Bunda, semoga tetap semangat dan sabar dalam melatih kemandirian putra-putrinya. Suatu tantangan istimewa untuk melatih kemandirian anak, perlu kedisiplinan, konsisten dan kesabaran. Kegiatan yang biasa diulang-ulang akan membangun kemandirian. Mandiri karena terbiasa, begitulah ungkapan yang tepat. Terkait kemandirian ini tidak ada salahnya kita mencontoh pola asuh di Jepang. Psikolog Anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi mengatakan bahwa selain disiplin, kelekatan ibu dan anak, nilai positif dari pola asuh di Jepang adalah kemandirian. Anak sedini mungkin dibiasakan melakukan aktivitas yang menyangkut dirinya dilakukan secara mandiri. Kegiatan seperti merapikan mainan, merapikan baju, makan, sampai ke toilet training sudah dibiasakan sejak sedini mungkin, sehingga bertambah usia anak sudah biasa sendiri,” jelasnya dalam acara 'Learning from the Positive of Japanese Parenting', di Aeon Mall, BSD City, kemarin.
Di hari kelima ini alhamdulillah keempat putra dan putri saya, mulai terbiasa melakukan beberapa kegiatan rutin secara mandiri. Dan senangnya lagi, ada tambahan kegiatan baru yang mulai mereka lakukan untuk melatih kemandiriannya, di samping kian menumbuhkan kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab pada diri mereka.
Putra Pertama, Mush'ab (13,5 Tahun)
Pagi hari setelah bangun dan shalat shubuh, Mush'ab membereskan tempat tidurnya sendiri. Kemudian ia pergi ke garasi yang terletak di samping rumah guna mengeluarkan motor yang biasa saya pakai untuk mengantar dua putri saya ke sekolah. Sore harinya, Mush’ab memasukkan pakaian-pakaian kotor ke dalam mesin cuci dan mencucinya. Tiga kegiatan ini alhamdulillah tampaknya sudah menjadi kegiatan rutin harian Mush’ab.
Putra Kedua, Sa'ad (11 Tahun)
Pagi hari setelah bangun dan shalat shubuh, Mush'ab membereskan tempat tidurnya sendiri. Kemudian ia pergi ke garasi yang terletak di samping rumah guna mengeluarkan motor yang biasa saya pakai untuk mengantar dua putri saya ke sekolah. Sore harinya, Mush’ab memasukkan pakaian-pakaian kotor ke dalam mesin cuci dan mencucinya. Tiga kegiatan ini alhamdulillah tampaknya sudah menjadi kegiatan rutin harian Mush’ab.
Putra Kedua, Sa'ad (11 Tahun)
Hari ini Sa’ad seperti biasa membereskan tempat tidurnya sendiri. Saat saya sibuk melipat tumpukan baju bersih yang belum disetrika, Sa’ad mendekati dan menemani saya. Saya pun memotivasinya untuk membantu. Awalnya Sa'ad tidak mau, namun akhirnya ia pun membantu saya melipat baju-baju tersebut. Mungkin ia kasihan melihat saya dengan segala aktivitas harian tanpa asisten rumah tangga. Sementara sang ayah sudah delapan hari tidak ada di rumah karena sedang bekerja di kota Rembang, Jawa Tengah. Sa’ad pun membantu menyimpan sebagian baju-baju itu dalam lemari. Sore harinya, Sa'ad membantu saya memasukkan motor ke dalam garasi. Tidak lupa ia pun membantu saya menutup sebagian jendela-jendela rumah karena hari sudah menjelang maghrib. Meskipun kegiatan-kegiatan di atas belum menjadi kegiatan rutin harian Sa’ad, namun saya bersyukur ia mau terus berproses melakukannya.
Putri Ketiga, Zahwa (7 Tahun)
Pagi ini Zahwa bangun lebih cepat. Kemudian ia mandi pagi sendiri. Selesai mandi, saya membantunya mengenakan seragam sekolah. Lalu ia menunaikan shalat shubuh. Karena nasi untuk sarapan belum matang, saya meminta bantuan Zahwa untuk membeli dua bungkus nasi kuning dan beberapa goreng tempe dan bakwan ke warung samping rumah. Alhamdulillah dengan berbekal catatan kecil, Zahwa pergi membeli sarapan ke warung. Setelah Zahwa datang ke rumah dengan membawa sarapan yang dibelinya, saya memotivasinya untuk makan sendiri tanpa disuapi. Alhamdulillah ia mau melakukannya. Malam hari sebelum tidur, seperti biasa, ia menyiapkan perlengkapan sekolahnya sendiri.
Putri Keempat, Shafa (5 Tahun)
Pagi ini setelah bangun dari tidurnya, putri bungsuku Shafa mau segera mandi. Ia pun mau mandi pagi sendiri. Siang harinya sepulang dari sekolah, Shafa membuka buku tugas hariannya, lalu membuat huruf W dibantu saya. Selesai mengerjakan tugasnya, seperti biasa Shafa bermain dengan keponakan saya. Sejak usia tiga tahun, Shafa sudah mandiri dan percaya diri pergi sendiri dengan jalan kaki ataupun naik sepeda untuk bermain ke rumah uwa maupun neneknya tanpa perlu saya temani. Rumah kami berdekatan. Sesekali Shafa pulang ke rumah untuk mengambil barang/mainan, ataupun sekedar meminta uang untuk jajan. Sore hari saya menjemputnya pulang ke rumah. Semoga kemandirianmu akan terus terjaga hingga dewasa kelak, nak, aamiin.
Putri Ketiga, Zahwa (7 Tahun)
Pagi ini Zahwa bangun lebih cepat. Kemudian ia mandi pagi sendiri. Selesai mandi, saya membantunya mengenakan seragam sekolah. Lalu ia menunaikan shalat shubuh. Karena nasi untuk sarapan belum matang, saya meminta bantuan Zahwa untuk membeli dua bungkus nasi kuning dan beberapa goreng tempe dan bakwan ke warung samping rumah. Alhamdulillah dengan berbekal catatan kecil, Zahwa pergi membeli sarapan ke warung. Setelah Zahwa datang ke rumah dengan membawa sarapan yang dibelinya, saya memotivasinya untuk makan sendiri tanpa disuapi. Alhamdulillah ia mau melakukannya. Malam hari sebelum tidur, seperti biasa, ia menyiapkan perlengkapan sekolahnya sendiri.
Putri Keempat, Shafa (5 Tahun)
Pagi ini setelah bangun dari tidurnya, putri bungsuku Shafa mau segera mandi. Ia pun mau mandi pagi sendiri. Siang harinya sepulang dari sekolah, Shafa membuka buku tugas hariannya, lalu membuat huruf W dibantu saya. Selesai mengerjakan tugasnya, seperti biasa Shafa bermain dengan keponakan saya. Sejak usia tiga tahun, Shafa sudah mandiri dan percaya diri pergi sendiri dengan jalan kaki ataupun naik sepeda untuk bermain ke rumah uwa maupun neneknya tanpa perlu saya temani. Rumah kami berdekatan. Sesekali Shafa pulang ke rumah untuk mengambil barang/mainan, ataupun sekedar meminta uang untuk jajan. Sore hari saya menjemputnya pulang ke rumah. Semoga kemandirianmu akan terus terjaga hingga dewasa kelak, nak, aamiin.
Bumi Salamodin
Senin, 27 Februari 2017
#Hari5
#GameLevel2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
Komentar
Posting Komentar