Langsung ke konten utama

CHALLENGE #9; LEVEL #1; HAMASAH, ISTIQOMAH TERUS MENJALANI PROSES...!

Seperti biasa kesibukan sejak pagi jam 4.30 telah dimulai di hari Selasa ini. Putri ketigaku, Zahwa tidak seperti biasanya, ia bangun lebih cepat. Setelah minum susu, ia segera mandi,  memakai baju seragam, kemudian shalat shubuh. Karena hari masih jam 5.30 pagi, Zahwa memutuskan ikut saya belanja ke warung. Saat keluar rumah menuju warung, saya tidak lupa mengapresiasi perubahan sikapnya yang luar biasa, "Wah, Zahwa hebat, masih pagi sudah siap berangkat sekolah!"

Sepulang dari warung, saya siapkan sarapan buat Si sulung dan Zahwa. Mereka makan berdua karena si bungsu belum bangun. Jam 6 pagi, keduanya sudah siap berangkat sekolah diantar sang ayah. Tidak lupa, saat berangkat keduanya salam dan saya sampaikan harapan kepada Si sulung agar di sekolah bersikap baik, shalih, dan bicara yang baik saja. Saya pun berjanji kepada Zahwa akan menjemputnya pulang sekolah nanti. Alhamdulillah saya bersyukur pagi ini berhasil menyiapkan Si sulung dan Zahwa sampai keduanya berangkat sekolah dengan komunikasi produktif tanpa parenthogenic. Kemudian saya segera menyiapkan Si bungsu berangkat sekolah.

Jam 10 saya dan suami menjemput Si bungsu pulang sekolah. Di rumah Si bungsu, meminta pensil untuk belajar menulis huruf "r" sebagai tugas dari sekolah. Saya mendampingi Si bungsu belajar menulis huruf "r" sambil mengajaknya ngobrol. Alhamdulillah Si bungsu menyelesaikan belajar menulisnya dengan riang tanpa tekanan, lalu ia izin bermain sepeda bersama keponakan saya.

Menjelang sore, setelah menjemput Zahwa pulang dari sekolah, saya bangun komunikasi produktif dengan kedua putra saya di tempat bermainnya agar bisa pulang jam 15.30 untuk bersiap belajar al-Quran sebelum ustadz pengajar datang. Saya beri kepercayaan kepada anak-anak untuk menepati janjinya tanpa harus ada ancaman dan paksaan kepada mereka. Alhamdulillah akhirnya anak-anak pulang meskipun harus dijemput sang ayah. Sekitar jam 16.10 kami berempat belajar al-Quran. Awalnya putra kedua sempat lari keluar rumah ingin kembali bermain. Setelah saya cari dan saya bujuk dengan komunikasi produktif, akhirnya ia mau masuk kembali untuk ikut belajar. Sedangkan dua putri saya tidak ikut belajar karena ingin tetap bermain. Saya tidak ingin memaksakan Zahwa ikut belajar mengingat ia baru saja pulang sekolah dan di sejolah pun setiap hari ada pelajaran tahsin dan tahfizh. Zahwa berhak bermain melepas penat dan lelahnya fisik dan pikiran, setelah hampir 8 jam belajar di sekolah.

Alhamdulillah sampai malam hari saya berusaha menjaga komunikasi tetap positif dan produktif dengan keempat putra-putri saya meskipun sempat sedikit insiden yang menguras pikiran dan memicu munculnya emosi. Namun saya segera menjaganya kembali untuk terus belajar berkomunikasi produktif di dalam keluarga. Hamasah, istiqomah terus menjalani proses berkomunikasi produktif dalam kondisi tantangan seberat apapun. Aamiin Ya Mujiib ad-Du'a.


Bumi Salamodin
Selasa, 7 Februari 2017

#Hari9
#GameLevel1
#KuliahBunSayIIP
#KomunikasiProduktif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...