Langsung ke konten utama

CHALLENGE #1, LEVEL #3; MENGHIAS DINDING KAMAR TIDUR

Hari ini merupakan hari pertama pelaksanaan family project keluarga kami di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional. Sang ayah masih di luar kota, sehingga dalam pelaksanaannya saya berencana hanya melibatkan saya beserta keempat putra-putri saya (Mush'ab, Sa'ad, Zahwa dan Shafa). Sebenarnya ide family project ini sudah cukup lama, lebih dari sebulan lalu, tercetus ide dari Zahwa, putriku yang ketiga. Ia menginginkan untuk menghias kamar tidurnya yang selama ini ditempati berdua dengan putri bungsuku, Shafa, dengan berbagai gambar dan hiasan yang ditempelkan di dinding. Saat itu saya menyetujuinya dan berjanji untuk merealisasikannya. Namun karena berbagai kesibukan, akhirnya ide family project ini tertunda, belum terealisasi.



Semangat merealisasikan ide family project ini kembali bangkit dengan adanya tantangan game level 3 di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Saya berniat ide family project yang tertunda ini saya realisasikan bersama keempat putra-putri saya hari ini. Saya namakan family project ini dengan nama “MENGHIAS DINDING KAMAR TIDUR.” Sebagai penanggung jawab pelaksana family project di hari pertama ini adalah Zahwa, sang pencetus ide.

Family project ini saya awali dengan membangun komunikasi pada keempat putra-putri saya. Komunikasi dengan Zahwa, saya pilih saat di perjalanan menjemput Zahwa pulang dari sekolah. Sebelum sampai ke rumah, saya mengajak Zahwa untuk mampir dulu ke toko ATK dan mainan anak guna mencari bahan yang bisa dipakai untuk menghias dinding kamar tidur. Zahwa pun setuju dan kami berdua sepakat mengunjungi toko ATK dan mainan anak “Lugiana”, milik tante saya. Kepada pelayan toko, saya menanyakan apakah ada bahan yang biasa dipakai untuk menghias dinding kamar tidur. Lalu pelayan toko menawarkan wall sticker dengan tema “Paris”. Wah, senangnya... ternyata mudah mendapatkan bahan guna menghias dinding kamar tidur. Saya dan Zahwa melihat-lihat wall sticker yang ditawarkan pelayan toko. Bagus..., gambar menara eifel di Paris dengan latar belakang pemandangan kota Paris. Penasaran, saya tanyakan apakah ada tema lain. Eh, ternyata ada tema-tema lain yang khusus buat anak-anak. Kami berdua pun asyik melihat-lihat beberapa macam tema. Kemudian saya meminta Zahwa untuk memilih dua tema wall sticker. Zahwa memilih wall sticker tema “Happy Day” bergambar Doraemon dan tema “Hello Kitty”. Senangnya hati Zahwa tak bisa disembunyikan dari mimik wajah dan body language-nya. Setelah membayar harga dua wall sticker yang dibeli, kami berdua pun pulang ke rumah.

Kami berdua mencari Shafa yang sedang bermain dengan keponakan saya. Setelah diberi tahu tentang dua wall sticker yang telah kami beli, Shafa akhirnya pulang ke rumah untuk melihatnya. Shafa pun terlijat sangat gembira dan antusias untuk segera memasang wall sticker tersebut. Namun saya sampaikan bahwa kita harus mencari dua kakak laki-lakinya dulu, Mush’ab dan Sa’ad agar pulang dan bisa ikut terlibat melaksanakan family project pertama tersebut. Setelah Mush’ab dan Sa’ad kami jemput pulang ke rumah, mereka sepakat melaksanakan family project perrama tersebut ba’da isya setelah jadwal ta’lim al-Qur’an keluarga kami. Saya setuju dan memotivasi Zahwa dan Shafa agar bersabar menunggu sampai waktu isya. Akhirnya Zahwa, Shafa dan keponakan saya bermain pasir di depan garasi rumah keluarga kami yang sedang direnovasi dan diperbesar.

Setelah satu jam bermain pasir dan membuat kue-kue dari pasir, rupanya Zahwa dan Shafa masih begitu antusias untuk segera menghias dinding kamar tidurnya. Akhirnya kami sepakat memproses realisasi family project pertama  sore ini minus kehadiran Mush’ab dan Sa’ad karena mereka kembali bermain setelah pulang ke rumah tadi. Asumsi saya project ini tidak akan selesai maghrib sehingga bisa dilanjutkan ba’da isya dengan melibatkan Mush’ab dan Sa’ad.



Dengan semangat yang membara, Zahwa dan Shafa mulai menyiapkan wall sticker untuk menghias dinding kamar mereka. Tahap pertama, keduanya sepakat menempelkan wall sticker tema “Happy Day” yang bergambar Doraemon dan kawan-kawannya. Dibantu saya, keduanya mulai memisahkan setiap gambar satu demi satu, lalu menempelnya di dinding kamar. Saya biarkan mereka berkreasi untuk mendesain posisi gambar-gambar tersebut. Sesekali saya memberi masukan meletakkan posisi gambar dan membantu menyatukan gambar yang terputus, juga menempelkan dua gambar yang tidak mau tertempel di dinding dengan bantuan selotip.

Tidak sampai sejam, tema wall sticker “Happy Day” selesai ditempelkan semua di dinding kamar berwarna pink yang ada jendela kamar ke luar rumah. Zahwa dan Shafa kemudian dengan semangat yang membara melanjutkan mengambil wall sticker tema “Hello Kitty” lalu melaksanakan kegiatan menghias dinding kamarnya sebagaimana tema “Happy Day”. Saya memberi masukan untuk membagi dua gambar-gambar yang ada di tema kedua ini untuk ditempelkan di masing-masing dinding kamar warna ungu yang menempel kasur masing-masing milik Zahwa dan Shafa. Mereka berdua setuju, meski sempat berebut pilihan gambar, namu akhirnya segera bisa diatasi dengan saya bantu memberikan pilihan paket gambar untuk dibagi dua.

Setelah sejam menghias dinding kamar milik Zahwa dan Shafa, akhirnya kegiatan menghias dinding selesai sudah pukul 17.30. Zahwa dan Shafa sangat senang dengan hasil kreasi mereka. Saya pun turut senang dengan kegiatan yang berhasil mereka lakukan meski kamar dan ruang keluarga penuh dengan sampah wall sticker. Namun tentu ini mudah untuk dibersihkan.


Sekitar jam 8 malam selesai kami melaksanakan ta’lim Al-Qur’an keluarga, rupanya putri bungsu saya masih sangat antusias merapihkan hasil karyanya menghias dinding kamar tadi sore. Ia mencopot gambar-gambar yang sudah ditempelnya, lalu menata ulang dengan memindahkan dan menempel gambar-gambar yang dicopotnya tadi di tempat baru. Semua gambar Shafa tata ulang sehingga sungguh hasilnya lebih cantik dan lebih rapih. Luar biasa, saya sangat senang dan bangga dengan hasil akhir yang Shafa lakukan. Meskipun bagi saya hasil akhir bukanlah ukuran keberhasilan family project kami. Dengan adanya proses yang terlaksana adalah suatu keberhasilan sendiri di mata saya dalam mengembangkan kecerdasan dan krearivitas putra-putri kami. Saat proses menghias dinding berlangsung, saya tidak segan untuk mengapresiasi positif apa yang dilakukan Zahwa dan Shafa. Dan kedua kakaknya, Mush’ab dan Sa’ad saat maghrib pulang ke rumah dan melihat hasil karya Zahwa dan Shafa, mereka pun turut senang dan Sa’ad tertarik untuk menghias dinding kamarnya juga. Boleh...boleh… in syaa Allah kita laksanakan idemu, ya Sa’ad di hari berikutnya. Semoga lancar dan terlaksana.. Aamiin.




Bumi Salamodin
Kamis, 23 Maret 2017


#TantanganHari1
#GameLevel3
#KelasBunSayIIP
#MyFamilyMyTeam
#MeningkatkanKecerdasanAnak






Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...