Langsung ke konten utama

CHALLENGE #3; LEVEL #2; CITRA DIRI ANAK TUMBUH BERSAMA KEMANDIRIANNYA


Siang itu saat bersih-bersih rumah dan menyapu lantai ruang keluarga, saya baru menyadari kalau filter untuk menjaga kebersihan air aquarium di rumah kami ternyata tidak berfungsi. Entah sejak kapan filter itu mati. Padahal filter ini sangat penting untuk menjaga air aquarium tetap bersih, tidak keruh dan cukup kadar oksigen di dalamnya. Tanpa filter, air aquarium akan cepat kotor, keruh dan kekurangan kadar oksigen akibat banyaknya kadar CO2 hasil pernafasan ikan di dalam air. Walhasil, selain merusak pemandangan saat menikmati keindahan ikan-ikan kesayangan, tidak jarang juga menyebabkan kematian ikan.

Kekhawatiran inilah yang menyebabkan saya berpikir untuk segera memperbaikinya. Sayangnya, suami sedang kerja di luar kota selama dua minggu, kedua putra saya yang selama ini mengurus aquarium sedang bermain di luar rumah. Harapan paling besar adalah minta tolong kakak sepupu yang sekaligus kakak ipar saya yang memang jago di bidang listrik dan elektronika. Namun sebelum meminta bantuan beliau, saya berinisiatif untuk mencoba memperbaikinya sendiri.

Saya belum menemukan apa penyebab tidak berfungsinya filter air tersebut. Dan selama ini saya tidak pernah memperhatikan bagaimana cara pemasangan filter air di dalam aquarium. Saya berpikir mungkin viting kabel filternya tidak terpasang baik di stop kontak listrik. Setelah saya coba beberapa kali memperbaiki pemasangan, tetap saja filter tidak berfungsi. Saya kemudian mengangkat filter air tersebut ke kamar mandi dan membersihkan bagian dalam filter yang penuh dengan kotoran hasil saringan dari air aquarium, kasa di dalam filter karena sudah sangat kotor saya buang dan berencana membeli yang baru. Lalu saya pasang kembali di aquarium. Namun tetap tidak berfungsi.

Sore hari menjelang maghrib, kedua putra saya pulang ke rumah. Saya sampaikan kepada putra kedua, Sa'ad bahwa filter air aquarium tidak berfungsi. Atas inisiatifnya sendiri, Sa'ad lalu mencoba memperbaiki filter air tersebut. Secara mandiri, ia membersihkan bagian pipa filter dan memeriksa beberapa bagian lain yang di simpan di dalam air, kemudian dipasangnya di dalam aquarium. Saya tidak terlalu memperhatikan aktivitasnya tersebut karena sibuk membereskan rumah persiapan untuk ta'lim al-Qur'an ba'da maghrib ini. Tidak berapa lama, Sa'ad berhasil memperbaiki filter air aquarium tersebut dan alhamdulillah kembali berfungsi. Wah salut, ternyata diam-diam, Sa'ad punya potensi luar biasa di bidang teknik.

Dari kejadian ini saya semakin menyadari bahwa setiap anak dilahirkan dengan keistimewaan, kekhasan dan potensi masing-masing. Dan anak yang mandiri adalah anak yang diberi kesempatan untuk menerima dan menjadi dirinya sendiri. Orang tua yang memperlakukan anak-anak menurut kekhasan mereka masing-masing adalah orang tua yang belajar bersikap positif menghadapi berbagai perbedaan karakter, kepandaian ataupun potensi anak. Orang tua jangan memberi pembanding yang tidak adil di antara anak-anak. Anak-anak harus diajarkan untuk percaya bahwa dirinya "istimewa" dalam kekhasan mereka masing-masing. Dalam hal ini latihan melalui setiap peristiwa dalam hidupnya merupakan persiapan untuk membangun citra diri anak. Pembanding yang sehat di tengah kompetisi dengan teman-teman dan anggota keluarga yang lain akan menolong anak menemukan dirinya. Masa depan anak akan bertumbuh bersama proses pembentukan kepribadiannya. Di samping semua bekal fasilitas ilmu, bimbingan tsaqofah Islam menjadi sangat penting dalam membekali anak untuk mampu mengaktualisasikan kemandiriannya. Semoga Sa'ad akan menemukan citra dirinya kembali tumbuh bersama semakin baiknya kemandirian dan kepribadian Islamnya. Aamiin Ya Mujiib ad-Du'a.


Bumi Salamodin
Jumat, 24 Februari 2017

#Hari3
#GameLevel2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...