Langsung ke konten utama

CHALLENGE #9; LEVEL #2; 3 CIRI KEMANDIRIAN ANAK

Bunda, alhamdulillah saya telah sampai di hari ke sembilan tantangan melatih kemandirian anak. Di hari ke sembilan ini, tidak banyak perbedaan aktivitas yang dilakukan putra-putriku dengan hari sebelumnya.

Putra pertamaku, Mushab, pada pagi hari membantuku belanja membelikan tempe goreng dan bakwan. Kemudian seperti biasa berangkat ke sekolah sendiri dengan naik sepeda. Dan saat jadwal berenang ba'da Jumat, ia berangkat sendiri ke kolam renang dengan naik angkutan umum untuk mengikuti kelas berenang.

Adapun putra keduaku, Sa'ad, hari ini membantuku membereskan tempat tidurnya sendiri dan tempat tidur kakaknya. Siang hari ia membantu membelikan bumbu racik di warung sebelah rumah. Dan sore harinya membantu memasukkan motor ke garasi.

Putri ketigaku, Zahwa, di pagi hari bisa mandi sendiri, belanja makanan sendiri ke warung, sarapan sendiri, dan sore hari bisa pergi bermain sendiri ke rumah neneknya. Demikian juga putri bungsuku, Shafa, di pagi hari bisa mandi sendiri, belanja makanan ke warung sendiri, sarapan sendiri dan siang hari sepulang sekolah seperti biasa pergi bermain sendiri ke rumah sepupunya.

Terkait kemandirian dalam diri seorang anak, Barnadib (Fum, 2004) menjelaskan ada tiga ciri yang dapat dilihat, yakni:
1)    Mampu mengambil keputusan.
Keputusan yang diambil anak dalam berbagai hal, misalnya untuk mengambil makanan, memilih bajunya sendiri dan memakai sepatu sendiri. Hal tersebut merupakan bagian dari kemandirian anak.
2)    Memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya.
Kemampuan anak sangat erat kaitannya dengan konsep diri. Seorang anak yang mampu mengerjakan tugas sendiri pasti memiliki kepercayaan diri yang kuat. Misalnya anak mampu menalikan tali sepatu sendiri walaupun hal tersebut dilakukannya dengan waktu yang cukup lama.
3)    Bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.
Kemandirian seorang anak dapat dilihat dari tanggung jawab yang anak miliki terhadap apa yang telah anak kerjakan. Misalnya, anak membereskan kembali mainan yang telah digunakan pada tempatnya.


Sementara itu, Roben Havighurst menjelaskan bahwa kemandirian terdiri dari empat aspek, yakni :
1)    Aspek intelektual yang menunjuk pada kemampuan berpikir, menalar, memahami beragam kondisi dan situasi serta gejala-gejala masalah sebagai dasar usaha untuk mengatasi masalah.
2)    Aspek sosial, berkenaan dengan kemampuan untuk berani secara aktif membina relasi sosial, namun tidak tergantung pada kehadiran orang lain di sekitamya.
3)    Aspek emosi, menunjukkan kemampuan individu untuk mengelola serta mengendalikan emosi dan reaksinya dengan tidak tergantung secara emosi pada orang lain.
4)    Aspek ekonomi, menunjukkan kemandirian dalam hal mengatur ekonomi dan kebutuhan-kebutuhan ekonomi, dan tidak lagi tergantung pada orang tua.

Semoga setiap proses yang dilakukan dalam upaya melatih kemandirian anak ini mampu membentuk putra-putri kita yang memiliki kemandirian sebagaimana yang didambakan. Aamiin Ya Mujiib ad-Du'a. 

Bumi Salamodin
Jumat, 3 Maret 2017

#Hari9
#GameLevel2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...