Langsung ke konten utama

CHALLENGE #5; LEVEL #2; MANDIRI KARENA TERBIASA

Bunda, semoga tetap semangat dan sabar dalam melatih kemandirian putra-putrinya. Suatu tantangan istimewa untuk melatih kemandirian anak, perlu kedisiplinan, konsisten dan kesabaran. Kegiatan yang biasa diulang-ulang akan membangun kemandirian. Mandiri karena terbiasa, begitulah ungkapan yang tepat. Terkait kemandirian ini tidak ada salahnya kita mencontoh pola asuh di Jepang. Psikolog Anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi mengatakan bahwa selain disiplin, kelekatan ibu dan anak, nilai positif dari pola asuh di Jepang adalah kemandirian. Anak sedini mungkin dibiasakan melakukan aktivitas yang menyangkut dirinya dilakukan secara mandiri. Kegiatan seperti merapikan mainan, merapikan baju, makan, sampai ke toilet training sudah dibiasakan sejak sedini mungkin, sehingga bertambah usia anak sudah biasa sendiri,” jelasnya dalam acara 'Learning from the Positive of Japanese Parenting', di Aeon Mall, BSD City, kemarin.

Di hari kelima ini alhamdulillah keempat putra dan putri saya, mulai terbiasa melakukan beberapa kegiatan rutin secara mandiri. Dan senangnya lagi, ada tambahan kegiatan baru yang mulai mereka lakukan untuk melatih kemandiriannya, di samping kian menumbuhkan kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab pada diri mereka.

Putra Pertama, Mush'ab (13,5 Tahun)
Pagi hari setelah bangun dan shalat shubuh, Mush'ab membereskan tempat tidurnya sendiri. Kemudian ia pergi ke garasi yang terletak di samping rumah guna mengeluarkan motor yang biasa saya pakai untuk mengantar dua putri saya ke sekolah. Sore harinya, Mush’ab memasukkan pakaian-pakaian kotor ke dalam mesin cuci dan mencucinya. Tiga kegiatan ini alhamdulillah tampaknya sudah menjadi kegiatan rutin harian Mush’ab.

Putra Kedua, Sa'ad (11 Tahun)
Hari ini Sa’ad seperti biasa membereskan tempat tidurnya sendiri. Saat saya sibuk melipat tumpukan baju bersih yang belum disetrika, Sa’ad mendekati dan menemani saya. Saya pun memotivasinya untuk membantu. Awalnya Sa'ad tidak mau, namun akhirnya ia pun membantu saya melipat baju-baju tersebut. Mungkin ia kasihan melihat saya dengan segala aktivitas harian tanpa asisten rumah tangga. Sementara sang ayah sudah delapan hari tidak ada di rumah karena sedang bekerja di kota Rembang, Jawa Tengah. Sa’ad pun membantu menyimpan sebagian baju-baju itu dalam lemari. Sore harinya, Sa'ad membantu saya memasukkan motor ke dalam garasi. Tidak lupa ia pun membantu saya menutup sebagian jendela-jendela rumah karena hari sudah menjelang maghrib. Meskipun kegiatan-kegiatan di atas belum menjadi kegiatan rutin harian Sa’ad, namun saya bersyukur ia mau terus berproses melakukannya. 

Putri Ketiga, Zahwa (7 Tahun)
Pagi ini Zahwa bangun lebih cepat. Kemudian ia mandi pagi sendiri. Selesai mandi, saya membantunya mengenakan seragam sekolah. Lalu ia menunaikan shalat shubuh. Karena nasi untuk sarapan belum matang, saya meminta bantuan Zahwa untuk membeli dua bungkus nasi kuning dan beberapa goreng tempe dan bakwan ke warung samping rumah. Alhamdulillah dengan berbekal catatan kecil, Zahwa pergi membeli sarapan ke warung. Setelah Zahwa datang ke rumah dengan membawa sarapan yang dibelinya, saya memotivasinya untuk makan sendiri tanpa disuapi. Alhamdulillah ia mau melakukannya. Malam hari sebelum tidur, seperti biasa, ia menyiapkan perlengkapan sekolahnya sendiri.

Putri Keempat, Shafa (5 Tahun)
Pagi ini setelah bangun dari tidurnya, putri bungsuku Shafa mau segera mandi. Ia pun mau mandi pagi sendiri. Siang harinya sepulang dari sekolah, Shafa membuka buku tugas hariannya, lalu membuat huruf W dibantu saya. Selesai mengerjakan tugasnya, seperti biasa Shafa bermain dengan keponakan saya. Sejak usia tiga tahun, Shafa sudah mandiri dan percaya diri pergi sendiri dengan jalan kaki ataupun naik sepeda untuk bermain ke rumah uwa maupun neneknya tanpa perlu saya temani. Rumah kami berdekatan. Sesekali Shafa  pulang ke rumah untuk mengambil barang/mainan, ataupun sekedar meminta uang untuk jajan. Sore hari saya menjemputnya pulang ke rumah. Semoga kemandirianmu akan terus terjaga hingga dewasa kelak, nak, aamiin.


Bumi Salamodin
Senin, 27 Februari 2017

#Hari5
#GameLevel2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...