dan bersiap diri untuk berangkat ke sekolah. Walhasil, jam 6.00 WIB Si sulung merasa sudah siap semua perlengkapannya untuk berangkat ke sekolah sehingga ia sempat berleha-leha tiduran mengingat hari masih terlalu pagi kalau ia berangkat sekolah jam 6.00 pagi. Dengan komunikasi produktif, saya mengarahkan Si sulung untuk mengecek ulang perlengkapan sekolahnya. Dan benar ternyata dasi dan kaus kaki belum ia siapkan. Saya arahkan dengan komunikasi produktif agar Si sulung bisa mandiri untuk segera memakai dasi dan mencari kaos kaki sekolahnya. Akhirnya siap sudah semua perlengkapan sekolah Si sulung. Jam 6.20 pagi ia pun berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda kesayangannya tanpa diwarnai emosi maupun rasa khawatir terlambat.

Komunikasi produktif pun mulai saya terapkan kepada kedua putri saya agar keduanya segera bersiap sehingga tidak terlambat datang ke sekolah. Kedua putri saya berjanji tidak akan terlambat datang ke sekolah, tapi keduanya minta sarapan dulu, baru mandi. Saya setuju dan segera menyuapi keduanya, untuk selanjutnya memandikannya satu per satu. Alhamdulillah dengan komunikasi produktif putri ketiga yang biasanya paling telat bangun dan paling tantangan berangkat ke sekolah, ternyata lebih mudah digerakkan. Saat memakaikan seragam sekolah, saya sampaikan kepadanya bahwa datang ke sekolah tepat waktu adalah bagian dari kewajiban memenuhi perintah Allah SWT untuk menepati janji/akad, termasuk akad masuk sekolah. Pasalnya ia sempat beralasan, terlambat datang ke sekolah pun tidak apa-apa karena tidak pernah dimarahi ustadz dan ustadzahnya. Dengan diantar sang ayah naik motor, akhirnya jam 06.45 pagi putri ketiga saya berangkat ke sekolah tanpa diwarnai emosi maupun rasa khawatir terlambat.

Tantangan terakhir saya adalah menyiapkan Si bungsu berangkat sekolah.  Karena cemburu kepada kakak perempuannya yang saya siapkan lebih dulu untuk berangkat ke sekolah, Si bungsu sempat ngambek tidak mau sekolah. Namun saya upayakan membangun komunikasi produktif dengan sistem reward padanya. Alhamdulillah akhirnya Si bungsu mau berangkat ke sekolah dan bisa diantar sang ayah sekitar jam 07.20 pagi. Karena masih TK, jam masuk sekolah Si bungsu lebih siang dibandingkan kakak-kakaknya, yakni jam 07.30 WIB. Semoga kebiasaan berangkat sekolah tepat waktu menjadi pembelajaran bagi putra-putri saya agar selalu tepat waktu dalam aktivitas apapun sebagai bagian dari membangun kepribadiannya untuk menepati janji sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT. Aamiin Ya Mujiib ad-Du’a.

Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya)  dan janjinya.“ (QS. al-Ma’arij : 34).

Dari Abdullah bin Amr radhiallahu’anhuma, dia berkata, Rasulullah sallallahu’alahi wa sallam bersabda:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ ، وَإِنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ  ( رواه البخاري، رقم 3178 و مسلم، رقم 58)

“Empat (prilaku) kalau seseorang ada padanya, maka dia termasuk benar-benar orang munafik. Kalau berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, jika bersumpah khianat, jika bertikai, melampau batas. Barangsiapa yang terdapat salah satu dari sifat tersebut, maka dia memiliki sifat kemunafikan sampai  dia meninggalkannya." (HR. Bukhari, 3178 dan Muslim, 58).

Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah sallallahu’alahi wa sallam bersabda,

مَنْ أَخْفَرَ مُسْلِمًا ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ، لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلا عَدْلٌ  ( رواه البخاري، رقم 1870 و مسلم، رقم  1370)

"Barangsiapa yang tidak menepati janji seorang muslim, maka dia mendapat laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya taubat dan tebusan." (HR. Bukhari, 1870 dan Muslim, 1370).



Bumi Salamodin
Senin, 30 Januari 2017

#Hari5
#GameLevel1
#KuliahBunSayIIP
#KomunikasiProduktif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...