Langsung ke konten utama

CHALLENGE #10; LEVEL #2; TUMBUH DAN BERKEMBANG DALAM KEMANDIRIAN MENUJU KEDEWASAAN & KEMULIAAN HIDUP

Bunda, alhamdulillah telah sampai di tantangan hari ke sepuluh melatih kemandirian anak. Di tengah usaha untuk terus membangun kemandirian keempat putra-putri saya dengan practical life skills, di samping aktivitas yang sudah terbiasa mereka lakukan pada hari-hari sebelumnya, alhamdulillah hari ini ada beberapa aktivitas baru yang dilakukan kedua putri kecilku atas inisiatifnya sendiri.  

Aktivitas Mush’ab hari ini tidak berbeda jauh dengan hari-hari sebelumnya. Di antara aktivitas tersebut adalah di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, Mush’ab mempersiapkan perlengkapan sekolahnya yang semalam belum sempat ia siapkan karena kecapaian seharian kemarin padat beraktivitas. Setelah itu ia memasukkan pakaian-pakaian kotor ke dalam mesin cuci dan mencucinya. Saat berangkat ke sekolah ia berangkat sendiri dengan mengendarai sepedanya tanpa perlu saya antar.

Aktivitas Sa’ad hari ini pun tidak berbeda jauh dengan hari-hari sebelumnya. Sa’ad sebelum pergi bermain, membereskan tempat tidur miliknya dan juga milik Mush’ab. Lalu ia pergi bermain sendiri keluar rumah.

Adapun aktivitas yang dilakukan Zahwa hari ini adalah mandi pagi dan mandi siang sendiri, sarapan pagi sendiri tanpa disuapi, memakai pakaian sekolah dan pakaian bermain sendiri. Selain itu, siang hari sepulang sekolah, Zahwa melakukan aktivitas baru, yaitu membereskan rak sepatu dibantu Shafa, lalu ia berinisiatif mencuci sepatu sekolahnya sendiri yang kotor karena sering kehujanan setiap pulang sekolah. Setelah mandi siang, Zahwa mengepel lantai rumah.


Senang sekali melihat Zahwa berinisiatif mengepel lantai rumah, mulai dari ruang keluarga, ruang tamu dan paviliun. Inisiatifnya ini muncul saat melihat lantai rumah becek akibat putri bungsuku, Shafa masuk rumah dalam kondisi basah-basahan seluruh tubuh dan bajunya selesai hujan-hujanan tadi siang. Biasanya tanggung jawab mengepel lantai baru diajarkan pada anak usia 9-12 tahun untuk melatih kemandiriannya dengan beberapa practical life skills lainnya. Namun, tidak ada salahnya saat anak usia lebih kecil berinisiatif sendiri mengambil aktivitas ini selama tidak membebaninya. Mengepel lantai ini akan melatih kemampuan motorik dan daya keseimbangan anak. Dia bisa mendorong dan menarik tongkat kain pel dengan baik sambil menjaga keseimbangan tubuhnya supaya tidak terjatuh. Orang tua bisa memberi tahu cara mengepel yang benar, misalnya bagaimana mendorong dan menarik dengan benar dan di mana posisi anak saat melakukannya supaya areal yang sudah dipel tidak diinjak lagi. Setelah mengepel lantai, Zahwa pergi bermain bersama Shafa keluar rumah.


Sedangkan aktivitas yang dilakukan Shafa, putri bungsuku pada hari ini adalah mandi pagi dan mandi siang sendiri setelah bermain hujan-hujanan, memakai pakaian sekolah dan pakaian bermain sendiri, mengerjakan tugas dan mewarnai gambar di majalah “Belajar Pintar” sendiri siang ini. Setelah itu, Shafa membantu Zahwa membereskan rak sepatu, lalu mengikuti jejak Zahwa untuk mencuci sepatunya sendiri yang kotor di kamar mandi. Setelah itu Shafa bermain bersama Zahwa keluar rumah.


Dari hasil pengamatan saya terhadap semua aktivitas melatih kemandirian yang dilakukan saya dan keempat putra-putri saya selama sepuluh hari tantangan melatih kemandirian ini, baik yang terlaporkan di portofolio kemandirian anak maupun tidak, alhamdulillah saya bisa mengambil kesimpulan terkait aktivitas yang telah mandiri dilakukan secara rutin oleh keempat putra-putri saya, sebagai berikut:  

Putra Pertama, Mush'ab (13,5 Tahun)
  1. Mempersiapkan perlengkapan sekolah dan seragam sendiri.
  2. Membereskan tempat tidur sendiri.
  3. Mengeluarkan dan/atau memasukkan kendaraan motor dari/ke dalam garasi.
  4. Berangkat sekolah sendiri dengan mengendarai sepeda tanpa diantar.
  5. Mencuci pakaian satu rumah dengan mesin cuci.

Putra Kedua, Sa'ad (11 Tahun)
  1. Membereskan tempat tidur sendiri.
  2. Memasukkan kendaraan motor ke dalam garasi.
  3. Menutup jendela-jendela rumah.
  4. Pergi bermain sendiri keluar rumah.

Putri Ketiga, Zahwa (7 Tahun)
  1. Mandi sendiri.
  2. Sarapan dan makan sendiri.
  3. Memakai pakaian sendiri.
  4. Mempersiapkan perlengkapan sekolah dan seragam sendiri.
  5. Pergi bermain sendiri keluar rumah tanpa ditemani.

Putri Keempat, Shafa (5 Tahun)
  1. Mandi sendiri.
  2. Memakai pakaian sendiri.
  3. Mengerjakan tugas dan belajar mandiri.
  4. Masuk sekolah sendiri tanpa didampingi.
  5. Pergi bermain sendiri keluar rumah tanpa ditemani.

Adapun saya sendiri sejak 14 hari lalu suami pergi bertugas ke Rembang hingga hari ini, semua pekerjaan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, alhamdulillah saya tunaikan secara mandiri tanpa bantuan asisten rumah tangga maupun bantuan suami, mulai dari merawat, mengasuh, mendidik dan mendampingi anak-anak, juga mengerjakan urusan rumah tangga di luar yang dikerjakan putra-putriku. Meskipun kelelahan pikiran, fisik dan jiwa kerap saya rasakan saat menjalani peran dan kewajiban tersebut dengan segala tantangannya yang luar biasa, namun saya bersyukur dan semakin percaya diri bahwa saya mampu mandiri sebagai single parent selama suami jauh dan mampu mandiri mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi selama menjalani peran tersebut. Hal ini sangat penting bagi perjalanan kehidupan saya ke depannya mengingat suami dengan pekerjaannya saat ini akan sering bertugas jauh keluar kota dalam waktu lama meninggalkan saya dan kempat putra-putri di rumah.

Ke depan in syaa Allah proses melatih kemandirian diri saya juga keempat putra-putri saya akan terus saya lakukan dengan berproses menambah practical life skills. Semoga kepercayaan diri dan kemandirian saya juga keempat putra-putri saya akan terus tumbuh, berkembang dan berjalan seiring waktu dan bertambahnya usia menuju kedewasaan dan kemuliaan hidup. Aamiin Ya Mujiib ad-Du’a.  

Bumi Salamodin
Sabtu, 4 Maret 2017

#Hari10
#GameLevel2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...