Langsung ke konten utama

CHALLENGE #6; LEVEL #2; MANDIRI SEBAGAI SINGLE PARENT SAAT SUAMI JAUH

Jam menunjukkan pukul 14.30 WIB ketika di luar rumah hujan turun. Kian lama hujan kian deras, diselingi cahaya kilat dan suara petir menggelegar. Kalaulah bukan demi putri tercintaku yang sedang menunggu dijemput pulang dari sekolah, tentu berat rasanya aku melangkahkan kaki keluar rumah di tengah kondisi hujan lebat dengan udara yang cukup dingin ini. Namun naluri kasih sayang dan tanggung jawabku sebagai ibu mengalahkan apapun tantangan yang datang menghadang. Aku pun segera mengambil jas hujan dan helm, mengenakan keduanya, lalu menyiapkan sepeda motor kesayanganku. Setelah mesin motor kunyalakan, meluncurlah aku di atas kendaraan roda dua itu menembus derasnya butiran air hujan yang turun ke bumi. Angin dan jutaan butiran air hujan menerpa kencang wajah dan tubuhku, menyisakan tetesan-tetesan air hujan yang membasahi wajahku dan membuat basah kuyup jilbab bagian bawahku. 

Sembilan hari sudah aku mengantar-jemput Zahwa dan Shafa guna belajar di sekolah. Jarak rumah ke sekolah memang agak jauh. Biasanya sang ayah yang bertugas pagi hari mengantarkan kedua putriku ke sekolah, sedangkan aku mendapat bagian menjemput keduanya saat pulang dari sekolah. Berhubung sembilan hari ini sang ayah sedang bertugas di luar kota, kali ini tugasnya di kota Rembang, Jawa Tengah, otomatis aku sendirilah yang harus menjalankan tugas mengantar-jemput keduanya pulang dari sekolah. 

Tanpa kehadiran sang ayah di tengah keluarga, bukanlah hal baru bagiku dan anak-anak. Sang ayah kerap mendapat tugas proyek ke luar kota, bahkan ke luar Jawa. Sekali tugas biasanya menghabiskan waktu 10-14 hari. Dan demikian juga tugas kali ini, sang ayah dijadwalkan bertugas di Rembang, Jawa Tengah selama 14 hari. Walhasil, aku sendirilah yang mengurus, menjaga dan mendidik keempat putra-putriku selama sang ayah pergi bertugas. Hal ini menuntut aku harus belajar mandiri sebagai single parent selama suami jauh. 

Tanpa kehadiran dan bantuan suami, aktivitas utamaku sebagai ummun wa robbatul bait kujalani dengan begitu penuh warna. Aktivitas harianku menjadi padat merayap. Pekerjaan rumah tangga, mulai dari membereskan rumah, mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai, menjemur pakaian, menyetrika pakaian, menyapu halaman rumah, termasuk menyiapkan anak-anak berangkat ke sekolah, hingga mengantar-jemputnya, semua itu aku lakukan sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga. Beberapa pekerjaan seperti mencuci pakaian kotor memakai mesin cuci dan membereskan tempat tidur dibantu oleh kedua putraku, Mush'ab dan Sa'ad. Di samping itu, aku pun menjalankan peran sebagai ibu untuk mengasuh, merawat, mendidik dan membina keempat putra-putriku tanpa peran suami di dalamnya. Di sisi lain, kewajibanku sebagai hamba Allah SWT untuk beribadah, menuntut ilmu dan tsaqofah Islam, menyebarkan dan mengamalkan ilmu, serta berdakwah di tengah masyarakat tetap aku jalankan. Ini menambah padat jadwal harianku. Lelah fisik, itu sudah pasti...! Capek pikiran dan bathin pun tak jarang kurasakan. Namun aku menyadari semua kelelahanku itu tidak akan sia-sia jika kulakukan dengan ikhlas dan cara yang benar sesuai aturan Allah SWT. Teringat dengan sebuah ungkapan dari shahabat Rasulullah Saw yang mulia, "Bila kita merasa letih karena berbuat kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan sirna dan kebaikan akan kekal. Bila kita bersenang-senang dengan dosa, maka kesenangan itu akan sirna dan dosa yang akan kekal." (Umar bin Khaththab). 

Di sela-sela kesibukanku sebagai single parent selama suami jauh, aku sengaja menyempatkan diri berselancar di sosial media untuk berbagi ilmu, kebaikan maupun opini dakwah, ataupun sekedar membaca dan mengikuti perkembangan berita politik nasional maupun internasional. Sesekali aku menonton berita di televisi. Kedua hal ini cukup ampuh untuk mengusir kepenatan setelah seharian beraktivitas, sekaligus sebagai refresing bagiku.

Di tengah tantangan luar biasa dalam mengasuh dan mendidik keempat putra-putriku dengan keistimewaannya masing-masing, alhamdulillah sampai hari ini ternyata "YES, I CAN...!" menjalankan peran sebagai single parent selama suami jauh. Meski beberapa kali air mataku akhirnya harus tumpah mengeluarkan beban berat yang menghimpit saat menghadapi perilaku putra-putriku yang seringkali menuntut kesabaran ekstra dalam menghadapinya. Namun semua itu tidak membuatku patah semangat, aku harus mampu menghadapi tantangan sebesar apapun. Bukankah aku memiliki Allah SWT yang Maha Besar dibandingkan segala tantangan yang ada? Dan satu hal berharga yang kutemukan dalam peranku sebagai single parent selama suami jauh ini adalah aku tumbuh menjadi pribadi yang mulai mandiri. Masih tersisa lima hari ke depan hingga suami menyelesaikan tugasnya di luar kota. Aku berharap Allah SWT senantiasa memberiku keikhlasan, kekuatan, kesehatan, kesabaran dan kemudahan serta petunjuknya dalam menjalankan semua peran dan kewajibanku di muka bumi ini. Aamiin Ya Mujiib ad-Du'a. 


Bumi Salamodin
Selasa, 28 Februari 2017

#Hari6
#GameLevel2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHALLENGE #14, LEVEL 3, MENATA TAMAN DEPAN RUMAH

Family project hari ini adalah MENATA TAMAN DEPAN RUMAH. Aktivitas ini sudah berjalan dua hari. Hobby saya berkebun dimulai sejak lima bulan lalu tatkala pembangunan rumah baru kami selesai dilaksanakan. Halaman depan rumah hanya dihuni pohon mangga yang sudah ada sejak rumah belum dibangun. Kondisi ini menyisakan ruang kosong di depan rumah kami. Beberapa bulan lalu saya mencoba menanam beberapa tanaman hias di dalam pot. Selanjutnya saya menata pot-pot ini di bawah pohon mangga di halaman depan rumah kami. Selain itu bapak saya menanam pohon kersen depan rumah dimaksudkan untuk meneduhkan halaman depan rumah dengan dedaunannya yang rimbun ketika pohon itu besar nanti. Rencananya pohon mangga yang sudah sangat besar di halaman depan rumah akan ditebang karena akarnya yang sangat dekat teras depan rumah dikhawatirkan akan menjalar dan merusak pondasi bangunan rumah dari bawah tanah. Dalam waktu lima bulan, pohon kersen itu tumbuh subur dan membesar. Saya pun menanam pohon pinus dan dua...

CHALLENGE #1; LEVEL #2; MELATIH KEMANDIRIAN ANAK MELALUI KEGIATAN SEDERHANA

Mengajarkan sikap mandiri pada keempat putra dan putri saya dengan keistimewaannya masing-masing adalah suatu tantangan tersendiri bagi saya. Hal ini membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, teknik yang berkualitas, serta kesabaran dalam menjalaninya.  Dalam hal melatih kemandirian pada anak ini, saya berpegang pada prinsip membiasakan anak melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana. Harapannya, anak akan melakukan kegiatannya ini dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan tanpa merasa terbebani. Dari tindakan tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kemandirian pada anak. Di samping itu, dalam melatih kemandirian pada anak ini, orang tua harus memiliki peran dan contoh yang baik bagi anak, mengingat anak -khususnya pada usia dini- akan mudah meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Pada hari pertama melatih kemandirian pada anak ini, saya menargetkan untuk memulainya dari putra pertama dan putra kedua. Sehari sebelum saya mulai melatih kemandirian kedua ...

ALIRAN RASA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Ada api semangat yang menyala memenuhi relung jiwa dan benakku saat mendapat tantangan family project di kelas Bunda Sayang Ibu Profesional ini. Sebuah tantangan yang istimewa bagiku karena di sinilah diri ini menemukan kembali arti peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Sebuah peran yang sekian lama seakan tenggelam di antara puing-puing harapanku yang terserak. Sebuah rasa keterpurukan yang kerap hadir dan menghantui hari-hariku saat begitu banyak waktu berkualitas yang hilang selama 9 tahun membesarkan keempat putra-putriku. Berawal dari kesibukanku menangani sektor publik yang seringkali memalingkan perhatian dan konsentrasiku dalam mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putriku. Berlanjut adanya keterpisahan fisik dengan kedua putraku saat keduanya menjalani boarding school di Bekasi. Ditambah sakit yang pernah menghantarkanku terbaring 9 bulan lamanya plus tiga tahun lebih masa recovery pasca sakit, membuatku tidak mampu optimal mengurus keemp...