CHALLENGE #10, REVIEW KELOMPOK 8: "BAGAIMANA MENUMBUHKAN FITRAH SEKSUALITAS ANAK PADA ORANGTUA TUNGGAL"
Pada hari ke sepuluh tantangan 10 hari di Kelas Bunda Sayang Level #11, kelompok 8 mendapat bagian presentasi materi dengan tema : "Bagaimana Menumbuhkan Fitrah Seksualitas Anak pada Orangtua Tunggal". Presentasi diawali pemaparan definisi fitrah seksualitas, pendidikan fitrah seksualitas bergantung pada kedekatan dan kehadiran ayah dan ibu, serta tahapan pendidikan fitrah seksualitas berdasarkan usia.
Pemaparan berikutnya terkait peran ayah sebagai penanggung jawab pendidikan, man of vision and mission, pembangun sistem berpikir, supplier maskulinitas, penegak professional, konsultan pendidikan, the power of tega. Sedangkan peran ibu sebagai pelaksana harian pendidikan, person of love and sincerity, sang harmonis dan sinergi, pemilik moralitas dan nurani, supplier feminilitas, pembangun hati dan rasa, berbasis pengorbanan, sang “pembasuh luka”. Adapun tantangan yang dihadapi diantaranya: Long Distance Relationship (LDR), perceraian, dan meninggal dunia.
Dipaparkan pula masalah utama anak sebagai dampak perceraian orangtua adalah 63% anak mengalami masalah psikologis seperti gelisah, sedih, suasana hati mudah berubah, fobia dan depresi, 56% kemampuan akademisnya rendah/menurun dibandingkan sebelumnya, 43% melakukan agresi terhadap orangtua (Kalter dan Rembar dari Children’s Psychiatric Hospital, University Of Michigan, AS). Sedangkan dampak ketiadaan sosok ayah luar biasa negatif terhadap perasaan anak, anak kesulitan dalam penyesuaian di sekolah, penyesuaian sosial dan pribadi (Journal of Divorce dari Harvard University, AS, Ibu Rebecca L Drill, PhD).
Selanjutkan dijelaskan cara orangtua tunggal menghadapi tantangan adalah membekali diri dengan ilmu yang dibutuhkan untuk menjalankan perannya, bagi single mom agar mencari figur laki-laki dewasa untuk anak dan mendekatkan anak padanya, begitu pun sebaliknya, ibu/ayah menjadi role model bagi maskulinitas dan feminitas yang bisa ditiru oleh anak, adanya pengakuan dan penerimaan bahwa kehidupan tidak ideal, KPK (Kehangatan, Perhatian, dan Komunikasi), orangtua menjadi dola anak, memenuhi kebutuhan batin anak, stay hungry, jangan berharap Jadi single parent.
Pembahasan berikutnya terkait orangtua tunggal menurut Ustadz Budi Ashari adalah dalam kehidupan anak dalam Islam, 60% kehidupan anak diberikan otoritas pada orangtua, sisanya pada lingkungan (sekolah, lingkungan main dll), banyak orangtua protes tentang perkembangan anaknya, karena otoritas 60% itu tidak diambil dengan tanggung jawab, tapi diserahkan semua ke lingkungan, sekolah jangan cepet-cepat, sekolah jangan lama-lama, dalam Islam, 0-5 thn adalah otoritas orangtua, anak jangan dititip atau dimasukkan sekolah, anak adalah harta berharga, maka harus dipersiapkan perencanaan pendidikannya sebaik mungkin, bagi tugas antara peran ayah dan ibu agar anak bisa terasuh di usia 0-5 tahun, zaman Rasul, usia baligh anak-anak adalah 15 tahun sehingga para orangtua punya banyak waktu untuk menyiapkan anak-anaknya menjadi mukallaf. Dicontohkan wanita dan pria yang berperan dalam tahapan 0-15 tahun Rasulullah Saw.
Setelah presentasi materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, membahas tentang bagaimana menyikapi ayah yang hanya memahami tugasnya di keluarga adalah mencari nafkah, juga pengaruh terhadap fitrah seksualitas anak karena anak menjadi tidak dekat dengan ayahnya. Dibahas pula tentang bagaimana pendidikan fitrah seksualitas anak usia dini yang bapak-ibunya sibuk bekerka\
Sumber:
1. waza.wordpress.com
2. Facebook Okina Fitriani
3. Elly Risman Muda, Fitrah Seksualitas, https://iinchurinin.wordpress.com/2017/10/21/fitrah-seksualitas-anak-bu-elly-risman/
4. Ustadz Harry Santosa, Kulwap Peran Ayah dalam Pendidikan, https://anakindonesia.wordpress.com/2017/05/01/kulwap-peran-ayah-dalam-pendidikan/
5. https://fc4pentingers.wordpress.com/2016/05/01/manajemen-pengasuhan-single-parent-terhadap-kesuksesan-anak/
6. http://www.ibujerapah.com/2017/10/singleparenting-tentang-sosok-ayah.html
7. https://youtu.be/mUirnWqWnRs
8. http://davieragrolier.wagomu.id/e47531.html
9. https://youtu.be/uZGotxPTU8c

Bumi Salamodin
Januari 2018
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Pemaparan berikutnya terkait peran ayah sebagai penanggung jawab pendidikan, man of vision and mission, pembangun sistem berpikir, supplier maskulinitas, penegak professional, konsultan pendidikan, the power of tega. Sedangkan peran ibu sebagai pelaksana harian pendidikan, person of love and sincerity, sang harmonis dan sinergi, pemilik moralitas dan nurani, supplier feminilitas, pembangun hati dan rasa, berbasis pengorbanan, sang “pembasuh luka”. Adapun tantangan yang dihadapi diantaranya: Long Distance Relationship (LDR), perceraian, dan meninggal dunia.
Dipaparkan pula masalah utama anak sebagai dampak perceraian orangtua adalah 63% anak mengalami masalah psikologis seperti gelisah, sedih, suasana hati mudah berubah, fobia dan depresi, 56% kemampuan akademisnya rendah/menurun dibandingkan sebelumnya, 43% melakukan agresi terhadap orangtua (Kalter dan Rembar dari Children’s Psychiatric Hospital, University Of Michigan, AS). Sedangkan dampak ketiadaan sosok ayah luar biasa negatif terhadap perasaan anak, anak kesulitan dalam penyesuaian di sekolah, penyesuaian sosial dan pribadi (Journal of Divorce dari Harvard University, AS, Ibu Rebecca L Drill, PhD).
Selanjutkan dijelaskan cara orangtua tunggal menghadapi tantangan adalah membekali diri dengan ilmu yang dibutuhkan untuk menjalankan perannya, bagi single mom agar mencari figur laki-laki dewasa untuk anak dan mendekatkan anak padanya, begitu pun sebaliknya, ibu/ayah menjadi role model bagi maskulinitas dan feminitas yang bisa ditiru oleh anak, adanya pengakuan dan penerimaan bahwa kehidupan tidak ideal, KPK (Kehangatan, Perhatian, dan Komunikasi), orangtua menjadi dola anak, memenuhi kebutuhan batin anak, stay hungry, jangan berharap Jadi single parent.
Pembahasan berikutnya terkait orangtua tunggal menurut Ustadz Budi Ashari adalah dalam kehidupan anak dalam Islam, 60% kehidupan anak diberikan otoritas pada orangtua, sisanya pada lingkungan (sekolah, lingkungan main dll), banyak orangtua protes tentang perkembangan anaknya, karena otoritas 60% itu tidak diambil dengan tanggung jawab, tapi diserahkan semua ke lingkungan, sekolah jangan cepet-cepat, sekolah jangan lama-lama, dalam Islam, 0-5 thn adalah otoritas orangtua, anak jangan dititip atau dimasukkan sekolah, anak adalah harta berharga, maka harus dipersiapkan perencanaan pendidikannya sebaik mungkin, bagi tugas antara peran ayah dan ibu agar anak bisa terasuh di usia 0-5 tahun, zaman Rasul, usia baligh anak-anak adalah 15 tahun sehingga para orangtua punya banyak waktu untuk menyiapkan anak-anaknya menjadi mukallaf. Dicontohkan wanita dan pria yang berperan dalam tahapan 0-15 tahun Rasulullah Saw.
Setelah presentasi materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, membahas tentang bagaimana menyikapi ayah yang hanya memahami tugasnya di keluarga adalah mencari nafkah, juga pengaruh terhadap fitrah seksualitas anak karena anak menjadi tidak dekat dengan ayahnya. Dibahas pula tentang bagaimana pendidikan fitrah seksualitas anak usia dini yang bapak-ibunya sibuk bekerka\
Sumber:
1. waza.wordpress.com
2. Facebook Okina Fitriani
3. Elly Risman Muda, Fitrah Seksualitas, https://iinchurinin.wordpress.com/2017/10/21/fitrah-seksualitas-anak-bu-elly-risman/
4. Ustadz Harry Santosa, Kulwap Peran Ayah dalam Pendidikan, https://anakindonesia.wordpress.com/2017/05/01/kulwap-peran-ayah-dalam-pendidikan/
5. https://fc4pentingers.wordpress.com/2016/05/01/manajemen-pengasuhan-single-parent-terhadap-kesuksesan-anak/
6. http://www.ibujerapah.com/2017/10/singleparenting-tentang-sosok-ayah.html
7. https://youtu.be/mUirnWqWnRs
8. http://davieragrolier.wagomu.id/e47531.html
9. https://youtu.be/uZGotxPTU8c
Bumi Salamodin
Januari 2018
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Komentar
Posting Komentar