Seperti biasa kesibukan sejak pagi jam 4.30 telah dimulai di hari Selasa ini. Putri ketigaku, Zahwa tidak seperti biasanya, ia bangun lebih cepat. Setelah minum susu, ia segera mandi, memakai baju seragam, kemudian shalat shubuh. Karena hari masih jam 5.30 pagi, Zahwa memutuskan ikut saya belanja ke warung. Saat keluar rumah menuju warung, saya tidak lupa mengapresiasi perubahan sikapnya yang luar biasa, "Wah, Zahwa hebat, masih pagi sudah siap berangkat sekolah!"
Sepulang dari warung, saya siapkan sarapan buat Si sulung dan Zahwa. Mereka makan berdua karena si bungsu belum bangun. Jam 6 pagi, keduanya sudah siap berangkat sekolah diantar sang ayah. Tidak lupa, saat berangkat keduanya salam dan saya sampaikan harapan kepada Si sulung agar di sekolah bersikap baik, shalih, dan bicara yang baik saja. Saya pun berjanji kepada Zahwa akan menjemputnya pulang sekolah nanti. Alhamdulillah saya bersyukur pagi ini berhasil menyiapkan Si sulung dan Zahwa sampai keduanya berangkat sekolah dengan komunikasi produktif tanpa parenthogenic. Kemudian saya segera menyiapkan Si bungsu berangkat sekolah.
Jam 10 saya dan suami menjemput Si bungsu pulang sekolah. Di rumah Si bungsu, meminta pensil untuk belajar menulis huruf "r" sebagai tugas dari sekolah. Saya mendampingi Si bungsu belajar menulis huruf "r" sambil mengajaknya ngobrol. Alhamdulillah Si bungsu menyelesaikan belajar menulisnya dengan riang tanpa tekanan, lalu ia izin bermain sepeda bersama keponakan saya.
Menjelang sore, setelah menjemput Zahwa pulang dari sekolah, saya bangun komunikasi produktif dengan kedua putra saya di tempat bermainnya agar bisa pulang jam 15.30 untuk bersiap belajar al-Quran sebelum ustadz pengajar datang. Saya beri kepercayaan kepada anak-anak untuk menepati janjinya tanpa harus ada ancaman dan paksaan kepada mereka. Alhamdulillah akhirnya anak-anak pulang meskipun harus dijemput sang ayah. Sekitar jam 16.10 kami berempat belajar al-Quran. Awalnya putra kedua sempat lari keluar rumah ingin kembali bermain. Setelah saya cari dan saya bujuk dengan komunikasi produktif, akhirnya ia mau masuk kembali untuk ikut belajar. Sedangkan dua putri saya tidak ikut belajar karena ingin tetap bermain. Saya tidak ingin memaksakan Zahwa ikut belajar mengingat ia baru saja pulang sekolah dan di sejolah pun setiap hari ada pelajaran tahsin dan tahfizh. Zahwa berhak bermain melepas penat dan lelahnya fisik dan pikiran, setelah hampir 8 jam belajar di sekolah.
Alhamdulillah sampai malam hari saya berusaha menjaga komunikasi tetap positif dan produktif dengan keempat putra-putri saya meskipun sempat sedikit insiden yang menguras pikiran dan memicu munculnya emosi. Namun saya segera menjaganya kembali untuk terus belajar berkomunikasi produktif di dalam keluarga. Hamasah, istiqomah terus menjalani proses berkomunikasi produktif dalam kondisi tantangan seberat apapun. Aamiin Ya Mujiib ad-Du'a.
Bumi Salamodin
Selasa, 7 Februari 2017
#Hari9
#GameLevel1
#KuliahBunSayIIP
#KomunikasiProduktif
Komentar
Posting Komentar