Langsung ke konten utama

CHALLENGE #4; LEVEL #2; BERLATIH KEMANDIRIAN ANAK DENGAN PRACTICAL LIFE SKILLS

Bunda, semoga masih semangat dengan kegiatan melatih kemandirian anak. Di hari libur ini keempat putra dan putri saya kembali melakukan kegiatan yang hampir sama dengan hari sebelumnya. Putra pertama, Mush'ab, selesai shalat shubuh membereskan tempat tidurnya sendiri dan tempat tidur milik Sa'ad, lalu membantu saya belanja telur 1 kg juga makanan kudapan ke warung samping rumah. Selanjutnya ia mengeluarkan sepeda motor dari garasi, sekaligus memasukkan motor ke garasi pada sore harinya. Malam ba'da shalat maghrib, Mush'ab membantu putra kedua saya membuat spaghetti telur, lalu meyiapkan makan malam sendiri dan sekitar jam 9 malam ia menemani Sa'ad pergi membelikan nasi goreng buat Zahwa karena Zahwa minta dibelikan nasi goreng.

Putra kedua saya, Sa'ad, karena sejak kemarin sore badannya demam, maka pagi hari ini ia tidak banyak melakukan kegiatan di rumah. Kegiatan melatih kemandiriannya baru dilakukan malam hari ba'da maghrib, yakni saat ia berinisiatif untuk membuat spaghetti telur sendiri. Dibantu kakaknya, Mush'ab, ia pun membuat spaghetti telur dan menyiapkan makan malamnya sendiri. Selesai makan malam, ia memperbaiki kipas angin yang tidak berfungsi on/off-nya hingga berfungsi kembali. Dan sekitar jam 9 ia berinisiatif membantu membelikan nasi goreng buat Zahwa ditemani kakaknya, Mush'ab.



Adapun kegiatan melatih kemandirian yang dilakukan putri ketiga saya, Zahwa, pagi hari ia mampu mandi sendiri tanpa saya bantu, kemudian siang hari bermain dengan shafa dan dua keponakan saya di rumah. Selesai bermain ia merapihkan kembali berbagai macam mainan yang dipakainya bermain ke tempat semula dibantu Shafa dan dua keponakan saya. Sore harinya Zahwa ikut membantu saya menyapu halaman depan rumah. Menjelang isya, ia mempersiapkan perlengkapan sekolahnya sendiri, mulai dari tas, buku pelajaran, alat tulis dan seragam sekolahnya. Sekitar jam 9 malam, Zahwa bisa makan nasi goreng sendiri yang dibelikan Sa'ad dan Mush'ab tanpa saya suapi.

Putri bungsu saya, Shafa, hari Ahad ini mampu melakukan mandi sendiri tanpa saya bantu, kemudian siang hari bermain dengan Zahwa dan dua keponakan saya di rumah. Selesai bermain, Shafa bersama Zahwa dan dua keponakan saya, merapihkan kembali berbagai macam mainan yang dipakainya bermain ke tempat semula. Siang hari Shafa dibantu saya mengerjakan PR membuat huruf V. Lalu sore harinya Shafa berinisiatif sendiri ikut membantu saya menyapu halaman depan rumah. Sekitar jam 9 malam, Shafa bisa makan nasi goreng sendiri yang dibelikan Sa'ad dan Mush'ab tanpa saya suapi.

Alhamdulillah, keempat putra dan putri saya hari ini berhasil melatih kemandiriannya dengan melakukan berbagai macam kegiatan di atas tanpa paksaan. Bahkan istimewanya, di antara kegiatan yang mereka lakukan adalah berlatih kemandirian dengan kegiatan keterampilan kehidupan (practical life skills) yang sangat penting bagi kehidupannya sehari-hari di masa mendatang. Salah satunya adalah kegiatan memasak. Wah, anak laki-laki memasak, memangnya ga boleh? Memasak ini termasuk practical life skill yang harus dimiliki siapa saja, laki-laki maupun perempuan. Coba kita bayangkan jika di medan jihad yang ada laki-laki semua, terus tidak ada yang bisa memasak makanan, nantinya bisa berabe...! Profesi chef sekarang juga banyak disandang laki-laki.

Anak sangat perlu diajarkan tentang practical life skills ini karena tujuan akhirnya membuat anak memiliki kualitas hidup yang lebih baik, bisa hidup mandiri dan lebih percaya diri. Selain itu, banyak sekali manfaat yang melekat pada pribadi anak ketika ia mempunyai life skills yang terlatih, di antaranya anak :
-mengerti diri sendiri dan membangun identitas diri,
-meningkatkan kompetensi psikososial dan membentuk hubungan sosial yang positif,
-seimbang antara dirinya dan dunia luar,
-mengerti emosi-emosi mereka,
-meningkatkan potensi kognitif mereka,
-menghadapi hubungan dengan orang tua dan teman sebaya,
-kesadaran untuk peka atas peran jenis,
-mengambil keputusan dari hari ke hari,
-bersikap positif untuk melindungi dirinya, dan sebagainya.
 
Life skills diajarkan dengan cara dilatihkan berulang kali, bertahap hingga menjadi kebiasaan baik. Cara pengajaran life skills pun perlu disesuaikan dengan gaya belajar anak, apakah auditory, visual atau kinestetik. Di sinilah sangat diperlukan keterampilan orang tua saat mengajarkan life skills pada anak, yaitu dari segi cara berkomunikasi, cara pengawasan, orang tua harus menjadi model yang baik, serta penerapan disiplin yang tepat dan konsisten, serta realistis dan peka terhadap kondisi, karakter dan gaya belajar anak. Semoga saya dimudahkan dalam melaksanakannya. Aamiin Ya Mujiib ad-Du'a.



Bumi Salamodin
Ahad, 26 Februari 2017

#Hari4
#GameLevel2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...