Langsung ke konten utama

CHALLENGE #2, REVIEW KELOMPOK 1: "MEMBANGKITKAN FITRAH SEKSUALITAS"

Pada hari kedua tantangan 10 hari di Kelas Bunda Sayang Level #11, kelompok 2 mendapat bagian presentasi materi dengan tema : "Membangkitkan Fitrah Seksualitas." Presentasi diawali dengan pemaparan fakta merebaknya kasus LGBT di tengah masyarakat kini, termasuk di kalangan remaja. Dijelaskan pula penyebab anak bisa menjadi pelaku LGBT, di antaranya adalah anak-anak yang tercerabut dari orangtuanya atau ketiadaan figur Ayah dan Ibu pada usia dini, baik karena perang, bencana alam, perceraian, kerasan/pelecehan terhadap anak dan sebagainya. Selain itu dijelaskan upaya untuk menghindarinya adalah dengan menghadirkan figur Ayah dan Ibu sepanjang masa pendidikan anak sejak lahir sampai aqilbaligh agar fitrah seksualitas anak tumbuh paripurna.

Presentasi berikutnya menjelaskan tentang definisi fitrah seksualitas, perbedaan pendidikan fitrah seksualitas dengan pendidikan seks, serta tiga hal tujuan pendidikan fitrah seksualitas, yakni: menjadikan anak mengerti identitas seksualnya, mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya, serta mengajarkan anak untuk melindungi diri dari kejahatan seksual.

Selain itu, dijelaskan pula dalam pendidikan berbasih fitrah, membangkitkan fitrah seksualitas anak, dibedakan menjadi tiga tahapan usia, yaitu: tahap pra latih (0-2 tahun -anak dekat ibunya, dan 3-6 tahun -anak dekat orangtuanya), tahap pre aqil baligh 1 (7-10 tahun - anak dekat ayahnya), dan tahap pre aqil baligh 2 (11-14 tahun - anak laki-laki dekat ibunya dan anak perempuan dekat ayahnya). Pasca usia 14 tahun, anak sudah menjadi individu yang setara. Tugas orangtua sudah selesai di usia ini sebab jumhur ulama sepakat usia 15 tahun adalah usia aqilbaligh. Anak sudah bertanggung jawab pada dirinya sendiri.

Setelah presentasi materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, membahas teladan Rasulullah saw yang yatim piatu, namun tidak kehilangan figur Ayah dan Ibu, sosok pengganti harus mampu berperan membangkitkan fitrah seksualitas anak yang diasuhnya, kasus LGBT di kalangan anak dengan orangtua lengkap dan keluarga harmonis, kasus LGBT di kalangan anak sekolah karena pelecehan gurunya, juga membahas pengaruh ibu menyusui sambil sibuk memainkan hp pada perkembangan kejiwaan anak.

Dalam sesi tanya jawab ini, ada yang perlu ditambahkan terkait solusi menyelesaikan problem semakin meluasnya perilaku LGBT pada masa sekarang, tidak hanya dibutuhkan benteng keimanan dan oemahaman Islam dari masing-masing individu, namun juga perlu adanya peran dari semua pihak, yakni orangtua sebagai pendidik pertama dan utama bagaimana mampu memainkan perannya dengan baik dan menjadikan rumah sebagai madrasah bagi pembentukan kepribadian Islam anak-anaknya, perlu adanya kontrol dari masyarakat untuk selalu melakukan upaya amar ma'ruf nahi munkar agar LGBT tidak semakin merajalela, juga diperlukan adanya aturan negara yang melarang keras lerilaku LGBT ini, juga setiap upaya untuk mempropagandakannya serta melegalisasinya, serta menindak pelakunya dengan sanksi yang tegas. Maka perlu ada upaya menerapkan aturan Allah SWT yang Maha Mengetahui setiap apa yang baik untuk ciptaan-Nya di bawah sistem Islam.

Sumber bahan presentasi:
1. FBE, Harry Santosa
2. Anakku Bertanya tentang LGBT, Sinyo



Bumi Salamodin
Januari 2018

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...