Langsung ke konten utama

CHALLENGE #4, LEVEL #3; JALAN-JALAN KELUARGA

Di hari libur sekolah ini, saya bersama keempat putra-putri saya sepulang saya hadir di seminar pendidikan pada saat dhuhur sepakat untuk mengadakan family project dengan tema JALAN-JALAN KELUARGA. Ide ini tercetus dari putra kedua saya, Sa’ad. Kami semua setuju mengingat satu pekan ini kami belum jalan-jalan bersama sekeluarga. Awalnya Sa’ad mengusulkan jalan-jalannya ke kolam renang. Maksudnya ia ingin mengajak kami berenang. Namun karena hari sudah siang, saya mengusulkan untuk jalan-jalan ke tempat lain yang masih di dalam kota Majalengka. Namun sebelum jalan-jalan keluarga dilaksanakan, saya mengajak keempat putra-putri saya mampir ke tempat seminar untuk membantu panitia mengembalikan peralatan penting yang dipakai acara seminar. Saya meminta mereka membantu mengangkat peralatan itu ke mobil. Mereka pun setuju.

Dengan mengendarai mobil pribadi, kami pun mampir ke tempat seminar. Lalu mengangkat peralatan penting ke mobil. Kedua putra saya turut membantu, adapun kedua putri saya karena masih kecil, turut mendampingi sambil mengamati. Selesai semua peralatan masuk ke mobil, kami mengembalikan peralatan ke tempat yang telah diinformasikan teman panitia. Selepas itu, kami melanjutkan pergi jalan-jalan.

Tempat yang kami kunjungi pada jalan-jalan keluarga kali ini sesuai hasil musyawarah selama berkendaraan di dalam mobil adalah ke Taman Dirgantara, Majalengka, sebuah taman berkumpul masyarakat kota Majalengka untuk sekedar bermain, wisata kuliner ataupun selfi-selfi di depan pesawat militer yang sengaja ditempatkan di sana. Karena belum makan siang dari rumah, kami pun memutuskan untuk makan siang dulu di pinggir taman yang banyak berjejer para pedagang kuliner. Akhirnya mie ayam menjadi pilihan kami untuk mengganjal perut siang ini.


Selesai makan mie ayam, kami ke tengah taman untuk sekedar bermain dan berfoto-foto. Anak-anak sempat masuk ke dalam pagar posisi pesawat untuk mendekati pesawat. Setelah sekitar sejam di sana, kami memutuskan untuk melanjutkan jalan-jalan ke alun-alun kota Majalengka sekalian pulang ke rumah yang tidak jauh letaknya dari alun-alun. Alun-alun kota Majalengka selama ini dijadikan pusat keramaian untuk masyarakat bermain, berkumpul, beraktivitas berbagai bidang ataupun sekedar bersantai ria. Banyak mainan anak-anak di alun-alun yang membuat anak-anak betah berlama-lama main di sini. Meskipun hampir tiap hari kami melalui alun-alun ini, namun kamibtisak pernah bosan untuk kembali bermain ataupun sekedar bersantai bersama keluarga di sana. Putra-putri saya, kecuali si sulung, bermain ayunan dan putaran. Si sulung hanya duduk di pinggir karena merasakan kepalanya pusing dan perutnya mual. Setelah puas bermain, keempat putra-putri saya membeli bakso cuangki… Wah, padahal mereka kan tadi sudah makan mie ayam. Ternyata belum kenyang perutnya. Setelah habis makan bakso cuangki, kami memutuskan pulang ke rumah karena hujan mulai turun.


Alhamdulillah kegiatan jalan-jalan keluarga bisa berjalan lancar. Meskipun sederhana dan tidak ke tempat yang jauh, namun kebersamaan di antara kami melakukan aktivitas bermain dan makan bersama di luar rumah, semoga semakin mendekatkan ikatan saya dengan keempat putra-putri saya. Aamiin Ya Mujiib ad-Du’a.



Bumi Salamodin
Ahad, 26 Maret 2017

#TantanganHari4
#GameLevel3
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKecerdasanAnak
#MyFamilyMyTeam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...