Langsung ke konten utama

CHALLENGE #4, REVIEW KELOMPOK 10: "MEMBANGKITKAN FITRAH SEKSUALITAS"

Pada hari keempat tantangan 10 hari di Kelas Bunda Sayang Level #11, kelompok 10 mendapat bagian presentasi materi dengan tema : "Membangkitkan Fitrah Seksualitas." Presentasi diawali dengan fakta suami yang kasar, garing ataupun yang terlalu tergantung pada istrinya. Ini akibat sebelum aqilbaligh, anak ini tidak dekat dengan ibunya atau ayahnya. Selanjutnya, dipaparkan pentingnya kehadiran sosok ayah dan ibu sepanjang masa mendidik anak sejak lahir sampai aqilbaligh, agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna, perbedaan pendidikan fitrah seksualitas dengan pendidikan seks, dan pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.

Dalam presentasi ini dipaparkan definisi fitrah seksualitas, landasan fitrah seksualitas ini dibangun berdasarkan QS. Ar Ruum: 21 (diciptakan pasangan dari jenismu sendiri), Al Hujuraat: 13 (diciptakan dua jenis manusi: laki-laki dan perempuan), An Nisaa: 34 (laki-laki sebagai qowwam atau pemimpin atas perempuan), serta dipaparkan perkembangan fitrah seksualitas anak berdasarkan tahapan usianya, juga kasus-kasus penyimpangan mendidik dalam setiap tahapan usia.

Adapun kasus-kasus penyimpangan mendidik, dijelaskan sebagai berikut:
1. Usia 0-7 tahun: mengutamakan pembelajaran akademik seperti calistung, menggegas hafalan al Quran tanpa memandang cara, kemampuan dan ketertarikan anak yang berbeda-beda, mengajarkan bahasa kedua sebelum bahasa ibu tuntas, berkata atau berwajah tidak ramah apalagi kasar, membanding-bandingkan anak, menitipkan anak di bawah usia aqilbaligh, terutama di bawah usia 7 tahun pada orang lain atau lembaga atau boarding school.
2. Usia 7-10 tahun: anak lelaki tidak didekatkan dengan ayah dan anak perempuan tidak didekatkan dengan ibu, sehingga fitrah gender anak tidak tumbuh sebagaimana mestinya.
3. Usia 10-14 tahun: tidak mendekatkan anak perempuan ke ayahnya dan anak laki-laki ke ibunya sehingga anak tidak memperoleh idola lawan jenis pertama dari orang terdekatnya. Akibatnya, anak lelaki tidak pernah memahami bagaimana memahami perasaan, pikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Anak perempuan kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang di masa sebelumnya.

Setelah presentasi materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, membahas anak lelaki yang plin-plan dan selalu bilang "terserah" lebih disebabkan pola asuh yg kurang tepat waktu kecil, anak tidak diberi kebebasan untuk memutuskan sesuatu sendiri dan bertindak oleh orangtuanya, tidak dibiasakan untuk mengatasi masalahnya sendiri, orangtua cenderung turun tangan dalam segala masalah yang dihadapi anak. Selain itu dibahas pula anak perempuan yang suka mainan anak lelaki karena pada usia 3 tahun cenderung masih bermain secara acak, yang terpenting pada usia 3 tahun anak sudah bisa membedakan jenis kelaminnya dan lawan jenisnya.

Terakhir dibahas pula dilema ibu bekerja di ranah publik sehingga harus menitipkan pengasuhan anak di bawah usia aqilbaligh (0-7 tahun) pada orang lain atau pengasuh. Dalam kasus ini, orangtua harus selektif dalam memilih pengasuh, lakukan interview, menitipkan ke orang yang amanah, baik dan sevisi dengan kita, sediakan waktu untuk melatih pengasuh agar sesuai kriteria kita, tercukupi kebutuhan fisik anak selama kita titipkan, awasi terus, sesekali pulang cepat, atau minta tolong adik, kakak, ibu, mertua dll.

Sumber:
1. Buku Fitrah Based Education, Harry Santosa.
2. http://www.lendyagasshi.com/2016/09/resume-rb-cikutra-pendidikan.html
3. https://majalahayah.com/pendidikan-seksualitas-dalam-islam-untuk-anak-laki-laki/




Bumi Salamodin
Januari 2018

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...