Langsung ke konten utama

CHALLENGE #2; LEVEL #1; MENGHIDUPKAN HALQAH SANG BUAH HATI

Sudah lebih dari tiga pekan kegiatan halqah tsaqofah Islam keempat putra-putriku bersama keenam kawan bermainnya yang juga keponakanku vakum berjalan. Kondisi cuaca di musim penghujan ini seringkali menjadi tantangan dan daya tarik tersendiri buat anak-anak, khususnya saat hujan turun. Anak-anak lebih senang bermain hujan-hujanan dibandingkan mengikuti halqah yang rutin diadakan di rumah setiap Jumat dan Ahad sore. Walhasil selama lebih dari tiga pekan kegiatan halqah tsaqofah Islam anak-anak vakum berjalan.

Hari ini saya membulatkan tekad untuk menghidupkan kembali halqah tsaqofah Islam anak-anak di rumah. Alhamdulillah kalau kawan-kawannya ikut serta juga. Saya bangun komunikasi produktif dengan suami untuk menyampaikan niat ini. Alhamdulillah suami setuju saja, namun beliau belum bersedia menjadi pemateri pada halqah perdana ini. Akhirnya kami sepakat, saya yang menjadi pemateri. Saya coba mencari kisah inspiratif untuk menghidupkan halqah perdana ini.

Untuk mendukung niat baik saya ini, saya kondisikan suasana pikiran dan hati anak-anak untuk positif dan nyaman sejak awal mereka menjalani hari.  Pasalnya, kejadian negatif yang meninggalkan suasana pikiran dan hati yang tidak nyaman pada diri anak-anak akan mengurangi motivasi mereka untuk ikut halqah. Maka sejak awal anak-anak bangun, saya berupaya kembali menerapkan komunikasi produktif pada mereka meski ada hal-hal yang menguras pikiran dan energi saya di pagi hari tadi sebelum anak-anak berangkat sekolah. Si sulung minta bantuan untuk disiapkan teks pidato singkat berbahasa arab berikut artinya sebagai tugas yang harus ia bawa hari ini ke sekolah. Alhamdulillah meski di bawah tekanan karena kondisi yang mendadak, juga emosi putra sulungku yang mulai muncul, dengan komunikasi produktif, akhirnya semua bisa teratasi dengan positif.

Pulang anak-anak sekolah adalah waktu yang saya rasa tepat untuk menyampaikan rencana saya menghidupkan kembali halqah tsaqofah Islam anak-anak ini.  Maka saya bangun komunikasi produktif dengan putri bungsu saya di sepanjang perjalanan saat menjemputnya pulang sekolah jam 10 pagi tentang rencana halqah ini. Alhamdulillah si bungsu langsung setuju. Hal yang sama saya lakukan kepada putri ketiga saya yang pulang lebih sore, sekitar jam 15. Respon putriku yang satu ini tidak mau ikut dengan alasan ia sangat lelah,  dan saya rasa wajar dengan jadwal sekolahnya yang full day. Saya pun tidak memaksakannya untuk ikut.

Adapun informasi rencana halqah kepada kedua putra saya, saya sampaikan siang hari setelah mereka pulang shalat Jumat. Putra pertama tidak langsung setuju, sedangkan putra kedua langsung menerima rencana ini. Bahkan ia membantu saya memotivasi sang kakak untuk menyetujuinya. Saya sampaikan pula bahwa info ini sudah saya sampaikan kepada kawan-kawannya yang sebelumnya biasa ikut halqah. Alhamdulillah dengan komunikasi produktif,  akhirnya kami sepakat halqah dilaksanakan jam 16. Dan mereka boleh bermain sebelum jam tersebut.

Waktu halqah pun tiba. Sampai jam 16 anak-anak belum ada yang pulang ke rumah. Saya mohon bantuan suami untuk menjemput anak-anak pulang karena halqah akan dimulai. Datanglah ketiga putra-putri saya ke rumah dengan dijemput ayahnya. Sayangnya, putri bungsu saya justru belum berhasil dijemput pulang ke rumah karena sedang bermain dengan sepedanya berkeliling lingkungan tempat tinggal kami. Si sulung mulai menolak kembali halqah dilaksanakan saat itu dengan alasan kawan-kawannya belum bersedia hadir. Saya dan suami memotivasi anak-anak untuk tetap melaksanakan halqah meski tanpa kehadiran kawan-kawan mereka. Setelah tawar-menawar yang alot dengan Si sulung, dengan komunikasi produktif,  alhamdulillah akhirnya dihasilkan kesepakatan bahwa halqah tetap dilaksanakan dengan waktu 30 menit, dihadiri ketiga putra-putri saya tanpa kehadiran si bungsu. Sang ayah ikut menyimak dan memantau jalannya halqah sambil duduk di meja kerjanya melanjutkan menulis sebuah buku.

Pada halqah kali ini saya membahas tema aqidah dengan menyampaikan kisah inspiratif  “Ashabul Ukhdud” yang diabadikan kisahnya dalam QS. al-Buruuj : 4-6. Kisah ini menceritakan seorang pemuda ahli tauhid yang pemberani, yang berpegang teguh pada tauhid dan kokoh dalam menghadapi cobaan-cobaan yang ingin menjerumuskannya kepada kekafiran.

أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al Buruuj: 4-6).

Alhamdulillah anak-anak positif mendengarkan kisah ini. Semoga hal ini menjadi awal yang baik untuk membangun kecintaan buah hati kami kepada kegiatan halqah dalam rangka mendapatkan berbagai pemahaman tsaqofah Islam, membangun ketakwaan serta kepribadian Islam mereka. Aamiin Ya Mujiib ad-Du’a.


Bumi Salamodin
Jumat, 27 Januari 2017

#Hari2
#GameLevel1
#KuliahBunSayIIP
#KomunikasiProduktif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...