Langsung ke konten utama

CHALLENGE #1; LEVEL #1; MEMBANGUN KELUARGA MENCINTAI AL QURAN

Hari ini adalah moment spesial bagi saya karena ini adalah kali pertama saya mulai mempraktikan materi sesi#1 di “Kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional (IIP)” tentang "Komunikasi Produktif". Dengan meluruskan niat dan membulatkan tekad, saya memulai aktivitas rutin hari ini sebagai ummun wa robbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga) sejak bangun pagi hari tadi hingga malam ini dengan berusaha menerapkan komunikasi produktif kepada suami dan keempat putra-putri saya, meskipun tentu saja saya masih menemukan berbagai macam tantangan mengingat kondisi komunikasi keluarga kami selama ini dirasa kurang produktif.

Pagi hari jam 7.30 WIB setelah suami pulang dari mengantar anak-anak ke sekolah, saya mulai membangun komunikasi khusus dengan suami dalam rangka menjelaskan keikutsertaan saya di “Kelas Bunda Sayang IIP”. Saya pun berbagi tentang materi “Komunikasi Produktif”, juga tentang “Game Kelas Bunda Sayang - Level 1” berupa *TANTANGAN 10 HARI BERKOMUNIKASI PRODUKTIF* yang harus dipraktikkan sejak tanggal 24 Januari kemarin hingga 11 Februari yang akan datang. Setelah itu saya mengajak suami untuk bersama-sama mulai hari ini mempraktikan komunikasi produktif di antara kami, juga kepada keempat putra-putri kami. Meskipun suami menyatakan masih belum sepenuhnya memahami bagaimana komunikasi produktif itu, namun beliau menyambut positif ajakan saya dan kami sepakat akan berupaya berproses untuk mempraktikannya sedikit demi sedikit sehingga menjadi suatu kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter.

Adapun target komunikasi produktif yang kami sepakati kepada anak-anak adalah bagaimana anak-anak bisa termotivasi untuk mengikuti program rutin keluarga kami yang sudah berjalan sejak awal Januari 2017 ini, yakni belajar al-Quran, (dari mulai tadarus, tahsin, tajwid dan tahfizh) dalam family forum yang pesertanya adalah kami sekeluarga (saya, suami dan keempat putra-putri kami) di bawah bimbingan seorang Ustadz. Program ini kami adakan seminggu tiga kali,  yakni setiap Selasa sore, Rabu sore dan hari ini, setiap Kamis ba’da maghrib. Program ini kami buat sebagai pelaksanaan dari salah satu visi keluarga kami untuk membangun keluarga yang mencintai al-Quran sebagai pedoman hidup kami, seorang muslim.

Sejak awal program ini kami jalankan, kami menemui banyak tantangan terkait mendorong keempat putra-putri kami untuk mau mengikutinya dengan penuh kesadaran. Di tengah keasyikan bermain mereka di lingkungan rumah setiap lepas dari aktivitas belajar di sekolah, juga kehadiran teman-temannya mengajak mereka bermain, seringkali membuat mereka tidak mau mengikuti program ini,  kalaupun mengikuti namun tidak serius, tidak konsentrasi dan tidak mengikuti proses pembelajaran sampai selesai.  Tidak jarang mereka pun melanggar adab belajar yang membuat kami harus berkali-kali meminta maaf kepada Ustadz atas prilaku keempat putra-putri kami yang semuanya belum menginjak usia baligh/dewasa. Komunikasi kami sebelumnya dalam mengarahkan keempat putra-putri kami agar mau belajar al-Quran ini kami rasakan masih kurang produktif karena terkadang diwarnai dengan adanya selisih paham, emosi, pilihan kata negatif dan sedikit paksaan juga peringatan.  


Alhamdulillah hari ini dengan komunikasi produktif yang masih meraba-raba, kami berhasil memotivasi keempat putra-putri kami untuk mengikuti program belajar al-Quran yang kami mulai ba'da maghrib tadi sampai sekitar jam 8 malam. Meskipun di tengah proses belajar, keempat putra-putri kami sudah mulai tidak fokus dan meminta lebih dulu mengakhiri proses belajar, namun kami bersyukur keikutsertaan mereka dalam family forum berupa program belajar al-Quran ini tanpa diawali dengan komunikasi yang diwarnai selisih paham, emosi, negatif, maupun ancaman dan peringatan.

Semoga langkah kecil kami hari ini dalam mempraktikan materi komunikasi produktif dalam family forum hari ini akan meningkatkan pemahaman dan penguasaan kami terhadap materi ini agar  lebih baik lagi pada hari-hari selanjutnya,  sehingga komunikasi keluarga kami bisa lebih baik dan produktif.  Dan semoga salah satu visi dan impian keluarga kami untuk membangun keluarga cinta al-Quran bisa terwujud. Aamiin Ya Mujiib ad-Du’a.


Bumi Salamodin
Kamis 26 Januari 2017

#Hari1
#GameLevel1
#KuliahBunSayIIP
#KomunikasiProduktif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...