Langsung ke konten utama

ALIRAN RASA MELATIH KEMANDIRIAN

Malam ini mulai kugoreskan kembali pena di blogku ini setelah dua minggu lalu kuselesaikan 10 hari tantangan melatih kemandirian di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional. Selesainya 10 hari tantangan melatih kemandirian, bagiku bukanlah akhir dari sebuah kewajiban. Namun sebuah awal untuk melatih kemandirian pada tahap berikutnya untuk menjadikan diriku dan keempat putra-putriku sebagai pribadi yang mandiri, berani, percaya diri dan tidak bergantung kepada orang lain.

Memang bukan hal yang mudah menjalankan peran sebagai single parent selama suami jauh. Sebuah tantangan luar biasa bagiku. Kekhawatiran, kerisauan, bahkan berbagai asumsi ketidakmampuan kerap hadir setiap kali suami akan pergi jauh untuk bekerja di luar kota dalam jangka waktu tertentu. Tuntutan jenis pekerjaan suami mengharuskan kami seringkali harus hidup terpisah dalam jangka waktu tersebut. Ah...rasanya tidak menyenangkan kondisi ini. Kalaulah ada pekerjaan yang cocok bagi suami yang tidak mengharuskan kami hidup terpisah dalam jangka waktu tertentu, tentu menjadi pilihan yang menyenangkan. Namun untuk saat ini dan beberapa waktu ke depan, inilah kondisi yang harus terus kami jalani. Berharap suatu saat nanti, bisa ada perubahan. Aamiin.

Bagiku materi melatih kemandirian di Kelas Bunda Sayang ini bagaikan sebuah pemantik api yang memicu hadirnya keberanian dan kepercayaan diriku yang telah lama hilang sejak aku pernah mengalami sakit serius pada April 2012 hingga empat tahun menjalani perawatan dan recovery pasca sakit. Pribadiku yang sejak kecil penuh percaya diri, berani dan mampu mengerjakan banyak hal mulai bangkit kembali dalam tantangan melatih kemandirian ini. Sebuah proses yang harus terus kuasah hingga aku menjelma kembali menjadi pribadi yang mandiri. Sebuah modal besar untuk bisa melatih dan menularkan kemandirian ini kepada keempat putra-putriku.

Alhamdulillah, 10 hari tantangan melatih kemandirian bisa kulalui dengan penuh warna. Kujalani peran sebagai single parent bagi keempat putra-putriku tanpa suami maupun asisten rumah tangga. Kulawan segala rasa ketakutan dan kekhawatiran serta rasa ketakberdayaan yang pasca sakit ini membelenggu diri. Kuhancurkan rasa trauma yang empat tahun ini menguasai diri. Selama 10 hari fokus memikirkan bagaimana melatih kemandirian keempat putra-putriku, justru menghantarkanku terlupa dengan segala rasa tersebut. Dan nyatanya alhamdulillah aku mampu mendidik, mengasuh, membesarkan putra-putriku dengan keistimewaannya masing-masing tanpa keberadaan suami di sisiku dan tanpa deringan telpon yang tiap hari harus kukirimkan untuk menghubungi suami nun jauh di sana, sebagaimana kejadian-kejadian sebelumnya.

Alhamdulillah, ternyata "YES, I CAN...!" menjalankan peran sebagai single parent selama suami jauh. Meski beberapa kali air mataku akhirnya harus tumpah mengeluarkan beban berat yang menghimpit saat menghadapi perilaku putra-putriku yang seringkali menuntut kesabaran ekstra dalam menghadapinya. Namun semua itu tidak membuatku patah semangat, aku harus mampu menghadapi tantangan sebesar apapun. Bukankah aku memiliki Allah SWT yang Maha Besar dibandingkan segala tantangan yang ada? Dan satu hal berharga yang kutemukan dalam peranku sebagai single parent selama suami jauh ini adalah aku tumbuh menjadi pribadi yang mulai mandiri. Terima kasih Kelas Bunda Sayang IIP ini telah membangkitkan kembali kemandirianku juga membangun kemandirian keempat putra-putriku. Sebuah proses yang harus terus berjalan sepanjang hidup ini untuk mencapai level kemandirian yang terus meningkat dalam berbagai aspek kehidupan, selama Allah belum memanggil kita untuk pulang menghadap-Nya.


Bumi Salamodin
Sabtu, 18 Maret 2017

#AliranRasa
#KelasBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...