Pada hari ketujuh tantangan 10 hari di Kelas Bunda Sayang Level #11, kelompok 7 mendapat bagian presentasi materi dengan tema : "Mengembangkan Perilaku Asertif untuk Melindungi Fitrah Seksualitas Anak." Presentasi diawali dengan kian merebaknya kasus penyimpangan dan kekerasan seksual, juga pornografia yang menjadikan dunia ini tak aman lagi untuk anak. Orangtua harus menyiapkan bekal sebaik-baiknya untuk anak, salah satunya adalah mendidik fitrah seksualitas anak.
Dalam presentasi dipaparkan definisi mendidik fitrah seksualitas anak, 3 prinsip dalam mendidik fitrah seksualitas (pertama, memerlukan kehadiran, kedekatan, kelekatan ayah dan ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia aqilbaligh (15 tahun); kedua, ayah berperan memberikan suplai maskulinitas dan Ibu berperan memberikan suplai femininitas secara seimbang; ketiga tumbuh indah paripurna akan berujung kepada tercapainya peran keayahan sejati bagi anak lelaki dan peran keibuan sejati bagi anak perempuan). Dijelaskan pula tahapan pendidikan fitrah seksualitas berdasarkan tahapan usia anak.
Selanjutnya dalam presentasi ini dipaparkan dalam rangka merawat fitrah seksualitas anak, diperlukan perilaku asertif yang harus ada pada anak-anak kita agar harga diri dan kepercayaan diri anak tumbuh dengan baik, sehingga diharapkan anak terhindar dari segala bentuk penyimpangan sesksual, kekerasan seksual, bullying, ataupun tindak kejahatan lainnya. Perilaku asertif adalah perilaku untuk menunjukkan atau menyampaikan perasaan atau pemikiran dengan jujur, tanpa menyinggung perasaan dan hak orang lain.
Kemampuan untuk berperilaku asertif harus dikembangkan pada anak-anak karena:
1. Bagian dari keterampilan sosial, ia merasa nyaman mengungkapkan kebutuhannya dan membuat orang lain tetap merasa nyaman, sehingga ia menjadi individu yang dapat dipercaya, dapat diandalkan karena jujur, terbuka, dan selaras antara pikiran dan ucapan, serta umumnya memiliki kecerdasan emosional yang baik.
2. Melindungi hak-hak individual tanpa mengganggu hak orang lain, ia mampu menunjukkan diri, pendapat, dan pemikirannya sebagai individu yang unik/spesial tanpa menghina, mengancam, atau merendahkan orang lain.
3. Membuat anak tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih percaya diri, memiliki konsep diri, self-esteem, dan hubungan sosial yang berkembang baik.
Dijelaskan pula perilaku non-asertif atau agresif bukan pilihan terbaik saat berkomunikasi dengan orang lain. Ada beberapa cara menumbuhkan kemampuan berperilaku asertif pada anak :
1. Contoh nyata dari orangtua atau orang dewasa di sekeliling anak, mengungkapkan keberatan dengan baik disertai alasan yang jelas, berperilaku asertif dengan pasangan dan orang lain, apalagi di hadapan anak.
2. Kembangkan keberanian dan kepercayaan diri anak, ia perlu menyadari punya hak pribadi untuk berpikir, berpendapat, memilih, dan sebagainya. Tunjukkan pengertian dan penerimaan pada setiap kelebihan dan kekurangan yang ia miliki. Seaneh atau sekonyol apapun idenya bagi kita, tunjukkan kita mendengarkan, lalu beri masukan/ pendapat kita. Buat anak merasa aman dan nyaman saat ia ingin mengungkapkan kebutuhan atau pendapatnya.
3. Hindari memberi label pada anak. Saat berkomunikasi, tekankan pada apa yang membuat kita keberatan, bukan “menyerang” anak sebagai pribadi, sehingga anak paham bahwa kita bukannya benci pada dirinya, tapi berharap ia mengubah perilakunya.
4. Latih anak berperilaku atau berkomunikasi asertif dengan beberapa langkah : pertama, biarkan ia mencoba mengatasi konflik di lingkungan sosialnya secara mandiri; kedua, amati caranya berkomunikasi atau mengungkapkan pendapatnya, kita dapat mengintervensi saat ia tampak menahan diri/takut/non asertif, atau sebaliknya terlalu dominan/agresif; ketiga, berikan apresiasi dan masukan pada upayanya berperilaku asertif; keempat bermain peran, dimana anak melakukan adegan pada situasi tertentu dimana perilaku asertif itu dibutuhkan.
Setelah presentasi materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, membahas tentang meluruskan perilaku anak dengan langkah: apreciate first (apresiasi dulu bukan berarti meng-Iya-kan, tapi dalam rangka mengambil hati mereka);
use the power of question (setelah mereka merasa senang didukung ibunya, gali info apa yang menjadi persoalan, ibu harus ikut terhayut dengan kisah mereka, mendengarkan lalu menanyakan alasan, ketika menanyakan, hidupkan suasana hati yg fun, nyaman, riang sehingga si anak tidak terkesan sedang digurui); give another alternative (baru kasih wejangan sesuai syariat), follow up (tidak bisa hanya sekali, di lain waktu kita menanyakan/observasi tingkah anak apakah masih berperilaku sama atau sudah berubah).

Sumber:
1. Seri Pendidikan Seksualitas pada Anak, Yeti Widiati 040116
2. Fitrah Based Edication, Harry Santosa
3. https://www.childrencafe.com/melatih-anak-mengembangkan-perilaku-asertif/
4. PKM-GT, Universitas Negeri Malang, Psikodrama untuk Meningkatkan Komunikasi Asertif sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual terhadap Anak
5. https://youtu.be/MMc8AP9KhEM
6. https://youtu.be/N18Vj6ox7LU
Bumi Salamodin
Januari 2018
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Dalam presentasi dipaparkan definisi mendidik fitrah seksualitas anak, 3 prinsip dalam mendidik fitrah seksualitas (pertama, memerlukan kehadiran, kedekatan, kelekatan ayah dan ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia aqilbaligh (15 tahun); kedua, ayah berperan memberikan suplai maskulinitas dan Ibu berperan memberikan suplai femininitas secara seimbang; ketiga tumbuh indah paripurna akan berujung kepada tercapainya peran keayahan sejati bagi anak lelaki dan peran keibuan sejati bagi anak perempuan). Dijelaskan pula tahapan pendidikan fitrah seksualitas berdasarkan tahapan usia anak.
Selanjutnya dalam presentasi ini dipaparkan dalam rangka merawat fitrah seksualitas anak, diperlukan perilaku asertif yang harus ada pada anak-anak kita agar harga diri dan kepercayaan diri anak tumbuh dengan baik, sehingga diharapkan anak terhindar dari segala bentuk penyimpangan sesksual, kekerasan seksual, bullying, ataupun tindak kejahatan lainnya. Perilaku asertif adalah perilaku untuk menunjukkan atau menyampaikan perasaan atau pemikiran dengan jujur, tanpa menyinggung perasaan dan hak orang lain.
Kemampuan untuk berperilaku asertif harus dikembangkan pada anak-anak karena:
1. Bagian dari keterampilan sosial, ia merasa nyaman mengungkapkan kebutuhannya dan membuat orang lain tetap merasa nyaman, sehingga ia menjadi individu yang dapat dipercaya, dapat diandalkan karena jujur, terbuka, dan selaras antara pikiran dan ucapan, serta umumnya memiliki kecerdasan emosional yang baik.
2. Melindungi hak-hak individual tanpa mengganggu hak orang lain, ia mampu menunjukkan diri, pendapat, dan pemikirannya sebagai individu yang unik/spesial tanpa menghina, mengancam, atau merendahkan orang lain.
3. Membuat anak tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih percaya diri, memiliki konsep diri, self-esteem, dan hubungan sosial yang berkembang baik.
Dijelaskan pula perilaku non-asertif atau agresif bukan pilihan terbaik saat berkomunikasi dengan orang lain. Ada beberapa cara menumbuhkan kemampuan berperilaku asertif pada anak :
1. Contoh nyata dari orangtua atau orang dewasa di sekeliling anak, mengungkapkan keberatan dengan baik disertai alasan yang jelas, berperilaku asertif dengan pasangan dan orang lain, apalagi di hadapan anak.
2. Kembangkan keberanian dan kepercayaan diri anak, ia perlu menyadari punya hak pribadi untuk berpikir, berpendapat, memilih, dan sebagainya. Tunjukkan pengertian dan penerimaan pada setiap kelebihan dan kekurangan yang ia miliki. Seaneh atau sekonyol apapun idenya bagi kita, tunjukkan kita mendengarkan, lalu beri masukan/ pendapat kita. Buat anak merasa aman dan nyaman saat ia ingin mengungkapkan kebutuhan atau pendapatnya.
3. Hindari memberi label pada anak. Saat berkomunikasi, tekankan pada apa yang membuat kita keberatan, bukan “menyerang” anak sebagai pribadi, sehingga anak paham bahwa kita bukannya benci pada dirinya, tapi berharap ia mengubah perilakunya.
4. Latih anak berperilaku atau berkomunikasi asertif dengan beberapa langkah : pertama, biarkan ia mencoba mengatasi konflik di lingkungan sosialnya secara mandiri; kedua, amati caranya berkomunikasi atau mengungkapkan pendapatnya, kita dapat mengintervensi saat ia tampak menahan diri/takut/non asertif, atau sebaliknya terlalu dominan/agresif; ketiga, berikan apresiasi dan masukan pada upayanya berperilaku asertif; keempat bermain peran, dimana anak melakukan adegan pada situasi tertentu dimana perilaku asertif itu dibutuhkan.
Setelah presentasi materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, membahas tentang meluruskan perilaku anak dengan langkah: apreciate first (apresiasi dulu bukan berarti meng-Iya-kan, tapi dalam rangka mengambil hati mereka);
use the power of question (setelah mereka merasa senang didukung ibunya, gali info apa yang menjadi persoalan, ibu harus ikut terhayut dengan kisah mereka, mendengarkan lalu menanyakan alasan, ketika menanyakan, hidupkan suasana hati yg fun, nyaman, riang sehingga si anak tidak terkesan sedang digurui); give another alternative (baru kasih wejangan sesuai syariat), follow up (tidak bisa hanya sekali, di lain waktu kita menanyakan/observasi tingkah anak apakah masih berperilaku sama atau sudah berubah).
Sumber:
1. Seri Pendidikan Seksualitas pada Anak, Yeti Widiati 040116
2. Fitrah Based Edication, Harry Santosa
3. https://www.childrencafe.com/melatih-anak-mengembangkan-perilaku-asertif/
4. PKM-GT, Universitas Negeri Malang, Psikodrama untuk Meningkatkan Komunikasi Asertif sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual terhadap Anak
5. https://youtu.be/MMc8AP9KhEM
6. https://youtu.be/N18Vj6ox7LU
Bumi Salamodin
Januari 2018
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Komentar
Posting Komentar