Kemandirian merupakan salah satu aspek terpenting yang harus dimiliki setiap individu dan anak. Karena selain dapat mempengaruhi kinerjanya, juga berfungsi untuk membantu mencapai tujuan hidupnya, prestasi, kesuksesan serta memperoleh penghargaan. Tanpa didukung oleh sifat mandiri, maka individu maupun anak akan sulit untuk mencapai sesuatu secara maksimal dan akan sulit pula baginya untuk meraih kesuksesan (Yusuf, 2009).
Kemandirian berasal dari kata mandiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional, 2005), mandiri berarti keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain. Sedangkan kemandirian adalah hal-hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Kemandirian (autonomi) menurut Hurlock (Yusuf, 2009) adalah individu memiliki sikap mandiri dalam cara berpikir dan bertindak, mampu mengambil keputusan mengarahkan dan mengembangkan serta menyesuaikan diri sesuai dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
Terkait dengan tantangan hari kedua untuk melatih kemandirian anak di kelas Bunda Sayang ini, saya menargetkan untuk melanjutkan melatih kemandirian kedua putra saya, Mush'ab dan Sa'ad dengan list kegiatan yang sama dengan hari pertama. Sedangkan kedua putri saya, Zahwa dan Shafa, baru hari ini saya menargetkan untuk melatih kemandiriannya. Adapun list kegiatan yang akan dilakukan oleh kedua putri saya, maka saya memberikan ruang bagi keduanya untuk berinisiatif dan memutuskan atas dasar pilihannya sendiri. Hal ini sengaja saya lakukan sebagai upaya untuk menumbuhkan kemandirian cara berpikir dan bertindaknya sejak usia dini.
Hari ini sekitar jam 6 pagi, putra pertama saya, Mush'ab, telah membereskan tempat tidurnya sendiri. Setelah itu ia memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci untuk selanjutnya mengoperasikan mesin tersebut. Karena menggunakan mesin cuci satu tabung, proses pencucian tidak perlu ditunggu dan otomatis mesin akan berhenti dengan hasil cucian yang siap untuk dijemur. Mush'ab kemudian pergi ke garasi yang terletak di samping kiri rumah, terselang sebuah kebun milik paman untuk mengeluarkan sepeda motor dari garasi, lalu memanaskan mesinnya. Pada malam harinya setelah isya, Mush'ab menyiapkan perlengkapan sekolahnya sendiri, mulai dari tas, buku pelajaran dan alat tulis yang akan dibawanya besok pagi ke sekolah. Semua kegiatannya sejak pagi hingga malam alhamdulillah dilakukan Mush'ab atas dasar kesadaran sendiri tanpa perlu saya ingatkan lagi.
Putra kedua saya, Sa'ad, pada hari kedua ini alhamdulillah mau melakukan tugasnya untuk membereskan tempat tidurnya sendiri, juga membuka dan menutup jendela-jendela rumah sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Sore hari menjelang maghrib, dengan sukarela ia menawarkan diri untuk membantu saya memasukkan sepeda motor ke garasi. Meskipun tidak banyak kegiatan yang ia lakukan, bagi saya sudah cukup merasa bersyukur saat ia mau melakukannya tanpa paksaan, mengingat kondisi psikisnya pasca trauma yang masih membutuhkan penanganan khusus. Melalui kegiatan harian yang sederhana ini, diharapkan sedikit demi sedikit terbangun rasa kepercayaan diri, kemandirian dan tanggung jawab yang baik pada diri Sa'ad. Tahap selanjutnya diharapkan Sa'ad akan mengalami proses pendewasaan sehingga tidak bergantung lagi semua pemenuhan kebutuhan pribadinya kepada saya dan suami selaku orang tuanya.
Hal istimewa yang saya rasakan hari ini adalah kemandirian cara berpikir dan bertindak kedua putri saya, Zahwa dan Shafa. Selesai shalat maghrib, keduanya tampak sibuk melakukan aktivitas di ruang tidur depan. Atas inisiatifnya sendiri, putri ketiga saya, Zahwa (berusia 7 tahun), menyiapkan perlengkapan sekolahnya sendiri, mulai dari tas, buku pelajaran, alat tulis serta seragam sekolahnya lengkap dengan pakaian dalam dan rumahnya. Selanjutnya ia menyetrika pakaiannya tersebut yang akan dipakainya besok ke sekolah. Semua itu ia lakukan tanpa beban. Saya rasa kegiatan menyetrika pakaian sendiri adalah pengalaman yang menyenangkan baginya. Saya pun tidak berusaha melarangnya karena tidak ingin merusak kepercayaan dirinya. Saya cukup mengawasinya dari ruang keluarga untuk mengantisipasi terjadi bahaya terkena panas setrikaan atau pakaian menjadi rusak karena terlalu lama terpapar panas setrika. Selesai menyetrika, Zahwa menyimpan hasil setrikaannya di atas kursi kecil yang ada di ruang tidur tengah miliknya. Ia pun berpesan kepada saya bahwa semua pakaian bersih yang sudah ia siapkan di atas kursi kecil tidak boleh saya pindahkan ke tempat lain. Selain itu, tidak lupa Zahwa meminta uang kepada saya untuk ia tabung besok di sekolah. Sebelum beristirahat, atas inisiatifnya sendiri, Zahwa masih menyempatkan diri untuk merapihkan isi lemari pakaiannya yang terlihat sedikit berantakan.
Surprise luar biasa, demikianlah perasaan saya saat menyaksikan kegiatan yang dilakukan si bungsu Shafa (berusia 5 tahun). Sepanjang Zahwa melakukan kegiatannya, di ruang yang sama Shafa pun tampak sibuk merapihkan isi lemari pakaiannya. Hal tersebut ia lakukan atas inisiatifnya sendiri tanpa paksaan. Kegiatan itu Shafa awali dengan mengeluarkan semua isi lemari pakaiannya yang terlihat berantakan akibat diacak-acak oleh putra kedua saya saat ia marah beberapa hari yang lalu. Shafa lalu melipat pakaian miliknya satu per satu dan menatanya di atas lantai. Saat Zahwa selesai menyetrika, Shafa mengambil alih setrika untuk ia pakai menyetrika pakaian-pakaian yang telah dilipatnya tadi. Ia membuka lipatan pakaian, lalu menyetrikanya untuk selanjutnya pakaian itu ia lipat kembali. Proses menyetrika itu Shafa lakukan dalam kondisi viting kabel setrika tidak terhubung dengan stop kontak karena Zahwa telah mencopotnya tadi saat ia selesai menyetrika. Kondisi inilah yang membuat saya membiarkan Shafa tetap menyetrika tanpa rasa khawatir terkena bahaya listrik ataupun panas setrika, mengingat usia Shafa masih terlalu dini untuk kegiatan menyetrika.
Setelah berhasil menyetrika beberapa pakaian, Shafa terlihat sangat kelelahan dan mengantuk. Dan ternyata benar, ia mengeluhkan badannya sangat capek, namun ia tetap melanjutkan menyetrika. Maklum seharian ia tidak tidur siang dan aktif bermain sejak pulang sekolah hingga menjelang maghrib, ditambah sekarang ia merapihkan isi lemari pakaiannya sekaligus menyetrika pakaian-pakaian miliknya. Tentu bagi usianya yang masih sangat dini dengan bobot tubuh sekitar 16 kg, semua kegiatan itu sangat menguras energinya. Saya pun membujuknya agar ia mengakhiri kegiatan menyetrika dan saya menawarkan bantuan untuk melanjutkan menyetrika sisa pakaiannya nanti, in syaa Allah. Shafa setuju dan berpesan agar saya menyetrika sisa pakaian miliknya besok. Sebelum benar-benar terkulai, Shafa masih berinisiatif memasukkan pakaian yang sudah ia lipat, termasuk pakaian yang baru disetrikanya ke dalam lemari, lalu menatanya. Saya ikut membantu Shafa memasukkan pakaian miliknya ke dalam lemari. Lalu saya menata pakaian di dalam lemari mengikuti pengelompokan sesuai petunjuk dari Shafa langsung. Akhirnya Shafa benar-benar terkulai kelelahan dan tertidur di atas lantai. Saya bergegas memindahkannya ke atas kasur miliknya di ruang tidur tengah.
Masya Allah... sungguh pengalaman yang berharga bagi saya mendampingi keempat putra dan putri saya menjalani proses pembelajaran untuk menumbuhkan kemandirian cara berpikir dan bertindak mereka. Sebuah proses yang harus ditanamkan sejak usia dini sehingga mereka kelak menjadi manusia dewasa yang mampu mengambil keputusan sendiri, memiliki kepercayaan diri serta bertanggung jawab dalam menjalani segala hal dalam kehidupannya di dunia sesuai hukum Sang Maha Pencipta. Orang tua yang tidak memberikan ruang bagi anak-anaknya untuk berinisiatif, memilih, memutuskan sendiri segala tindakannya dan cenderung protektif berlebihan, hanya akan melemahkan potensi diri anak, mengerdilkan kepercayaan dirinya, menghambat proses kemandiriannya dan pada akhirnya membentuk anak-anak yang menciptakan banyak "excuse" dalam hidupnya. Semoga putra dan putri kita terlindungi dari hal yang demikian. Aamiin Ya Mujiib ad-Du'a.
Kemandirian berasal dari kata mandiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional, 2005), mandiri berarti keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain. Sedangkan kemandirian adalah hal-hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Kemandirian (autonomi) menurut Hurlock (Yusuf, 2009) adalah individu memiliki sikap mandiri dalam cara berpikir dan bertindak, mampu mengambil keputusan mengarahkan dan mengembangkan serta menyesuaikan diri sesuai dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
Terkait dengan tantangan hari kedua untuk melatih kemandirian anak di kelas Bunda Sayang ini, saya menargetkan untuk melanjutkan melatih kemandirian kedua putra saya, Mush'ab dan Sa'ad dengan list kegiatan yang sama dengan hari pertama. Sedangkan kedua putri saya, Zahwa dan Shafa, baru hari ini saya menargetkan untuk melatih kemandiriannya. Adapun list kegiatan yang akan dilakukan oleh kedua putri saya, maka saya memberikan ruang bagi keduanya untuk berinisiatif dan memutuskan atas dasar pilihannya sendiri. Hal ini sengaja saya lakukan sebagai upaya untuk menumbuhkan kemandirian cara berpikir dan bertindaknya sejak usia dini.
Hari ini sekitar jam 6 pagi, putra pertama saya, Mush'ab, telah membereskan tempat tidurnya sendiri. Setelah itu ia memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci untuk selanjutnya mengoperasikan mesin tersebut. Karena menggunakan mesin cuci satu tabung, proses pencucian tidak perlu ditunggu dan otomatis mesin akan berhenti dengan hasil cucian yang siap untuk dijemur. Mush'ab kemudian pergi ke garasi yang terletak di samping kiri rumah, terselang sebuah kebun milik paman untuk mengeluarkan sepeda motor dari garasi, lalu memanaskan mesinnya. Pada malam harinya setelah isya, Mush'ab menyiapkan perlengkapan sekolahnya sendiri, mulai dari tas, buku pelajaran dan alat tulis yang akan dibawanya besok pagi ke sekolah. Semua kegiatannya sejak pagi hingga malam alhamdulillah dilakukan Mush'ab atas dasar kesadaran sendiri tanpa perlu saya ingatkan lagi.
Putra kedua saya, Sa'ad, pada hari kedua ini alhamdulillah mau melakukan tugasnya untuk membereskan tempat tidurnya sendiri, juga membuka dan menutup jendela-jendela rumah sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Sore hari menjelang maghrib, dengan sukarela ia menawarkan diri untuk membantu saya memasukkan sepeda motor ke garasi. Meskipun tidak banyak kegiatan yang ia lakukan, bagi saya sudah cukup merasa bersyukur saat ia mau melakukannya tanpa paksaan, mengingat kondisi psikisnya pasca trauma yang masih membutuhkan penanganan khusus. Melalui kegiatan harian yang sederhana ini, diharapkan sedikit demi sedikit terbangun rasa kepercayaan diri, kemandirian dan tanggung jawab yang baik pada diri Sa'ad. Tahap selanjutnya diharapkan Sa'ad akan mengalami proses pendewasaan sehingga tidak bergantung lagi semua pemenuhan kebutuhan pribadinya kepada saya dan suami selaku orang tuanya.
Hal istimewa yang saya rasakan hari ini adalah kemandirian cara berpikir dan bertindak kedua putri saya, Zahwa dan Shafa. Selesai shalat maghrib, keduanya tampak sibuk melakukan aktivitas di ruang tidur depan. Atas inisiatifnya sendiri, putri ketiga saya, Zahwa (berusia 7 tahun), menyiapkan perlengkapan sekolahnya sendiri, mulai dari tas, buku pelajaran, alat tulis serta seragam sekolahnya lengkap dengan pakaian dalam dan rumahnya. Selanjutnya ia menyetrika pakaiannya tersebut yang akan dipakainya besok ke sekolah. Semua itu ia lakukan tanpa beban. Saya rasa kegiatan menyetrika pakaian sendiri adalah pengalaman yang menyenangkan baginya. Saya pun tidak berusaha melarangnya karena tidak ingin merusak kepercayaan dirinya. Saya cukup mengawasinya dari ruang keluarga untuk mengantisipasi terjadi bahaya terkena panas setrikaan atau pakaian menjadi rusak karena terlalu lama terpapar panas setrika. Selesai menyetrika, Zahwa menyimpan hasil setrikaannya di atas kursi kecil yang ada di ruang tidur tengah miliknya. Ia pun berpesan kepada saya bahwa semua pakaian bersih yang sudah ia siapkan di atas kursi kecil tidak boleh saya pindahkan ke tempat lain. Selain itu, tidak lupa Zahwa meminta uang kepada saya untuk ia tabung besok di sekolah. Sebelum beristirahat, atas inisiatifnya sendiri, Zahwa masih menyempatkan diri untuk merapihkan isi lemari pakaiannya yang terlihat sedikit berantakan.
Surprise luar biasa, demikianlah perasaan saya saat menyaksikan kegiatan yang dilakukan si bungsu Shafa (berusia 5 tahun). Sepanjang Zahwa melakukan kegiatannya, di ruang yang sama Shafa pun tampak sibuk merapihkan isi lemari pakaiannya. Hal tersebut ia lakukan atas inisiatifnya sendiri tanpa paksaan. Kegiatan itu Shafa awali dengan mengeluarkan semua isi lemari pakaiannya yang terlihat berantakan akibat diacak-acak oleh putra kedua saya saat ia marah beberapa hari yang lalu. Shafa lalu melipat pakaian miliknya satu per satu dan menatanya di atas lantai. Saat Zahwa selesai menyetrika, Shafa mengambil alih setrika untuk ia pakai menyetrika pakaian-pakaian yang telah dilipatnya tadi. Ia membuka lipatan pakaian, lalu menyetrikanya untuk selanjutnya pakaian itu ia lipat kembali. Proses menyetrika itu Shafa lakukan dalam kondisi viting kabel setrika tidak terhubung dengan stop kontak karena Zahwa telah mencopotnya tadi saat ia selesai menyetrika. Kondisi inilah yang membuat saya membiarkan Shafa tetap menyetrika tanpa rasa khawatir terkena bahaya listrik ataupun panas setrika, mengingat usia Shafa masih terlalu dini untuk kegiatan menyetrika.
Setelah berhasil menyetrika beberapa pakaian, Shafa terlihat sangat kelelahan dan mengantuk. Dan ternyata benar, ia mengeluhkan badannya sangat capek, namun ia tetap melanjutkan menyetrika. Maklum seharian ia tidak tidur siang dan aktif bermain sejak pulang sekolah hingga menjelang maghrib, ditambah sekarang ia merapihkan isi lemari pakaiannya sekaligus menyetrika pakaian-pakaian miliknya. Tentu bagi usianya yang masih sangat dini dengan bobot tubuh sekitar 16 kg, semua kegiatan itu sangat menguras energinya. Saya pun membujuknya agar ia mengakhiri kegiatan menyetrika dan saya menawarkan bantuan untuk melanjutkan menyetrika sisa pakaiannya nanti, in syaa Allah. Shafa setuju dan berpesan agar saya menyetrika sisa pakaian miliknya besok. Sebelum benar-benar terkulai, Shafa masih berinisiatif memasukkan pakaian yang sudah ia lipat, termasuk pakaian yang baru disetrikanya ke dalam lemari, lalu menatanya. Saya ikut membantu Shafa memasukkan pakaian miliknya ke dalam lemari. Lalu saya menata pakaian di dalam lemari mengikuti pengelompokan sesuai petunjuk dari Shafa langsung. Akhirnya Shafa benar-benar terkulai kelelahan dan tertidur di atas lantai. Saya bergegas memindahkannya ke atas kasur miliknya di ruang tidur tengah.
Masya Allah... sungguh pengalaman yang berharga bagi saya mendampingi keempat putra dan putri saya menjalani proses pembelajaran untuk menumbuhkan kemandirian cara berpikir dan bertindak mereka. Sebuah proses yang harus ditanamkan sejak usia dini sehingga mereka kelak menjadi manusia dewasa yang mampu mengambil keputusan sendiri, memiliki kepercayaan diri serta bertanggung jawab dalam menjalani segala hal dalam kehidupannya di dunia sesuai hukum Sang Maha Pencipta. Orang tua yang tidak memberikan ruang bagi anak-anaknya untuk berinisiatif, memilih, memutuskan sendiri segala tindakannya dan cenderung protektif berlebihan, hanya akan melemahkan potensi diri anak, mengerdilkan kepercayaan dirinya, menghambat proses kemandiriannya dan pada akhirnya membentuk anak-anak yang menciptakan banyak "excuse" dalam hidupnya. Semoga putra dan putri kita terlindungi dari hal yang demikian. Aamiin Ya Mujiib ad-Du'a.
Bumi Salamodin
Kamis, 23 Februari 2017
#Hari2
#GameLevel2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
Komentar
Posting Komentar