Langsung ke konten utama

CHALLENGE #1, LEVEL #11, REVIEW KELOMPOK 9 - "PENTINGKAH MEMBANGKITKAN FITRAH SEKSUALITAS ANAK?"

Pada materi level #11 Kelas Bunda Sayang IIP kali ini, kami menerima proses belajar dan tantangan 10 hari yang berbeda dari level-level sebelumnya. Adapun model proses belajar level #11 ini adalah :
1⃣ Setiap kelas dibagi menjadi 10 kelompok.
2⃣ Membuat WA grup kelompok sementara selama project berlangsung.
3⃣ Presentasi project tiap kelompok. 1 kelompok/hr selama 10 hari berturut-turut menampilkan hasil riset dan media yang dibuat oleh kelompok.
4⃣ Tantangan 10 hari ➡Berupa review diskusi yang berisi: hasil diskusi dan beragam link referensi yang ditemukan hari itu.
Penilaian badge excellent dilihat dari timeline setoran di form.
5⃣ Media yang sudah dibuat dikumpulkan pada fasil, untuk dikumpulkan menjadi 1 folder.
6⃣ Bagi yang ingin meraih outstanding performance, tuliskan review hasil belajar dan link media edukasi yg anda temukan di hari ke 11-17 secara berturut-turut.

Kelompok 9 mendapatkan tugas presentasi pertama kali. Pada presentasi pertama ini, kelompok 9 yang membahas tentang "Pentingkah Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak?" mengambil referensi materi dari sumber : "Fitrah Based Education" oleh Ustadz Harry Santosa.

Presentasi materi kelompok 9 ini diawali dengan pembahasan definisi gender dan seks, serta perbedaan dan ciri-ciri gender dan seks. Selanjutnya dibahas tentang “Fitrah Seksualitas” yang didefinisikan yakni, bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.

Penjelasan berikutnya adalah menumbuhkan fitrah seksual ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada ayah dan ibu. Fitrah ini penting ditumbuhkan sejak dini kepada anak-anak dengan berbagai harapan dan tujuan yang sangat penting, khususnya memahami peran dan tanggung jawab sosialnya, juga menghindari anak dari perilaku seksual menyimpang.

Setelah presentasi, kegiatan belajar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dalam sesi ini dibahas pertanyaan yang mencakup bagaimana media edukasi untuk presentasi di level ini, mengapa gender bisa diubah, perbedaan gender dan seks, penyetaraan dan pengarusutamaan gender, transgender, serta bagaimana cara membangkitkan fitrah seksualitas anak dari pihak sekolah yang menerapkan sekolah full day dan pemisahan kelas perempuan dan laki-laki.

Ada catatan penting yang perlu dikritisi dalam pembahasan tentang gender. Penyaji materi hanya membahas pengertian dan ciri-ciri gender dari sudut pandang masyarakat saat ini, dimana gender bisa diubah dan dipertukarkan karena bukan kodrati ciptaan dari Allah SWT. Penyaji lupa, bahwa setiap peran manusia di dunia ini sudah diatur oleh Allah SWT, apalagi seorang muslim haruslah mengikatkan seluruh perbuatannya pada aturan Sang Pencipta, termasuk dalam masalah gender ini. Artinya, meskipun gender ini di ranah yang masih dikuasai manusia untuk memilih mana peran dan tanggung jawab yang akan diembannya sebagai seorang laki-laki ataupun perempuan, ia tetaplah harus menjatuhkan pilihan pada apa yang telah digariskan oleh Allah SWT yang tidak boleh dilanggarnya. Laki-laki berperan sebagai pemimpin dan kepala keluarga yang punya kewajiban bekerja dan mencari nafkah untuk menghidupi diri dan keluarganya, sedangkan perempuan berperan sebagai ibu bagi anak-anaknya dan pengatur rumah tangga.

  


Bumi Salamodin
11 Januari 2017

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak


Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...